Friday, 23 November 2018

Tips Bekerja di Rumah Tanpa ART



"Mah, cari pembantu aja lagi deh." 

Saran dari suami saya kembali terdengar, saat saya memintanya untuk membantu mengangkat ember berisi baju yang akan dijemur. 

"Sudah saatnya Mamah mendelegasikan sebagian pekerjaan ke orang lain," katanya lagi.

Hm, bilang aja nggak mau bantuin kerjaan istri. Tapi saya maklum sih, karena suami baru sampai di rumah jam 8-9 malam. Masa langsung disuruh angkat ember yang berisi jemuran baju hehehe....

Sudah hampir 4 tahun ini saya tidak memakai jasa asisten rumah tangga. Si bibi yang terakhir bekerja di rumah saya itu berhenti karena hamil lagi di saat usianya sudah 40 tahun. Kondisinya kurang sehat karena ngidam, jadi saya berhentikan saja khawatir kenapa-kenapa nanti saya yang disalahkan.

Sejak anak pertama berusia 7 bulan, saya memakai jasa ART berganti-ganti. Ada yang menginap, ada yang hanya setengah hari. Walaupun saya hanya bekerja di rumah sebagai penulis dan blogger, saya kerepotan mengurus 2 balita dan 1 bayi karena jarak usia ketiga anak saya itu berdekatan.

Memang kehadiran ART itu sangat membantu, tapi jadinya saya keenakan juga sih. Saat anak ketiga sudah berusia 3 tahun, saya stop pakai ART. Di hari-hari pertama tanpa ART, saya merasa beraaat syekali. Benar-benar luar biasa mengerjakan semuanya sendiri. Badan rontoook.... 

Sungguh, andai bisa resign jadi ibu rumah tangga, pastilah saya mau resign. Tapi itu kan rumah saya sendiri, anak-anak saya sendiri. Ya masa ditinggal. Kenapa saya tidak mencari ART lagi? Ada beberapa alasan:

Mendidik Diri agar Mandiri
Saya merasakan betul ketergantungan terhadap ART, sampai saya pernah merasa ngeri melihat tumpukan piring dan baju kotor akibat si bibi tidak datang. Rasanya seperti diteror monster. Cemas dan gelisah berharap si bibi segera datang.

Padahal, saya bisa mengerjakannya sendiri. Tapi karena sudah bergantung banget sama si bibi, ya sudahlah jadinya berharap terus dia mau datang. Ketika ternyata dia nggak datang karena suatu alasan, saya seperti melakukan pekerjaan yang sangat beraaat.... 

Setelah benar-benar tidak memakai ART, saya pun terbiasa melakukan semuanya sendiri. Tidak bergantung kepada orang lain. Jika nanti pakai ART lagi, kemudian si bibi berhenti lagi, saya khawatir akan kembali merasakan beratnya menyesuaikan diri dengan pekerjaan rumah tangga yang luar biasa itu. Jadi, lebih baik tak usah pakai ART supaya tetap terbiasa mandiri.

Mendidik Anak-anak agar Mandiri
Selain mendidik diri saya agar mandiri, saya juga mendidik anak-anak agar mandiri. Mereka tahu bahwa tidak ada si bibi yang membantu, jadi mereka harus belajar memenuhi kebutuhannya sendiri seperti mencuci sepatu sekolah, menyiapkan buku pelajaran, mengambil makan dan minum sendiri, menaruh baju kotor di mesin cuci, bahkan mereka sudah membantu pekerjaan ibunya seperti membuang sampah pada tempatnya dan menjemurkan pakaian. 

tiga anak lelaki saya

Memang, ketiga anak lelaki saya ini perlu proses yang lama untuk dididiknya. Sering kali mereka ketinggalan buku pelajaran, sepatu sekolah lupa dicuci, baju seragam tidak ada karena terselip di bawah kasur dan belum dicuci, sampai tidak memakai kaus kaki karena hilang atau terselip. 

Perlahan mereka menyadari bahwa ibunya tak selalu membantu sehingga mereka harus disiplin melakukan beberapa pekerjaan itu sendirian. Kelihatannya hal-hal itu sepele, padahal cukup membantu meringankan pekerjaan ibunya lho. Mereka juga tidak menjadi anak yang bossy dan suka main perintah, karena harus melakukannya sendiri. 

Mendidik Suami agar Membantu Pekerjaan Istri 
Sudah lazim di dalam masyarakat kita bahwa suami itu hanya mencari nafkah dan tidak perlu membantu pekerjaan ibunya di rumah. Oh, salah besar dong. Kalau di dalam agama Islam, Nabi Muhammad Saw memberikan teladan seorang suami yang suka membantu pekerjaan rumah tangga istrinya.

Memang, masih banyak suami yang enggan membantu pekerjaan istrinya. Suami saya juga awalnya begitu. Bahkan suka menunda-nunda kalau saya minta bantuan seperti membeli gas atau air galon dan mengangkat ember berisi cucian ke tempat menjemur pakaian yang ada di lantai atas.

Namun, setelah saya komplain dan dia juga melihat kesibukan istrinya, dengan penuh kesadaran dia pun membantu. Kalau hari libur seperti Sabtu dan Minggu, dia sigap membantu saya mengurus keperluan anak-anak.

Menjaga Privasi Keluarga
Banyak lho rahasia sebuah keluarga bocor di tangan asisten rumah tangga. Meskipun tidak semua asisten suka membicarakan majikannya, tapi berjaga-jaga supaya tidak terjadi kan lebih baik. Suami saya juga sebenarnya merasa tidak bebas bersikap di dalam rumah kalau ada "orang lain."  Intinya, kami berusaha menjaga privasi keluarga dengan tidak memakai jasa ART untuk saat ini. Mana tahu kan nanti saya butuh lagi jasanya.

Nah, lalu bagaimana tips bekerja di rumah tanpa asisten rumah tangga agar pekerjaan rumah tetap dikerjakan, anak-anak terurus, bahkan saya masih bisa tetap menulis di blog? Untuk menjawab tantangan bekerja di rumah tanpa ART, berikut tipsnya:

Buat Prioritas Pekerjaan 
Prioritas pekerjaan saya adalah yang penting urusan anak-anak beres. Misalnya, setrika baju utamakan baju seragam sekolah dan kantor dulu. Baju rumahan bisa nanti. Daripada menyapu dan mengepel dulu, lebih baik siapkan makanan untuk anak-anak.


Berdasarkan skala prioritas tersebut, akhirnya saya hanya menyetrika baju rumah seminggu sekali, mengepel seminggu sekali (kecuali penting, lantai sangat kotor sehingga harus dipel), memasak 3 kali seminggu (selebihnya, beli lauk matang). Pekerjaan utama yang saya dahulukan adalah mengantar jemput anak sekolah, mencuci piring, mendampingi anak belajar, menyapu lantai, menyiapkan sarapan, dan mencuci pakaian 2 hari sekali.

Jangan Menuntut Kesempurnaan 
Kita bukanlah robot yang harus sempurna dalam mengerjakan tugas rumah tangga. Jadi tak perlulah rumah selalu bersih dan kinclong karena disapu dan dipel 3x sehari. Anak-anak dilarang mengeluarkan mainannya. Makan tak boleh berantakan. Capek dan stres sendiri nantinya. Maafkanlah diri sendiri bila belum selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Buat Masakan yang Praktis dan Cepat
Urusan memasak ini kalau dituruti harus sempurna juga bisa makan waktu. Saya memilih masak yang praktis dan cepat asal memenuhi syarat gizi. Untuk sarapan misalnya, saya membuat nasi goreng, roti bakar, atau burger. Kadang-kadang membeli lontong sayur atau nasi uduk, kenapa tidak?

Memasak sarapan yang praktis

Untuk makan siang, anak-anak sekolah sampai sore jadi makan di sekolah berlangganan katering. Makan malam, saya kadang memasak ya 3x seminggu lah. Menunya juga yang gampang saja seperti ayam goreng, sayur bayam, sayur sop, gulai daging, dan lain-lain. Untungnya suami dan anak-anak tidak protes dan mensyukuri semua masakan yang dihidangkan.

Masak sarapan. Talenan lucu dari Claris Home.

Kalau tidak sempat masak karena saya sedang banyak deadline tulisan, ya saya beli lauk matang saja. Alhamdulillah penjualnya tetangga sendiri sehingga terjamin kebersihannya.

Beristirahatlah
Jangan memaksa diri untuk mengerjakan semuanya dalam waktu 24 jam. Kita juga harus beristirahat. Biasanya saya istirahat dengan nonton drakor dan makan kudapan. Wah rasanya sudah surga dunia deh. Kegiatan itu juga mengurangi rasa bosan saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang monoton.

Istirahat sejenak, nonton drakor sambil ngemil

Drama Korea dan Kudapan pengusir lelah. Toples lucu dari Claris Home. 

Di sela-sela mengerjakan tugas rumah tangga, saya masih sempat menulis di blog yang saya kerjakan via handphone. Ternyata kalau berniat kuat, pasti bisa kok. Alhamdulillah untuk saat ini saya masih bertahan tanpa asisten rumah tangga. Sebuah pekerjaan yang sangat menantang, bukan?

Menulis di blog via smartphone

26 comments:

  1. MashaAllah~
    Memang bahagia itu tidak dicari ya, kak...tapi diciptakan.
    Suka banget sama time managementnya.

    ReplyDelete
  2. Widih, harus banget belajar time tablenya nih biar enggak kaget ketika berumah tangga dan enggak pakai ART 😁

    ReplyDelete
  3. Saya lebih senang tanpa asisten rumah tangga. Memang secara fisik lebih capek. Tetapi, gak terlalu capek hati. Kalau punya asisten malah kebalikannya. Capek hati saya meningkat, capek fisik berkurang

    ReplyDelete
  4. Semua berawal dari niat,manajemen waktu dan disiplin... Itu yg saya sarikan dari uraian mba.. Jempol..

    ReplyDelete
  5. Widiiii super mom nih mba'nya bisa melakukan semuanya, aaa jadi termotivasi nih 😍

    ReplyDelete
  6. ada ART emang bikin risih ya Mbak, gak bisa bebas siih, secara ada orang asing di dalam rumah.
    tanpa ART semua anggota keluarga jadi bisa mandiri dan bertanggung jawab atas diri masing-masing :)

    ReplyDelete
  7. Aku pun sejak menikah nggak ada ART, dibuat enjoy aja, walaupun memang kerjaan ibu rumah tangga tuh tiada akhir ya, yang penting bisa leyeh-leyeh sambil nonton drakor ya

    ReplyDelete
  8. Keren banget mba. Memang agak capek kalau tidak ada ART ya tapi dibalik itu suami dan anak-anak bisa ikutan bantu-bantu ya mba hehehe

    ReplyDelete
  9. Aku sepakat sih soal privasi haha. Aku juga gaada niatan pake Art nanti. Gosok baju bs diantar ke laundry. Yg lain sepertinya tertangani

    ReplyDelete
  10. Di keluargaku gak pakai ART. Mungkin nanti kalau berumahtangg jug kerjain sendiri. Memang agak ribet, tapi ya disesuaikan sama kemamampuan kita

    ReplyDelete
  11. Aku pernah ngalamin yang sama, ketergantungan dengan ART. Alhamdulillah udah 11 tahun tanpa ART dan lancar semuanya. Tapi aku masih dibantu nyetrika sih sama saudara, yg aslinya aku sengaja minta bantuan untuk ngebantu keuangannya, hihi... simbiosis mutualisme

    ReplyDelete
  12. Saya pun udah lebih enjoy tanpa ART.
    soalnya pengalaman waktu masih di rumah ortu, ART malah sukanya bikin KZL!

    ReplyDelete
  13. Nyari ART memang susah susah gampang. Aku dulu pakai tenaga ART nginap bisa sampai 3-6 tahun kerja di aku. Tapi abis lebaran aku udah nggak pakai ART nginap. Sabtu Minggu pun ArT libur. Ya dinikmati aja deh akhirnya. Hehhe

    ReplyDelete
  14. Duuh dapur barunya bikin mupeng, eh. Aku juga nih mb Leyla ga pernah lagi pake art

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah banget suamiku mau melakukan pekerjaan istri. terb=masuk belanja ke pasar makanya aku sangat terbantu sekali

    ReplyDelete
  16. Saama akupun dah lama gak pakai IRT sejak anak usia 4th yg besar smp sekarang Alhamdulillah aman terkendali semua ( utie Adnu)

    ReplyDelete
  17. Waktu aq kecil kluargaku jg biasa pakai ART, sekarang engga lagi. Karena klo pakai aq sndiri yg bayar �� duh syg duit bgt kan, cm sendirian drmh masa pakai Art

    ReplyDelete
  18. Serious deh jd IRT it time management nya harus bagus ya, kalau gak bisa keteteran deh

    ReplyDelete
  19. Yeaah, nemu tmn satu lg yg ngeblog dr hapeee. Hahah

    ReplyDelete
  20. Aku pun ngeblog lewat hape. Hehehe. Kalau di kampungku jarang banget pakai jasa ART. Karena nggak mampu bayar sih soalnya.

    ReplyDelete
  21. Aku juga nggak pake ART..pekerjaan rumah dibantu sama suami dan anak sulung yg sdh besar. Alhamdulillah nggak keteter. Kalopun ada yg keteter biasanya ditunda dan dikerjakan bareng2. Cucian numpuk ada laundry langganan yg siap nyuciin hihi.

    ReplyDelete
  22. aku pun tanpa ART nih mba sekarang..semuanya kita bagi bareng dengan suami dan 2 anakku, jadi kita gotong royong beberes rumah, masak. cuci, setrika dan sebagainya. Alhamdulillah lancaar

    ReplyDelete
  23. Aduh duh nonton drakor di hape itu ngeselin Leyla..ga maksimal liat wajah oppanya

    ReplyDelete
  24. Jadi ibu rumah tangga menurutku pekerjaan dan profesi paling asyik buatku, meski ga pernah pake art di rumah

    ReplyDelete
  25. Aku biasa gak pernah pakai. Tp ditinggal suami dinas dan aku sakit jdlah sebulan ini terpaksa bgt pake huhu

    ReplyDelete
  26. Daebaaak, Mba Ela. Keren banget deh. Nggak ada ART juga lebih nyaman karena privasi keluarga bener-bener terjaga ya Mba. Dan setuju banget, menempa anggota keluarga jadi lebih mandiri :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^