Sidiq sedang bernyanyi |
Apakah seorang pemimpin itu
adalah Presiden? Direktur? Jenderal? Bagaimana jika kelak anak kita “hanya”
menjadi orang yang “biasa-biasa” saja? Apakah kita akan memperlihatkan wajah
kecewa di hadapannya?
Ketika mengandung anak pertama,
Ismail (6 tahun), suami saya pernah mengatakan keinginannya semoga kelak Ismail
menjadi Presiden. Ah, orang tua mana sih yang tidak berharap begitu? Saya hanya mengaminkan saja, sambil
berusaha mewujudkan cita-cita itu. Suami pun sangat mendukung pencapaian
keinginannya. Dia selalu memberikan yang
terbaik selama saya mengandung anak-anaknya. Kini, saya telah memiliki tiga
orang anak laki-laki, Ismail (6 tahun), Sidiq (5 tahun), dan Salim (1 tahun).
Mendidik Calon Pemimpin Sejak dalam Kandungan
Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan |
Demi bisa memberikan nutrisi yang
cukup untuk calon bayi kami, suami membelikan makanan yang enak-enak, apa saja
yang saya mau. Cokelat, es krim, biskuit cokelat, es campur, pecel lele, dan
lain-lain. Sayang, semua makanan itu menggeletak saja di samping tempat tidur.
Sama sekali tidak ada keinginan untuk menyantapnya. Kalau tidak hamil sih, saya
termasuk “rakus” dalam hal makanan.
Suami juga membelikan susu hamil.
Saya sudah meminum susu hamil, dua minggu sebelum dinyatakan hamil.
Alhamdulillah, dengan kondisi mengidam yang parah, insya Allah janin saya sudah
punya “tabungan nutrisi.” Dan memang dasarnya saya ini suka minum susu, hanya
susu hamil saja yang berhasil masuk ke pencernaan.
Itu dalam hal nutrisi. Dalam hal
pendidikan anak, saya yakin bahwa pendidikan anak dimulai sejak masih dalam
kandungan. Setidaknya saya berusaha menerapkan hal-hal berikut ini:
- Berkata dan bertingkah laku baik: konon katanya perbuatan ibu selama hamil bisa bisa menular ke janinnya. Saya berusaha berkata dan bertingkah laku baik, agar kelak anak saya juga begitu.
- Memperdengarkan ayat-ayat suci Al Quran: selain mengaji sendiri, saya juga memasang headphone yang berisikan murottal. Saya bisa merasakan janin di perut bereaksi terhadap lantunan ayat-ayat suci dengan bergerak-gerak secara lembut. Berbeda rasanya ketika saya tak sengaja mendengarkan lagu dangdut yang mengentak-entak di sebuah acara pernikahan, janin saya bergerak cepat dan seperti gelisah.
- Membaca buku-buku bermanfaat: konon bisa menstimulasi kecerdasan otak janin. Pada dasarnya, saya memang suka membaca buku, bahkan menulis. Saya menyeimbangkan kedua kegiatan itu bukan saja sebagai hobi, melainkan juga merangsang otak agar selalu berpikir.
Ibu adalah Pendidik Calon Pemimpin
Ibu adalah sekolah pertama bagi
anak-anaknya. Pada awal kehidupannya, anak-anak akan mencontoh perilaku ibunya
dengan sejujur-jujurnya. Jadi, bagaimana ibu bersikap, akan mempengaruhi
anak-anaknya. Sebagai Ibu, saya juga
masih memiliki banyak kekurangan dalam mengasuh dan mendidik anak-anak, tetapi
saya berusaha memperbaiki kekurangan itu. Selain membaca buku-buku dan
situs-situs parenting, saya juga terus-menerus berdoa meminta diberi kemudahan
oleh Allah Swt agar saya dapat menjadi ibu yang baik dan mendidik anak-anak
dengan baik.
Menjadi ibu itu tidak mudah,
apalagi saya tidak masuk sekolah “menjadi orang tua.” Ketiga anak saya memiliki kepribadian yang
berbeda, yang sudah berlangsung sejak mereka masih berada di dalam kandungan.
Lho? Bagaimana saya bisa mengetahuinya? Ya, karena saya ingat proses mengandung
dan melahirkan mereka memiliki perbedaan.
Anak kedua, Sidiq, sejujurnya
adalah anak yang lahir di luar rencana karena dia lahir hanya setahun setelah
kakaknya lahir. Ketika hamil Sidiq, kakaknya baru berusia 3 bulan. Semula saya
bingung, bagaimana kelak bila Sidiq sudah lahir? Sanggupkah saya mengasuh dua bayi
dalam waktu bersamaan, sedangkan tak ada pembantu atau pengasuh yang membantu?
Saya berusaha untuk berpikir positif, tetap menerima kehadiran Sidiq dengan
bahagia, dan melakukan kewajiban sebagai ibu sebagaimana ketika mengandung
Ismail.
Berenang bersama Ayah |
Alhamdulillah, kemudahan sudah
saya rasakan sejak mengandung Sidiq. Berbeda dengan kakaknya yang sudah
mengidam mual muntah di usia kandungan 2 minggu sampai 5 bulan, saya hanya
merasakan mengidam selama sebulan, pada usia kandungan 3 bulan, ketika hamil
Sidiq. Lalu, saat melahirkan pun, saya hanya membutuhkan waktu setengah jam.
Setelah lahir, saya memberikan
ASI penuh kepada Sidiq selama 6 bulan sebagai dukungan nutrisi, dilanjutkan
dengan MPASI dan ASI. Sayangnya, Sidiq agak sulit memakan MPASI, jadi dia lebih
banyak minum ASI. Syukurlah, berat badannya tetap bagus bahkan tulangnya kuat
dan padat. Dia suka bergerak aktif, sampai beberapa kali terjatuh.
Perkembangannya juga cepat. Dia cepat menangkap “pelajaran” baru. Kini dia
sudah di TK A. Untuk kekuatan fisiknya, suami juga sering mengajak anak-anak berolahraga, baik itu bermain bola di lapangan depan rumah ataupun berenang. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, saya membawa anak-anak berjalan-jalan keliling komplek, membeli sayur mayur sambil menjemur mereka di bawah sinar matahari pagi yang kaya Vitamin D.
Setelah lepas dari ASI, saya memberikan tambahan susu sesuai dengan umur mereka. Sidiq sangat suka minum susu. Segala jenis susu pasti diminumnya, baik itu susu bubuk, susu UHT, susu sapi murni, maupun susu kedelai.
Setelah lepas dari ASI, saya memberikan tambahan susu sesuai dengan umur mereka. Sidiq sangat suka minum susu. Segala jenis susu pasti diminumnya, baik itu susu bubuk, susu UHT, susu sapi murni, maupun susu kedelai.
Ada beberapa kejadian yang membuat saya terkesan berkaitan dengan sikap kepemimpinan Sidiq:
Pemimpin Itu Berdiri di Depan
“Ayo, sekarang siapa yang mau
jadi pemimpin barisan?” Ibu guru bertanya kepada anak-anak PAUD yang berbaris
di hadapannya. Anak saya Sidiq, masih menjadi anak yang pemalu. Bukannya
berbaris bersama teman-temannya, dia malah menggelendoti lengan saya. Saat itu,
saya berdiri di samping depan barisan anak-anak PAUD.
“Ayo, Sidiq.. ikut baris dong….”
Saya mendorong perlahan tubuh Sidiq, sampai dia terpisah dengan tubuh saya dan
posisinya berada di depan barisan teman-temannya. Sidiq meliuk-liukkan tubuhnya, sebagai sebuah
sikap malu-malu, tapi anehnya dia tidak memberontak ataupun melarikan diri. Dia
bersedia berdiri di depan barisan teman-temannya dan menjadi pemimpin barisan!
Sidiq mengikuti intruksi Bu
Gurunya selama memimpin barisan. Kejadian ini mungkin sepele buat ibu-ibu lain,
tapi bagi saya sangat luar biasa. Itu pertama kalinya Sidiq mau berdiri di
depan dan memimpin barisan. Biasanya, dia masih harus ditemani oleh saya dan
tak mau mengeluarkan sepatah kata pun.
Pemimpin Itu Melayani
Rutin membacakan buku yang bermanfaat |
“Ma, tadi Dede ngeliat temen Dede
buang sampah sembarangan, terus Dede ambil aja sampahnya dan buang ke tong
sampah….”
Hari Jumat itu, sepulang sekolah,
tiba-tiba saja Sidiq bercerita mengenai perbuatan baiknya membuangkan sampah
temannya. Saya terkejut sekaligus terharu. Tak menyangka Sidiq menyerap ucapan
selintas yang sering saya ucapkan bila anak-anak hendak membuang sampah
sembarangan. Saya juga pernah membacakan buku cerita tentang anjuran untuk
tidak membuang sampah sembarangan. Sidiq memang suka dibacakan buku cerita dan
dia bisa menghapal isinya, lalu menceritakannya kembali seolah-olah dia sudah
bisa membaca. Saya bahagia sekali mengetahui bahwa dia bukan hanya bisa
menceritakan kembali, melainkan juga mempraktekkannya.
Pemimpin Itu Dapat Bekerjasama
“Ayo, kalau sudah selesai
mainnya, mainannya diberesin ya…” Saya mengingatkan Ismail dan Sidiq yang baru
selesai bermain. Seisi rumah berantakan karena mereka mengeluarkan semua
mainannya. Bahkan bantal-bantal kursi diturunkan ke lantai seolah-olah sedang
bermain batu pijakan.
“Kakak yang beresin bantalnya,
Dede yang beresin mainannya yaaa…” Ismail memberikan intruksi, dan dalam
sekejap, kedua anak saya telah membereskan benda-benda yang berceceran di
lantai. Mereka telah bekerjasama untuk membereskan mainannya. Ya, sebenarnya
mereka tidak selalu patuh seperti itu, tergantung suasana hati. Setidaknya hari
itu saya merekam kerjasama mereka dalam meringankan beban ibunya.
Pemimpin Itu Melindungi
Sidiq sangat perhatian terhadap adiknya, Salim. Di sekolah, ada seorang teman Sidiq yang sangat gemas dengan Salim, sampai pernah mencakar dan membuat bayi saya itu terjatuh (ketika saya sedang lengah). Sidiq akan melindungi adiknya dari temannya, berdiri di depan Salim untuk menghalangi temannya meraih Salim. Ketika jalan-jalan pun, tanpa saya sangka, Sidiq tetap memperhatikan Salim yang sedang senang jalan sendiri. Sidiq akan mengejar dan membimbing Salim untuk kembali kepada saya. Untuk ukuran anak usia 4,5 tahun, saya merasa sikap Sidiq itu sungguh menakjubkan.
Pemimpin Itu Melindungi
Siap Melindungi! |
Saya berharap kelak anak-anak saya menjadi
pemimpim, walaupun bukan secara status dan jabatan, setidaknya mereka dapat
memimpin diri sendiri menjadi orang yang berguna untuk diri sendiri dan orang
lain. Dan ketika saya tanyakan kepada mereka, kelak ingin menjadi apa, mereka
menjawab:
Sidiq: “Dede mau jadi Pemadam
Kebakaran!”
Ismail: “Kakak mau jadi Ultraman!”
Sidiq di Ultah Ke-4: Calon Pemimpin! |
Saya tersenyum. Menjadi apa pun
mereka kelak, insya Allah mereka tetap seorang pemimpin.
sepakat mba, gak peduli jadi apapun mereka kelak yg pasti mereka adalah pemimpin bagi diri mereka sendiri....
ReplyDeletebetul mba, apapun minta mereka, kita sebagai orangtua harus selalu mendukungnya :)
ReplyDeletedibaik para pemimpin besar ada seorang ibu^^,,,
ReplyDeleteIsmail koq sama sih sama syahdu? mau jadi ultraman :D
ReplyDeletewaah saingan keren nih...moga menang mak sipp
ReplyDeleteMba Sarah: Betul mb, semua orang adalah pemimpin yaa
ReplyDeleteMba Santi: selama itu positif dan baik ya Mbak..
Mba Hanna: betul sekali, mba :-)
Nda Syahdu: Hehehe.. nontonnya sama ya...
Mba Ida: aaamiin... semoga sama2 menang ya mb :D