Friday, 18 October 2013

Anakku Sehat Tanpa Dokter: Lepaskan Ketergantungan dari Berobat ke Dokter

credit

Judul: Anakku Sehat Tanpa Dokter (ASTD)
Penulis: Sugi Hartati, S.Psi
Penerbit: Stiletto Book, April 2013
Halaman: 201
ISBN: 978-602-7572-14-0
Harga: Rp 40.000

Terakhir kali saya pergi ke dokter anak, rasanya mengesalkan sekali. Saya harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bagian lima menit memeriksakan kondisi anak saya dan mendapatkan resep dokter.  Mengantri di dokter anak adalah pekerjaan menjemukan. Entah di dokter anak yang mana saja, selalu mengantri. Sepertinya banyak orang tua yang percaya bahwa anak sakit, harus ke dokter, walaupun penyakitnya umum, semacam flu, batuk, dan pilek.


Ketika membaca judul buku ini, “Anakku Sehat Tanpa Dokter,” rasanya seperti sedang menampar saya. Apalagi ketika mulai membaca bagian-bagian awal di mana penulis memaparkan mengenai perlunya melepaskan ketergantungan kepada dokter, “aduh, ini sih nyindir saya banget….” Sepertinya bukan hanya saya yang tersindir.

Penulis bukan seorang dokter, melainkan seorang ibu rumah tangga dengan tiga  orang anak. Ulasan di buku ini lebih berdasarkan pengalamannya dalam menangani penyakit anak-anaknya. Penyakitnya pun penyakit yang umum diderita anak seperti flu, batuk, pilek, diare, mual, panas, demam, dan lain-lain. Bukan penyakit berbahaya yang membutuhkan bantuan dokter. Tidak semua penyakit harus ditangani oleh dokter, orang tua pun bisa menangani penyakit yang umum diderita anak.

Tidak percaya? Setidaknya penulis sudah mempraktekkannya sendiri  kepada anak-anaknya. Contohnya ketika anaknya dan anak tetangganya sakit bersamaan dengan penyakit yang  sama, penulis memilih menerapi anaknya di rumah dengan cara-cara terapi yang dia yakini, ketimbang membawanya ke dokter. Toh, itu penyakit yang umum terjadi pada anak-anak. Sedangkan tetangganya membawa anaknya ke dokter. Hasilnya? Dokter meminta anak tetangganya agar diopname selama lima hari dan tentunya menghabiskan biaya berjuta-juta. Kedua anak itu sama-sama sembuh. Bedanya, anak penulis tak membutuhkan biaya kesembuhan sampai berjuta-juta.

Apakah kita tidak boleh ke dokter? Tentu saja boleh, tetapi tak semua penyakit harus dibawa ke dokter. Dokter cukup menjadi tempat untuk mengkonsultasikan mengenai penyakit anak kita, tak mesti meminta obat. Sedangkan paradigma yang sekarang berkembang, kita berniat pergi ke dokter untuk mendapatkan obat. Bagaimanapun, obat dibuat dari bahan kimia yang harus berhati-hati dalam penggunaannya, karena beberapa obat dapat menimbulkan reaksi alergi yang justru memparah kondisi penyakit. Penulis memberikan masukan-masukan mengenai gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit serta cara menerapi penyakit tanpa obat, diantaranya dengan mengonsumsi makanan bergizi yang bisa memberikan efek pengobatan dan melakukan pemijatan pada bagian-bagian tubuh tertentu.

Buku ini benar-benar bermanfaat untuk para ibu yang diamanahi mengurus anak-anak. Ketika anak sakit, ibulah yang paling menderita. Bahkan, sudah jamak terdengar ibu-ibu yang ingin penyakit anaknya dipindahkan saja ke dirinya, daripada melihat anaknya yang sakit. Yang benar adalah, ibu harus tetap sehat agar bisa menyembuhkan anaknya. Ibu juga yang seringkali menjadi kambing hitam bila anak sakit, karena dianggap tidak memperhatikan kesehatan anak. Di Bab V, kita akan disajikan tips-tips menangani penyakit anak tanpa dokter: Panas/ Demam, Diare, Infeksi Telinga, Asma (Sesak Napas), Sariawan, Amandel, Batuk, Pilek, Gatal-Gatal, Sakit Kepala, Muntah-muntah, Sakit Perut, Sakit Gigi. Kalau kita ingin lebih afdal, kita boleh tetap ke dokter untuk mengkonsultasikan penyakit anak kita. Beberapa obat juga boleh dikonsumsi dalam kondisi darurat.

Intinya, bijaklah dalam menggunakan jasa dokter dan mengonsumsi obat, karena rahasia sehat ada pada gaya hidup sehat (makanan dan kebersihan).


Saya dan Sidiq (4,5 tahun) baca buku ASTD

18 comments:

  1. iya mbak buku ini bener2 manfaat.. sy suka praktek beberapa resep juznya.
    dan sekarang jd gak grusa grusu lagi kalau anak sakit tergesa maunya ke dokter.. dapet ilmunya penanganan pertama. alhamdulillah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mb, ini buku yg sangat bermanfaat :-)

      Delete
  2. Reviewnya bagus mbak. Makasih ya. Semoga anak-anak dan keluarga bisa sehat tanpa dokter.

    ReplyDelete
  3. pujiaachmad.blogspot.com18 October 2013 at 15:07

    keren Mb....jadi pingin baca bukunya....kalau kemarin pingin, sekarang jadi pingiiiiinnn bangettttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo beli, mb Pujia, dan ikut lomba resensinya juga :-)

      Delete
  4. Jadi pengen punya bukunya.. bungsuku sering radang siapa tau ada solusinya di buku ini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengatasi radang juga ada di buku ini, mba :-)

      Delete
  5. saya juga jarang ke dokter dan minum obat setelah nikah mbk,kena virus suami yg g pernah minum obat....kalo meriang banyak2 minum air hangat,selimutan,istirahat udah gitu aja hehehe....
    penasaran bukunya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo saya emang harus dikemplang nih, terlalu bergantung sama dokter, maklum gratis :D
      Ayo baca mbaa

      Delete
  6. reviewnya baguuuuus mbak...mantap kali isinya :D
    Kayaknya aku harus punya buku ini, semoga ada di Aceh

    btw, pake bajunya kompak banget anak sama emaknya, xixixiiiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan abis solat Ied kemarin, bajunya kembaran, mb. Ya sudah, langsung foto-foto aja XD

      Delete
  7. Saya seorang dokter umum, saya juga jarang membawa anak saya ke dokter spesialis kalau sakit.

    kalau ada yang bilang,"wajar lah emaknya dokter,"

    Bukan begitu. Saya juga jarang memberi anak obat kecuali terpaksa. Misalnya demam terpaksa minum obat (anak demam, wajib diturunkan dengan obat karena demam akan cepat memepngaruhi jaringan otak anak). Kalau antibiotik? Hmm.. anak2 saya belum pernah kemasukan antibiotik, walaupun obatnya ada sejangkauan mata. Karena saya tahu, antibiotik hanya untuk penyakit karena bakteri saja.

    Selama anak saya sakit, terutama kalau sakit akibat virus, saya utamakan homecare, yang meliputi gizi seimbang, istirahat, dan obat seperlunya. Tapi kalau gak mau makan sama sekali, ya saya juga gak menutup mata untuk pertimbangan opname.

    Kalau di ruang praktek, saya sering menemukan pasien anak, cuma batpil dan demam ringan, sakitnya pun baru hari pertama, tapi langsung dibawa ke dokter. Saya cuma pesen, 3 hari belum reda demamanya silahkan kemari lagi.

    Pernah ada pasien anak demam lumayan tinggi, sekitar 38 derajat, baru hari pertama sakit, mau cek lab juga percuma, wong baru hari pertama (akhirnya cek darah juga karena orang tua memaksa, dan hasilnya baik2 saja). Ya akhirnya, cuma dikasih obat penurun panas. Saya bilang, 3 hari belum sembuh, datang lagi ke sini. 4 hari kemudan ps datang lagi, masih demam, cek lab trombo turun drastis, opname. Kemungkinan kuat demam dengue.

    Maksud cerita tadi, sebelum hari ke 3 sakit, usahakan melakukan homecare dulu. Kalau 3 hari belum reda, baru ke dokter. Karena percuma saja kalau baru hari pertama udah dibawa, kita belum bisa membaca karakter sakitnya karena apa, dan cek darah pun akan sedikit memberi informasi.Yah, maklum deh ibu2... kalau lihat anak nya sakit ya pasti panik. Padahal, kalau memiliki pengetahuan cukup mengenai homecare, gak usah sepanik itu.

    Tapi, ada beberapa penyakit anak yang statusnya emergensi, jadi haru dibawa saat itu juga ketika sakit, misalnya:
    demam tinggi pada bayi baru lahir.
    demam >38,5 pada anak (umum)
    demam dengan kejang
    perdarahan hebat
    asma akut yang tidak bisa diobati dengan terapi uap di rumah
    dll...

    Diare dan muntah pun, kalau hebat dan anak tidak mau minum/makan, atau setiap minum dimutahkan lagi, harus langsung bawa ke UGD.

    saya belum baca bukunya, jadi belum tahu apa yang harus dikritisi. Terus, apakah di dalam buku itu ada informasi tentang perbedaan penyakit karena bakteri atau virus.
    Soalnya, ada seorang teman (bukan dokter), karena ikut-ikutan 'anti ngasih antibiotik' ke anak2nya, pas suatu hari anaknya sakit diresepkan antibiotik, antibiotiknya dia buang cuma minum anti demamnya. Dan anaknya tidak kunjung sembuh. Ternyata baru saya tahu, kenapa dokter anaknya memberi antibiotik karena diagnosisnya ISK (infeksi saluran kemih), yang hampir dipastikan karena bakteri. Lha, kalau gak minum antibiotik ya gak akan sembuh. Yah, ikut-ikutan tren bagus boleh lah, tapi tahu penempatan juga :)

    overall, dari review mbak Layla, saya setuju, tidak semua penyakit anak harus di bawa ke dokter dan diutamakan melakukan tindakan preventif spt pencegahan penyakit, meningkatkan imunitas, dll.

    Saya juga kalau flu jarang minum obat apalagi antibiotik, cuma minum air putih, vit c dosis tinggi, makan banyak, isitrahat. Udah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, senang sekali ada Bu Dokter di sini. Ada dijelaskan jg di buku ini tentang penggunaan antibiotik, Bu, dan penjelasan penulis sama dgn yg dijelaskan oleh Bu Dokter.
      Semoga makin banyak dokter seperti Bu Dokter ya :-)
      terima kasih sudah mampir.

      Delete
  8. Bu dokter cantik, penjelasannya cantik, suka ^_^
    Mba Leyla..keren resensinya*aku ga bisa nih T.T
    fotonya juga kelen, ga berminyak tuh hahahah

    ReplyDelete
  9. Aku juga suka protes sama dokter kalo mau dikasih antibiotik. Antibiotik biasa aku ganti dengan propolis.

    ReplyDelete
  10. Selamat ya, udah menang lomba review-nya ^_^.

    ReplyDelete
  11. Wah selamat ya menang lomba review bukunya. Saya juga mau coba lomba review berikutnya ah :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^