Monday, 11 January 2016

Melangkahlah ke Tempat yang Baik, Nak!



Kaki-kaki kecilmu meninggalkan jejak di hamparan pasir pantai yang luas. Engkau berlari dengan penuh semangat menyongsong ombak. Aku kewalahan mengejarmu sampai napasku terengah-engah. Meskipun ombak itu kecil, tetap saja tubuhmu yang tak seberapa beratnya itu dapat terbawa arus. Kau asyik bermain di tengah pantai yang dangkal, hingga datang ombak yang membuat pijakanmu melemah dan kau pun nyaris tenggelam. Untung aku sigap menangkapmu, meskipun pakaianku ikut basah karena memelukmu. Kau gelagapan karena sempat meminum air laut, tetapi tak lama kau kembali turun ke dalam air dan menggoda ombak dengan tawamu yang berderaian. Salim, kau begitu menggemaskan. 


Anak-anakku, aku masih ingat masa-masa ketika kalian baru belajar berjalan. Ismail, anak pertamaku, engkau baru bisa berjalan pada usia satu tahun tiga bulan. Di usia setahun, kau sama sekali belum bisa berjalan. Berdiri di atas kakimu pun masih takut-takut. Sebagai ibu, aku juga dihinggapi kegelisahan. Aku khawatir perkembangan fisikmu terlambat. Apalagi jika melihat bayi-bayi lain seumuranmu sudah berjalan di atas kakinya sendiri, rasanya iri sekali. Aku melatihmu berjalan setiap hari. Kita bermain di lapangan, dan aku melepasmu, lalu kau memberanikan diri untuk berlari menyambut rentangan kedua tanganku. Alhamdulillah, setelah tiga bulan belajar berjalan, kau berhasil menggerakkan kakimu dalam posisi berdiri. Tidak lagi merangkak dan merambat. Aku bahagia sekali, meskipun setelah itu aku kelelahan mengejarmu yang berlarian ke mana saja. 


“Awaas! Jangan sentuh itu!”
“Awaass! Lantainya licin! Jangan lariii!”
“Awaass! Jangan naik-naik ke atas, nanti jatuh!”

Ah, aku gagal menerapkan saran para ahli parenting untuk tidak berteriak dan mengucapkan kata “jangan” kepada anak-anakku. Bagaimana bisa? Kalau aku terlambat sedikit saja berteriak, engkau mungkin sudah melakukan hal-hal berbahaya yang akan melukai tubuhmu. Aku ingat, ketika adikmu, Sidiq, pun sudah bisa berjalan di usia setahun. Saat itu ulangtahun Sidiq yang pertama. Mungkin karena melihat teman-teman kecilnya yang datang ke pesta ulang tahun, sudah bisa berjalan dan berlari, Sidiq berani berdiri di atas kakinya dan tiba-tiba berjalan sambil setengah berlari! Semua orang yang melihat kejadian itu pun ternganga. 

Sidiq, engkau bisa berjalan dan berlari sekaligus! Yah, memang setelahnya engkau banyak mendapatkan luka karena sering terjatuh. Luka yang masih kuingat jelas adalah luka di dahimu, luka yang sangat membuatku trauma karena bekasnya baru hilang setelah sekian lama. Saat itu engkau mengikuti kakakmu yang berlari ke warung dekat rumah. Warung itu memiliki tanjakan, dan kau jatuh saat sedang menanjak. Berguling ke bawah. Aku ada di situ, tetapi terlambat menangkapmu. Tubuhku kecapaian karena mengejar kalian berdua yang asyik berlari ke sana kemari. Aku sedang beristirahat sejenak di bangku dekat warung itu, dan saat itulah kejadian naas menimpamu. Dahimu terluka cukup lebar. Seseorang menyangsikan luka itu akan hilang sama sekali. Luka itu pasti berbekas, begitu katanya. Alhamdulillah, memang membutuhkan waktu cukup lama untuk  menghilangkan bekas luka, tetapi kini bekasnya sudah tak ada sama sekali.


Ismail dan Sidiq, usia kalian hanya terpaut setahun. Sesekali, aku merindukan masa-masa itu. Ketika kalian sedang aktif-aktifnya berjalan dan berlari di atas kaki kalian yang masih lemah. Sepertinya kalian tak kapok terjatuh. Kalian sering sekali terjatuh di atas lantai yang licin, karena baru selesai kupel. Itu sudah pasti sakit, tapi entah mengapa kalian masih mengulanginya dan membuatku cemas. Saat terjatuh, aku peluk dan gendong kalian. Anehnya, kalian langsung terdiam. Seolah pelukan dan gendonganku sudah cukup menyembuhkan luka. Maafkan Mama ya, Nak, karena Mama sering lalai menjaga kalian. 

Kini kalian sudah lincah berlari dan berjalan, meski kadang-kadang masih pula terjatuh. Itulah kehidupan. Seberapa pun lincahnya kalian berlari dan berjalan, kalian masih akan sesekali terjatuh. Namun, ingatlah satu hal, ketika terjatuh, kalian harus bangun lagi. Jangan biarkan diri kalian terus terkapar dan menangis di tengah jalan. Sekarang, Mama masih bisa menolong dan membantu kalian untuk bangun. Esok belum tentu. Jika kalian sudah dewasa nanti, ingatlah bahwa doa-doa Mama akan terus mendampingi kalian di mana pun dan kapan pun berada. 


Aku hanyalah seorang ibu yang tak sempurna. Sebanyak apa pun aku membekali kalian dengan ilmu dan pengetahuan, aku hanya bisa berharap Tuhan menjaga kalian agar dapat mengarungi kehidupan ini dengan baik dan sesuai aturan-Nya. Termasuk menjaga langkah kaki kalian agar tidak melangkah ke tempat yang salah. Ingatlah bahwa kelak kaki-kaki kalian itu juga akan ditanya oleh-Nya, sudah melangkah ke mana saja. Apakah melangkah ke tempat yang baik, atau ke tempat yang buruk. Jagalah kepercayaanku, Nak. Melangkahlah ke tempat yang baik agar kalian senantiasa mendapatkan kehidupan yang tenang dan diberkahi-Nya. Kelak kalian akan berpetualang mengarungi dunia ini, menggapai tujuan hidup masing-masing. Melihat betapa luas dan indahnya bumi Tuhan ini. Mungkin kalian akan kembali menapaktilasi tempat-tempat di mana kita pernah menghabiskan waktu bersama. Dan mengingat bahwa aku pernah ada begitu dekat dengan kalian. 

Kini, usia kalian baru 8, 7, dan 3 tahun. Masih panjang waktuku untuk membersamai langkah-langkah kaki kalian.




18 comments:

  1. aamin semoga menjadi anak sholeh mba, dan pakai JD Kids shoes ke tempat yang baik

    ReplyDelete
  2. Aamiin. Semoga anak2 kita berjalan ke jalan yang baik

    ReplyDelete
  3. Aamiin, semoga setiap langkahnya menjadi berkah

    ReplyDelete
  4. Amin semoga setiap langkah anak-anak mama dimudahkan

    ReplyDelete
  5. Sepatunyaaaaa... keceeee.
    Semoga anak-anak mbak Leyla Hana selalu melangkah di jalan yang baik, jalan ridha emak bapaknya.. Amin

    http://kataella.blogspot.co.id/

    ReplyDelete
  6. Semoga anak-anak kita selalu melangkah ke tempat yang baik ya mak..amin

    ReplyDelete
  7. Aamiin, di dukung oleh ibu yang selalu mendoaan setiap saat Insya Allah menjadi anak-anak yang sholah

    ReplyDelete
  8. “Awaas! Jangan sentuh itu!”
    “Awaass! Lantainya licin! Jangan lariii!”
    “Awaass! Jangan naik-naik ke atas, nanti jatuh!”

    heuheuheu...ini saya banget mak :(

    ReplyDelete
  9. Aamiin....moga menang
    aku jadi rindu mengingat pijar dulu...belajar melangkah, terjatuh, berlari
    klo lintang, pendar...9bulan tahu tahu jalan

    ReplyDelete
  10. paling gampang memang pakai kata jangan, dan itu memang sudah sewayahnya deh hehehe

    ReplyDelete
  11. Ehm, susah memang untuk nggak ngelarang. :(

    ReplyDelete
  12. mengganti kata "jangan" itu yang sulit hi2

    ReplyDelete
  13. JD kids shoes utk anak laki aja ya?

    ReplyDelete
  14. Doa seorang ibu akan selalu menyertai anak-anaknya :)
    Btw sepatunya keren, pasti nyaman dipakainya.

    ReplyDelete
  15. Aamin doa ibu akan selalu mneyertai hingga kahir hayat

    ReplyDelete
  16. semoga jagoanmu bisa selalu melangkah dengan baik di masa depannya :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^