Monday, 14 October 2013

Tak Perlu Tepuk Tangan dan Pujian untuk Sebuah Kebanggaan


Apa arti kebanggaan buat saya?

Kebanggaan itu ketika melihat Ismail mengikuti lomba peragaan busana di acara kartinian di sekolahnya.  Ismail adalah anak sulung saya. Usianya 6 tahun, bulan Desember nanti. Saya tak begitu mempersiapkan busananya, yang penting dia ikutan. Melihatnya bisa tampil di depan guru dan teman-teman sekolahnya saja sudah membuat saya senang, karena dia jarang bergaul dan cenderung pemalu. Busananya biasa saja, karena saya sudah kehabisan saat memesan di jasa persewaan baju adat. Saya tak memikirkan dia menang atau kalah, yang penting dia sudah maju ke depan. Pada akhirnya, dia memang tidak menang. Hanya mendapatkan piala keikutsertaan yang saya tebus dengan biaya keikutsertaan sebesar Rp 20.000.


Ismail dan baju adat Sunda, sebelum ikut lomba Kartinian
Saya memandangi piala itu dan terbersit penyesalan. “Duh, kenapa Ismail enggak menang ya?” Juga ada rasa sebal terhadap anak lain yang menjadi pemenang pertama. Lebih parahnya lagi, saya berburuk sangka terhadap anak itu, menganggap orang tuanya mengadakan kongkalikong dengan para juri supaya memenangkan anak itu. Saya lupa dengan niat awal, bahwa yang penting Ismail ikut serta dan bisa menampilkan keberaniannya maju ke depan. Keinginan untuk bisa membanggakan kemampuan Ismail telah memupus rasa syukur terhadap perkembangannya. 

Piala Keikutsertaan, bukan Piala Kemenangan
Kebanggaan itu ketika bisa melihat Ismail memenangkan lomba makan kerupuk dan mengumpulkan balon di acara tujuh belasan yang lalu. Seperti sebelumnya, saya hanya ingin melihatnya berani mengikuti perlombaan. Kemarin adalah pertama kalinya dia ikut lomba makan kerupuk. Dia sudah terlihat sangat antusias dan berharap bisa menang, karena menginginkan hadiah yang dijanjikan. Saya juga berharap dia menang. Bukan karena hadiah, tetapi kebanggaan yang akan saya peroleh sebagai ibu dari seorang pemenang. Sayangnya, di lomba makan kerupuk, dia tidak menang. Maka, di lomba mengumpulkan balon, saya mencoba membantunya untuk menang. Lombanya mudah saja. Hanya mengumpulkan balon berwarna sama. Ada tiga warna: merah, biru, kuning.  Sayangnya, Ismail mengambil balon berwarna sama dengan peserta lain. Dia juga agak lambat berpikir untuk mengambil balon yang harus diambilnya. Lagi-lagi Ismail kalah dalam perlombaan. Ada rasa kecewa yang menyelinap di hati saya. Saya lupa dengan niat awal, bahwa yang penting Ismail berani mengambil bagian dalam perlombaan itu.

Apa arti kebanggaan buat saya?

Sejak kecil, saya tak pernah memiliki perasaan bangga terhadap diri sendiri karena orang-orang di sekitar selalu mengecilkan saya. Saya dianggap tak memiliki kemampuan dan tak layak menjadi pemenang. Saya tak ingin mengalah pada tekanan orang-orang. Saya berusaha memunculkan potensi diri yang bisa membuat saya bisa membanggakannya. Apakah saya berhasil? Ya, beberapa kali saya berhasil mendulang kemenangan. Beberapa orang juga  telah memberikan pengakuan. Apakah saya bangga? Mungkin iya, tetapi perasaan bangga itu seperti fatamorgana di tengah gurun sahara. Rasa haus yang ingin selalu dipenuhi, candu yang tak henti menagih. 

Melelahkan sekali kalau kita terus memikirkan pengakuan dari orang lain. Kepuasan itu dari sini (hati), bukan dari sana. Apa sih arti kebanggaan buat elo?

Apa yang bisa dibanggakan dari seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari tinggal di rumah dan bergelut dengan pekerjaan rumah tangga serta mengasuh anak? Tak ada orang yang melihat prestasinya, kecuali anak-anaknya. Para orang tua pun tak ingin kelak anak perempuannya “hanya” menjadi ibu rumah tangga.

“Kamu sudah Bapak sekolahkan tinggi-tinggi, larinya cuma ke dapur!”
“Jadi perempuan itu jangan di rumah saja! Harus punya aktivitas di luar rumah juga!”
“Walaupun di rumah, kita juga harus punya usaha sendiri, supaya gak selalu tergantung sama suami.”

Dan akibatnya, beberapa kali saya membaca curahan hati para ibu rumah tangga yang berusaha memperlihatkan eksistensinya di tengah menumpuknya pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. Beberapa berusaha menghibur dirinya sendiri. 

“Mungkin sekarang saya tidak eksis, karena sulit sekali bisa eksis di tengah menumpuknya pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. Tetapi, itu lebih baik daripada saya ketinggalan momen melihat anak saya mengulang bacaan Al Qurannya….” 

Kalau tidak bisa eksis, lalu kenapa? Apa tujuannya eksis? Untuk “kebanggaan”?
Ketika perasaan bangga itu mulai masuk ke dalam hati saya, saat itulah saya diserang takabur, sombong, dan berkecenderungan meremehkan orang lain. Keinginan untuk membanggakan diri sebagai orang tua yang sempurna, membuat saya meremehkan hal-hal kecil yang sudah dicapai oleh anak saya. 

Apa arti kebanggaan buat saya? 

Kebanggaan itu adalah ketika hati saya bahagia menerima apa adanya diri saya, bukan tepuk tangan atau pujian bombastis. Berdamai dengan diri sendiri manakala tak semua mimpi dapat tercapai, yang terpenting adalah bahwa saya sudah berusaha untuk mencapainya sebab hanya sampai di situ kemampuan saya. Juga ketika saya bahagia menerima apa adanya anak-anak saya.  Tidak memaksakan mimpi-mimpi saya kepada mereka, sebab mereka berhak memiliki mimpi sendiri. 

Mimpi saya tak harus berbenturan dengan kepentingan anak-anak


Ketika kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, tak berharap pengakuan dari orang lain, maka hasilnya akan lebih membahagiakan. Sekalipun kita tak mendapatkan apresiasi yang sepadan, kita akan tetap memperjuangkan mimpi itu, sebab kita tahu bahwa "nyawa" kita ada di sana. 

Credit
Sebagaimana cerita Lena dalam novel terbaru Evi Sri Rejeki “CineUs.”  Demi menang di Festival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tapi juga untuk mempertahankan klub film sekolahnya yang kurang didukung oleh pihak sekolah. 

Intip book trailernya di sini, hasil kolaborasi Noura Books, LayariaTV, Komunitas Web Series Indonesia, SmartFren, dan CJ’ Camelia Jonathan. Dari melihat book trailernya saja, saya jadi bisa mengartikan kebanggaan yang lebih hakiki:


Melelahkan sekali kalau kita terus memikirkan pengakuan dari orang lain. Kepuasan itu dari sini (hati), bukan dari sana. Apa sih arti kebanggaan buat elo?


  Nah, apa arti kebanggaan buat kamu? Ikuti lomba artikel CineUs Book Trailer di sini.

25 comments:

  1. daleeem tulisannya:) suka fhoto mba ela barengan anak-anak itu....^_^

    ReplyDelete
  2. Pengalaman yang mirip dengan saya, ibu saya yang pernah bilang begitu.
    Memang kita harus berdamai dengan diri sendiri ya mbak supaya bisa jujur dan menyikapi segala sesuatunya dengan lebih bijak ...

    ReplyDelete
  3. senada dengan pengalaman hidup saya meskipun masih banyak yang bedanya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... tentu saja banyak bedanya, mb :D

      Delete
  4. Bener mbak. Ga perlu pujian dari orang sekitar, lakukan dgn hati ikhlas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, ikhlas bikin hati tenang ya mba :-)

      Delete
  5. Terharu, dan ke hati tulisannya Mbak.

    Suatu hari, sepuluh tahun yang lalu, saya menemukan tulisan, "Ketika manusia menilai kita dengan nilai yang tinggi, seberapa besar nilai kita di hadapan Allah."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah...
      betul sekali, mb. Klo mikirin pandangan manusia, gak akan selesai :-)

      Delete
  6. yah proses menjadi ibu dari anak anak yg terlihat biasa memang kdang juga bikin greget, apalagi kita dirumah. tapi dengan yakin pasti ada potensi anak yg blm kita tahu, hal itu bikin saya tenang. ketika dia diremed matematika tapi ulangan PAI nya dapat 100. jadi ya ... semuanya terlihat seimbang heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe.. Bu Adya ini pasti lebih berpengalaman deh.

      Delete
  7. oo buat lomba, perasaan yg bagian Ismail dan piala pernah baca dulu, tapi bukan buat lomba, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, udah pernah, tp cuma soal piala itu.

      Delete
  8. Apa ya yang menjadi kebangganku? *mikir keras
    Moga menang

    ReplyDelete
  9. Menyentuh hati mb...
    Salam kenal ya :)

    ReplyDelete
  10. memiliki anak-anak adalah sebuah kebanggaan ya mbak ;)

    ReplyDelete
  11. Memang yang paling sulit itu berdamai dengan diri sendiri. Mbak hebat sudah bisa melakukan itu :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^