Friday, 26 February 2016

Ajari Putrimu Berhijab karena Allah

Masih terngiang sepotong dialog antara saya dan almarhumah ibu saya, ketika saya memutuskan untuk mengenakan sepotong kain kerudung di bangku kelas tiga SMA. Ibu saya bertanya, 
"Apa kamu serius? Kalau sudah pakai jilbab, kamu tidak boleh melepasnya lagi. Kamu harus memakainya terus lho...." 
Saya menjawab dengan mantap, "Serius!" 
"Baiklah. Kalau kamu memang serius, nanti Mama buatkan seragam yang panjang, juga jilbab. Ingat ya, kamu tidak boleh melepasnya lagi. Tidak  boleh bongkar pasang."


Kalimat penegasan itu keluar dari mulut ibu saya, yang saat itu belum berjilbab. Ibu saya adalah anak seorang Kiai tersohor di kampungnya. Mbah Kakung adalah seorang Kiai sekaligus guru mengaji, bahkan pernah mengajari mengaji keluarga pejabat tinggi. Mbak Kakung setiap hari berpenampilan layaknya Kiai, dengan kopiah dan sarung. Salat tepat waktu berjamaah di Langgar (musala kecil). Mengajari anak-anak mengaji kitab kuning. Mengajari orang-orang dewasa menyelami kitab Allah. Akan tetapi, anak-anak perempuan Mbah Kung TIDAK MENGENAKAN HIJAB. 

Perubahan itu terjadi belasan tahun kemudian, ketika cucu-cucu Mbah Kung beranjak dewasa. Salah satunya, saya. Saya memakai hijab bukan karena disuruh oleh ibu, apalagi Mbah Kung. Saya memakai hijab dengan kesadaran sendiri. Saya mendapatkan petunjuk dari Allah. Sejak kecil, saya sudah membaca buku-buku. Saat sedang memilih komik di toko buku, saya malah tersasar di rak buku-buku agama dan menemukan buku kecil yang berisi panduan untuk muslimah. Saya rasa, Allah telah menggerakkan tangan saya untuk mengambil buku itu dan membawanya pulang. Entah mengapa, saya menikmati membaca tulisan-tulisan di dalam buku itu. Padahal, saya seorang penggemar komik, tapi mengapa saya malah membaca buku agama? Saya suka membaca komik-komik Jepang, seharusnya saya eneg (mual) membaca buku agama. 

Tubuh saya bergetar, jantung saya berdebar. Hanya deretan kata-kata dari penulis buku itu telah membuat kesadaran saya bangkit. Penulisnya menerangkan kewajiban berhijab bagi setiap muslimah, disertai dalil ayat dan hadisnya. Saat itu, di sekolah saya hanya ada satu dua siswi yang berhijab. Itupun karena mereka lulusan Madrasah Tsanawiyah. Pokoknya, setelah membaca buku itu, keinginan saya begitu kuat untuk berhijab. Hingga tibalah hari itu, SAYA INGIN BERHIJAB.

Ibu saya tidak berhijab.
Tante saya tidak berhijab,
Bahkan, Mbah Putri yang telah meninggal pun tidak berhijab.
Mbah Kakung yang seorang Kiai tidak pernah menyuruhku berhijab.
Tapi, mengapa saya berhijab? 
Saya yakin, Allah yang telah menunjukkan jalan kepada saya. Saya pun berhijab, meskipun teman-teman di sekolahku ngeri melihat saya. Ada yang mengatai saya "culun" karena pakai hijab. Ada yang mengejek saya "ninja." Semua ejekan itu masih saya ingat jelas.

Beberapa tahun kemudian, saya melihat telah banyak muslimah yang mengenakan hijab. Meskipun masih ada yang suka menyinyir menganggap hijab sebagai ARABISASI, alhamdulillah Allah masih menguatkan keteguhan saya mengenakan kain penutup kepala ini. Jujur, selama berhijab itu, kadang-kadang saya ingin melepasnya. Kadang-kadang saya ingin menunjukkan rambut yang baru dicreambath, kadang-kadang saya ingin memakai kalung dan anting untuk bisa dilihat orang (tentunya saya harus lepas hijab), kadang-kadang saya ingin memakai pakaian yang tidak menutup aurat (lengan pendek), dan sebagainya. Tak heran jika teman saya yang lebih dulu berhijab mendoakan supaya istiqomah, ketika saya pertama kali mengenakan hijab.

ISTIQOMAH. Konsisten. Berkelanjutan. Dalam hal hijab, artinya bisa terus berhijab sampai kapan pun. Tidak akan melepas hijab di hadapan non mahram.  Sebab, memakai hijab itu ternyata bukan sekadar memakai penutup kepala. Memakai hijab adalah ujian keimanan. Buktinya, banyak orang yang tadinya berhijab, dari orang biasa sampai pesohor, tiba-tiba melepas hijabnya karena berbagai alasan. Hijab itu bukan pakaian biasa. Bukan pakaian yang besok kita pakai, kemudian kita lepas lagi. Hijab adalah pakaian takwa. Wajib dipakai setiap muslimah di hadapan non mahram. Pakaian yang menjadi sarana ibadah kepada Allah. 

Dahulu sekali, ada seorang pesohor yang sempat  saya kagumi karena berhijab di saat tidak banyak artis yang berhijab. Apalagi dia bergelut di bidang musik. Dia juga sudah pernah diwawancarai beberapa majalah Islam. Sayang, tak lama setelah terkenal dengan hijabnya, dia malah lepas hijab. Sampai sekarang Allah belum memberinya hidayah lagi. Ketika diwawancarai mengapa melepas hijabnya, ternyata dia kecewa dengan ayahnya. Ayahnyalah yang menyuruhnya memakai hijab, tapi kemudian ayahnya berpoligami. Dia kecewa karena ayahnya telah mengkhianati ibunya. Untuk membalas ayahnya, dia melepas hijab. 

Ada lagi kisah seorang pesohor yang melepas hijab karena merasa hijab bukanlah dirinya. Hijab tidak merepresentasikan dirinya. Ibunyalah yang menyuruhnya berhijab. Lalu, dia kecewa dengan perceraian ibunya. Setelah belasan tahun berhijab, dia melepasnya dengan alasan HIJAB BUKANLAH IDENTITASNYA. Banyak orang yang kecewa, karena kehadirannya di depan publik telah sangat membanggakan muslimah. Ini lho ada muslimah berhijab yang berprestasi luar biasa. Sayang, kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Allah mencabut hidayah dari dirinya. 

Lalu, ada pula seorang artis yang sudah sangat terkenal, sebut saja inisialnya M, juga melepas hijab beberapa saat setelah bercerai dari suaminya. Orangtua M juga dulunya bercerai. Saya pernah menulis di blog mengenai hijab artis M ini, yang menyatakan bahwa saya bangga karena dia telah berhijab. Apa yang terjadi? Kebanggaan itu hanya sesaat. 

Ada juga seorang penulis buku islami yang melepas hijabnya, justru setelah bercerai dari suaminya. Bertahun-tahun dia mengenakan hijab, bahkan sudah berdakwah ke mana-mana, tapi mengapa kemudian dia melepas hijab dan mengenakan pakaian seksi? Dan ironisnya, orangtuanya juga bercerai. Saya tak ingin berspekulasi mengenai mengapa dia melepas hijabnya, tetapi ada yang perlu diambil pelajaran dari setiap kejadian di atas.

Banyak ibu yang berbondong-bondong memakaikan hijab kepada putrinya sejak mereka masih bayi, tetapi apakah ibu-ibu sudah membekali pengetahuan UNTUK APA dan MENGAPA putrinya harus berhijab? Sudahkah ibu-ibu mendekatkan putrinya kepada Allah? Sudahkah ibu-ibu mengajak putrinya mencintai Allah? Yang lucu, saya pernah menemukan kejadian di angkot. Seorang ibu yang tidak berhijab, memaksa putrinya mengenakan hijab. Memang lucu sih anak kecil dikasih hijab. Putrinya yang berumur lima  tahun itu menolak. Si ibu memaksa terus. Putrinya terus menolak, sampai akhirnya putrinya berkata, "Ibu juga nggak pakai jilbab.. kok aku harus pakai?" 

Nyesss.... saya yang mendengar percakapan itu ikut bergetar hati saya. Jangan dikira anak-anak yang masih kecil itu tak mengerti. Ibunya tidak berhijab, mengapa si kecil harus berhijab? Dari keempat kasus di atas, mengapa mereka datang dari keluarga broken home? Tentu saya tidak ingin menyamakan bahwa semua keluarga broken home itu bermasalah, tetapi perlu juga dipertimbangkan adanya keguncangan psikologis pada anak-anak yang orangtuanya bercerai. Itu yang harus diperhatikan oleh orangtua yang memilih bercerai atau bapak yang hendak berpoligami. Pikirkan anak-anakmu. Sudahkah mereka beribadah karena Allah dan bukan karena orangtuanya? 

Apakah anak-anak berhijab karena menaati orangtua atau karena Allah? Jika anak-anak berhijab karena perintah orangtua, maka tunggu saja ketika orangtua terkena masalah. Anak-anak merasa kecewa dan melepaskan segala hal yang mengingatkan mereka kepada orangtuanya. Salah satunya, hijab. Bergantung kepada manusia atau melakukan sesuatu karena manusia, hanya akan membuatmu kecewa. Sama halnya bila berhijab karena diperintah suami. Ketika suami melakukan kesalahan besar, kita pun melepas hijab. Intinya, ketika beribadah, niatkan semua karena Allah. Begitu pula ketika mengajari anak untuk menaati perintah Allah. Tanamkan kecintaan di dalam diri anak-anak kepada Allah. 

Rasa cinta itu sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Bila seseorang sudah mencintai sesuatu, apa pun yang terjadi, dia akan tetap cinta. Bukan begitu? Misalnya, jika kita sudah mencintai Allah. Saat diberikan ujian seberat apa pun, kita akan bertahan karena kita cinta. Bagaimana bisa mencintai Allah? Itu datang dari perenungan yang dalam. Kontemplasi. Menghitung-hitung pemberian-Nya. Menadabburi firman-Nya. Bergaul dengan orang-orang saleh yang juga mencintai Allah. Tanamkan selalu di dalam hati bahwa saya berhijab karena Allah. Bukan karena manusia. Insya Allah dengan sendirinya akan timbul rasa malu. Bila kita akan melepas hijab, kita malu karena Allah memperhatikan. 

Bagaimana mengajari anak-anak mencintai Allah? Orangtuanya juga harus mencintai Allah. Orangtua juga harus selalu melibatkan Allah dalam pengasuhan. Doakan anak-anak agar selalu berada di jalan yang lurus. Ada atau tidak adanya orangtua, anak-anak tetap mendapatkan petunjuk dari Allah. Anak-anak saya memang masih kecil, jadi belum bisa dijadikan contoh. Saya tidak tahu bagaimana anak-anak saya nanti ke depannya. Saya hanya mendoakan dan mengarahkannya. Akan tetapi, saya belajar dari orangtua saya dulu. Ibu saya tidak berhijab, tetapi ibu saya tak pernah lepas mendoakan saya beserta anak-anak yang  lain. Satu demi satu, putri-putri ibu saya pun berhijab. Saat itulah ibu saya merasa malu. Kalau sedang berjalan-jalan, masa anak-anaknya pakai hijab, ibunya tidak? 

Di usia 40 tahun-an, ibu saya mengenakan hijab justru setelah semua anaknya berhijab.  Ya, doa. Itulah kekuatan seorang ibu. Ibu saya selalu khusyuk berdoa untuk kebaikan putri-putrinya sehingga alhamdulillah kami masih menaati perintah Allah sampai hari ini. Semoga kami bisa istiqomah selalu agar ibu kami tetap tersenyum di dalam kuburnya. Aamiin...

Postingan ini diikutsertakan dalam giveaway #DareToShare - http://www.unidzalika.com/2015/12/haruskah-saya-membuka-hijab.html

http://www.unidzalika.com/2015/12/daretoshare-kenapa-sih-kamu-memutuskan.html?m=1






6 comments:

  1. Awal aku pakai jilbab hanya karena terbiasa aja di sekolah Islam dulu hari2 tertentu harus pakai keudung. Pindah sekolah negeri malah keterusan pakai jilbab tapi roknya masih pendek hihi. Keterusan sampai sekarang. MUdah2an bisa istiqomah juga. Aaamiin.

    ReplyDelete
  2. Saya tau artis M itu, saya juga sedih sih sekarang doi lepas jilbab dan pakaiannya seksi2 gitu..

    ReplyDelete
  3. Prihatin lihat artis lepas jilbab karena mengejar materi.. Sebaliknya aku salut banget sama artis seksi yang dpt hidayah pakai jilbab.. Rejekinya malah nambah banyak..

    ReplyDelete
  4. Saya berjilbab karena adat, awalnya masuk SMA yg wajib pakai jilbab untuk muslimah, selama SMA pun masih buka tutup karena saya anggap hanya sebuah seragam. Kebetulan saya pun dari keluarga broken home, tidak ada pengajaran agama secara dalam dari orang tua, akhirnya mencari tau sendiri, belajar sendiri. Kuliah pun masih pakai jilbab tapi yang bisa dibilang tida syar'i. hingg akhirnya 6 bulan sebelum menikah terjawab sudah semua pertanyaan saya tentang jilbab. Bismillah pakai jilbab dengan benar termasuk pakaiannya meski sering dapat terugan dari kantor (krn gak boleh pakai rok). Akhirnya resign, dan selama nikah yg belum setaun ini alhamdulillah tidak pernah pakai celana lagi, semoga bisa istiqomah dan semakin baik luar dalam. terima kasih tulisannya, bunda :)

    ReplyDelete
  5. Aamiin, semoga kita semua istikomah ya Elaa :(

    ReplyDelete
  6. Kalau mbakputri saya dari bapak, enggak pakai hijab, tapi almarhumah sudah mengenakan kerudung dan selalu menyentil saya kalau pakai celana kulot..

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^