Wednesday, 12 April 2017

Hadiah untuk si Kreatif



"Mama tahu kamu cerdas, hanya saja kecerdasanmu berbeda dengan teman-temanmu." 


Ritual mengambil raport bagi setiap orang tua merupakan ritual yang menegangkan. Bagaimana prestasi anak kita di sekolah seolah menentukan keberhasilan kita sebagai orangtua. Setiap orangtua tentu menginginkan anaknya cerdas dalam semua mata pelajaran. Ketika sang anak mendapatkan nilai 100 dan pujian dari guru kelas, pasti akan membuat orangtua berbunga-bunga. 


Setiap orangtua menyayangi anak-anaknya dan ingin anaknya berhasil dalam kehidupan sehingga memberikan pendidikan yang terbaik. Saya pun ingin Sidiq berhasil dalam setiap pelajaran. Ayahnya juga memilihkan sekolah terbaik di desa kami, meskipun biayanya lebih mahal daripada sekolah lain. 

Ah, tapi saya sudah menurunkan ekspektasi terhadap setiap anak.  Semua orang berproses untuk belajar dan mendapatkan hasil terbaik. Sidiq, anak kedua saya, barangkali prosesnya lebih lambat daripada teman-temannya. Menghabiskan waktu 3 tahun di Paud dan Taman Kanak-kanak tidak membuatnya cepat belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Ketika masuk SD, Sidiq tertinggal karena kesulitan membaca. Walaupun usaha mengajarinya sudah dilakukan oleh guru dan orangtua, tapi Sidiq tidak cepat menyerap pelajaran. Saya melihatnya memiliki kecerdasan kinestetik, karena dia sangat aktif bergerak sehingga sulit berkonsentrasi pada pelajaran.


Di kelas 1 SD, walaupun Sidiq sudah belajar membaca selama 3 tahun sebelumnya, dia masih harus mengikuti les Calistung sepulang sekolah. Betapa bahagianya hati saya ketika naik ke kelas 2, dia sudah bisa membaca meski masih terpatah-patah. Di rumah, saya ajak membaca buku cerita dan mengulangi ceritanya. Pernah tasnya terasa berat sewaktu saya canglong, ternyata dia membawa buku cerita yang sangat tebal. Katanya mau dibaca saat jam istirahat, karena perpustakaan di sekolahnya sedang ditutup untuk perbaikan.

Masalah kesulitan membaca sudah selesai. Pada hasil Ujian Tengah Semester 1 kelas 2, saya terkejut melihat nilai Bahasa Inggrisnya hanya 6, di bawah nilai rata-rata. Yakin, insya Allah bisa kalau konsisten mengajarinya. Belajar di sekolah saja tidak cukup. Ayahnya yang memang jago bahasa Inggris, pun serius mengajari di rumah. Sebelumnya memang ayahnya kurang waktu untuk mengajari karena pulang kantor selalu malam. Setelah melihat nilai bahasa Inggris yang "luar biasa" itu, barulah dia tergerak mengajari anaknya. 

Alhamdulillah, hasil ujian semesternya menunjukkan Sidiq meraih nilai 100 dalam bahasa Inggris. Saya terpana karena Sidiq kurang bisa berkonsentrasi sehingga sulit menghapal. Tapi ternyata dia bisa. Ya, dia bisa. Di situlah kami yakin, setiap anak pasti bisa jika mau belajar. 

Nilai bahasa Inggrisnya 100

Gurunya mengatakan bahwa Sidiq agak lambat dalam pelajaran bahasa dan menghapal, tapi Sidiq sangat kreatif. Untuk pelajaran keterampilan dan kerajinan tangan, dia selalu selesai lebih dulu dari teman-temannya. Dia juga suka menggambar dan mewarnai. Dia suka membuat benda-benda dari bahan-bahan bekas. 


Alhamdulillah, bukankah kecerdasan setiap anak tidak sama? Tugas orangtua dan guru adalah membimbing anak menjadi ahli dalam kecerdasan yang dominan, tapi juga cerdas dalam hal lain meskipun tidak dominan. Semata untuk mendukung kecerdasan yang dominannya.

Sidiq pernah tanya, "kenapa aku harus bisa baca dan berhitung? Aku bisa bikin robot. Aku gak perlu belajar baca dan menghitung." 

Ayahnya jawab, "Membaca dan berhitung untuk membantu Sidiq membuat robot nanti, karena ada kertas-kertas petunjuk yang harus dibaca." Lalu, ayahnya menunjukkan bagian belakang kemasan suatu benda yang ada di dekatnya, "Contohnya ini. Di sini ada petunjuk pemakaiannya. Sidiq harus bisa baca supaya tahu apa yang ditulis di sini."

Alhasil, sejak bisa membaca, Sidiq selalu membaca bagian belakang kemasan. Belajar membaca dan bahasa Inggris sudah teratasi, tapi kemarin saya kembali dikejutkan saat mengambil raport tengah semester 2. Kali ini pelajaran bahasa Arabnya yang mendapatkan nilai merah. 

"Pelajaran bahasa Arabnya sekarang sulit, Bunda. Sudah tidak memakai huruf latin, tapi huruf Arab. Sidiq belum bisa membaca huruf Arab," kata gurunya. 

Huruf Arab kalau ditulis dengan huruf latin, Sidiq bisa baca. Tapi huruf Arabnya itu ditulis dengan huruf Hijaiyah, dan Sidiq belum hapal walaupun setiap hari belajar mengaji. Dia masih kesulitan menghapal. Sebenarnya untuk anak kelas 2 SD di sekolah umum tidak wajib belajar bahasa Arab. Sidiq sekolah di SDIT (SD Islam Terpadu). Mau tidak mau dia harus belajar bahasa Arab. 

Lagi-lagi ini PR besar untuk saya sebagai ibunya yang harus mendampinginya belajar di rumah. Guru mengajinya pun mengatakan bahwa Sidiq masih kesulitan menghapal huruf Hijaiyah. Ya, saya paham. Ini sama seperti prosesnya dulu belajar membaca. Kurang konsentrasi karena banyak bergerak.

Mungkin Sidiq butuh alat yang bisa membantunya belajar bahasa Arab, mengaji, dan surat-surat pendek secara menyenangkan. Saya berselancar mencari mainan edukasi yang tepat untuk Sidiq di Elevenia. Saya menemukan Play Pad mini yang bukan sekadar mainan tapi juga membantu anak belajar 4 bahasa sekaligus: Inggris, Indonesia, Mandarin, dan Arab.


Pada mainan edukasi itu terdapat pengenalan huruf Hijaiyah, juga surat-surat pendek dalam Al Qur'an, belajar bacaan salat, kosa kata bahasa Inggris, dan lain-lain. Sidiq bisa belajar sambil bermain, karena cara belajarnya memang harus banyak bergerak.

Harganya juga terjangkau. Semoga dengan bantuan alat itu, Sidiq bisa lebih mudah menghapal sehingga tidak kesulitan lagi mengerjakan soal-soal bahasa Arab. Dan ini video pendek yang mengungkapkan rasa sayang dan cinta Mama untuk Sidiq, selain doa yang selalu Mama panjatkan untuk anak-anak Mama agar menjadi anak yang Soleh, bermanfaat, dan berbakti kepada orangtua.





24 comments:

  1. Aamiin tambah Sholeh y bang,,, Smoga sehat trs jd hafidz Qur'an ...

    ReplyDelete
  2. benar banget Mbaa, kecerdasan setiap anak berbeda, jadi gak bijak rasanya membandingkan anak kita dengan anak lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi kalau di sekolah ya semua pelajaran harus bisa.

      Delete
  3. Setuju Mak. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehat terus ya Sidiq.

    ReplyDelete
  4. Setuju Mak. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehat terus ya Sidiq.

    ReplyDelete
  5. foto sidiq lucu banget :) semoga sidiq dapet hadiah itu dari elevenia ya... :)

    ReplyDelete
  6. Bener setiap anak punya kelebihan dan cara belajarnya sendiri ya mbak.kaya anakku matematikanya kurang tapi pelajaran bahasanya di atas rata2 trs

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah itu sama kayak aku, kesulitan belajar matematika tapi jago bahasa hehe

      Delete
  7. anak saya juga kinestetik mbak.. dia senang olah tubuh😊

    ReplyDelete
  8. Sama kayak anak saya, kinestetik juga. jadi senang kesana kemari bergerak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah diajak belajar sambil duduk ya Mak😂

      Delete
  9. hai Sidiq ganteng, pinter lagi, alhamdulillah dpt hadiah keren dari abi umi yaa :-)

    ReplyDelete
  10. waahh Sidiq pinter yaa, pasti makin pintar kalau dapat hadiah mainan edukasi...

    ReplyDelete
  11. Yeeee sidiq pinter 100 nilai bhs inggrisnya. Moga terpenuhi semua yg dicita2kan ya mb

    Mau dong dilempar hadiahnya sini

    ReplyDelete
  12. sebenarnya anak ini punya potensi besar dalam hal kreatif, tinggal bagaimana mengarahkannya dengan baik agar maksimal hehehe salam

    ReplyDelete
  13. Sidiq pinter. Akupun idem PR tertinggi sewaktu mendampingi Faiz sekolah di MI adalah ngapalin bahasa Arab. Emaknya jadi ikut belajar dan ngapalin. Hadiahnya oke juga nih, aku jadi kepingin beli untuk Faiz

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^