Sunday, 4 October 2015

Ibu Rumah Tangga Butuh Piknik, Lho!



Piknik bareng anak-anak

“Jihadnya seorang wanita adalah dengan mempergauli suami secara baik, mengatur rumah tangga, dan ulet dalam mendidik anak-anak.” (Ali bin Abi Thalib) 

Mengurus rumah tangga adalah jihadnya seorang wanita?! Kalau dipikir-pikir, pekerjaan seorang ibu di dalam rumahnya itu memang  benar-benar pekerjaan berat, seperti seseorang yang berperang di medan tempur. 


Deskripsi pekerjaan saya, antara lain:

Mengatur uang belanja bulanan agar cukup selama satu bulan sampai suami gajian lagi: Ini bukan pekerjaan ringan, apalagi kalau uangnya pas-pasan. Pokoknya harus cukup, mau ada pengeluaran mendadak atau enggak, dicukup-cukupkan deh. Nggak heran kalau saya sering migren memikirkan pengeluaran rumah tangga ini. Biarpun sudah diperkirakan dan dialokasikan ke pos-pos penting, tetap saja defisit. Padahal, saya sudah menghitung dengan detil: membayar tagihan-tagihan rutin, belanja harian, belanja bulanan, dan lain-lain. Pernah, saya sudah senang karena ada sisa uang belanja beberapa ratus ribu, eh ternyata uang SPP si sulung lupa dibayar. Ya pantas kalau ada sisanya. Hmmffh…. Saya sudah mengkhayal beli baju baru lho, xixixi….. 

Masak apa hari ini: Ini juga nggak mudah.  Nah, yang tinggal makan sih enak saja mengeluh, “Kok menunya cuma ini aja sih?” atau… “Bosen nih, tiap hari makan ini terus.” Mereka nggak tahu kalau chefnya pusing memikirkan menu masakan setiap hari yang sesuai dengan anggaran rumah tangga. Sop lagi, bayam lagi, ikan goreng lagi, ayam goreng lagi, dan lain-lain. Masih mending bisa makan, ya? Setiap saya sampai di tukang sayur, pasti bengong dulu. Masak apa, ya? Ibu-ibu lain juga terlihat bingung. Akhirnya, kami nongkrong dulu di tukang sayur dan ngobrol sampai ingat mau masak apa, hehehe…. 

Welcome to Jungleland!
Mengurus urusan anak-anak dan suami: Pagi hari adalah waktu yang sibuuuk bagi seorang ibu rumah tangga. Membuatkan sarapan, menyiapkan tas kerja suami dan tas sekolah anak-anak, menyiapkan baju seragam anak-anak, mencari kaus kaki suami yang entah berada di mana, memandikan anak-anak, dan sebagainya. Sampai-sampai malah saya yang senang kalau anak-anak libur, jadi saya nggak pusing memikirkan urusan mereka. 

Mendidik anak-anak: Jangan dipikir kalau kita sudah menyekolahkan anak-anak di sekolah formal, lalu orangtuanya bisa leha-leha, apalagi seorang ibu. Katanya, Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Nggak heran, kalau anak-anak bermasalah, pasti yang disalahkan pertama kali adalah ibunya. “Siapa sih ibunya? Kok anaknya jadi begitu?” Lah, padahal yang namanya orangtua itu kan IBU dan AYAH. Kenyataannya memang porsi mendidik anak itu lebih banyak ada di pundak ibu daripada ayah. Terutama ibu yang selalu ada di rumah, otomatis selalu berinteraksi dengan anak-anaknya. 

Anggap aja seperti di London
Mengurus rumah tangga: Pekerjaan rumah tangga itu bukan pekerjaan ringan, dari mulai mencuci baju, menyetrika, cuci piring, nyapu, ngepel, masak, dan sebagainya. Saya memang mendapatkan bantuan dari asisten paruh waktu, tapi saya tetap harus memastikan semua pekerjaan itu selesai dengan baik. Kalau nggak, tetap saja saya yang dikomplen suami dan anak-anak. Namanya juga asisten rumah tangga, tugasnya hanya membantu. Kadang-kadang ada saja pekerjaannya yang kurang beres, seperti mencuci gelas kurang bersih. Pastilah saya yang harus mencucinya lagi, karena dia kerja hanya sampai jam 10 pagi. Setelah dia pulang, kerjaan rumah tangga jadi urusan saya. Kadang saya juga harus mengepel ulang kalau anak-anak sedang sakit dan muntah-muntah terus. Atau, memasak makanan tambahan karena anak-anak minta dibuatkan kue dan sebagainya. 

Mengasuh si kecil: Pekerjaan mengasuh anak itu luar biasa besar kontrol emosinya. Diperlukan kesabaran tingkat tinggi. Wajahnya imut dan menggemaskan seperti malaikat, tapi kalau sudah bertingkah, membuat ibunya bertanduk. Menjadi ibu berarti harus lebih banyak bersabar menghadapi anak-anak dengan tingkah polah menggemaskan. 

Itu dia kenapa saya butuh PIKNIK!

Menjadi ibu rumah tangga yang 24 jam berada di dalam rumah dengan rutinitas monoton itu sangat membosankan. Dari sejak memutuskan menjadi IRT Full, saya selalu minta diajak jalan-jalan setiap akhir pekan. Kalau nggak hari Sabtu, ya Minggu. Suami sampai gemes, karena dia sebaliknya, pengen istirahat. Dia malah sering menyuruh saya jalan-jalan sendiri, tapi akhirnya sih tetap bareng-bareng. 

Bagi saya, piknik itu penting untuk menyegarkan kembali suasana dan pikiran setelah dikurung oleh dalam sangkar emas selama lima hari seminggu. Seorang ibu harus punya pikiran yang waras, karena dia berhadapan dengan anak-anak. Bayangkan kalau ibunya suntuk, wah bisa marah-marah terus deh. Nggak  mau anak-anaknya trauma punya ibu yang galak, kan? Makanya, ajak dong ibunya piknik, wuehehehe…. *modus…. 

Piknik bikin Happy
Tempat piknik kami bervariasi, tapi lebih seringnya ke mall. Yah, namanya juga tinggal di kota besar. Sekalian belanja bulanan. Lama-lama saya bosan ke mall terus. Sesekali kami piknik ke alam terbuka, seperti Kebun Binatang Ragunan, Kebun Raya Bogor, dan lain-lain. Tapi, piknik yang paling berkesan adalah ketika kami sekeluarga pergi ke arena Theme Park terbesar di wilayah Bogor, Jungleland. Di sana ada beraneka ragam permainan untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Itu pertama kalinya saya pergi ke tempat wisata yang berisi wahana-wahana permainan untuk menguji adrenalin. Zaman saya kecil dulu, orangtua saya nggak mampu membeli tiketnya yang cukup mahal. Kalau kemarin, saya pakai tiket gratis yang saya dapatkan dari sebuah lomba. Bahagia itu sederhana, bukan? Nikmat sekecil apa pun harus disyukuri, meskipun “hanya” berupa tiket gratis untuk piknik ke tempat yang lokasinya masih dekat dengan tempat tinggal kita. 

Barangkali karena saya belum ke Theme Park lainnya yah, jadi menurut saya Jungleland ini menakjubkan. Anak di bawah 90 cm masuk gratis, berhubung saya dapat dua tiket, jadi tinggal beli satu tiket lagi. Saat itu sedang ada promosi beli satu gratis satu. Cihuiii banget, kaaan…. Nggak semua wahana permainan bisa dicoba, karena anak-anak hanya boleh mencoba wahana yang khusus untuk anak-anak. Saya hanya mencoba satu wahana, setelah itu ogah lagi. Butuh mental yang kuat untuk mencoba wahana lain yang menegangkan, hahaha…. *noraknya kumat. Walaupun begitu, anak-anak ketagihan datang ke sini lho. Mudah-mudahan kalau saya berkesempatan liburan di Bogor lagi, saya bisa datang ke sini lagi. 

Uniknya, di pintu masuk ada tulisan selamat datang dalam beberapa bahasa: Indonesia, Sunda, Inggris, Arab, dan lain-lain. Itu berarti, pengunjung Jungleland ini beragam. Memang saya lihat ada orang bule dan orang Arab. Malah saya sempat bersisian dengan perempuan Arab bercadar yang berbicara dengan suaminya menggunakan bahasa Arab. Nah, buat pengunjung dari luar Bogor, jangan khawatir. Di Bogor ada banyak hotel untuk menginap.  Yuk, kita piknik!




20 comments:

  1. hehe keluhannya sama nih, si ayah pengen di rumah, emak rumah tangga pengennya piknik. Tapi untung masih dingertiin

    ReplyDelete
  2. Wah setuju bgt nih mak, para emak emg perlu piknik biar fresh dan gak kluar tanduknya klo dirumah

    ReplyDelete
  3. Setelah membaca tulisan bunda...saya terdiam..termenung dan berfikir jauh.. apakah saya sanggup dikemudian hari menjadi seorang ibu tangguh seperti bunda...


    ReplyDelete
  4. Iya..suami weekend pgn dirumah.emakny minta jalan2.alhasil kalau ga ketemu jalan tengah ya saya ngacir piknik bersama teman..haha.tp hiburan dikota besar sebenarny cukup banyak mak..cm jauhnya itu lho, harus makan waktu seharian sendiri kalau mau ke taman2 ato wisata alam

    ReplyDelete
  5. samaaa... kalo soal masak yang itu2 aja, habisnya kalo suami ditanya mau disamakin apa, jawabnya cuma "terserah", jadi ngga boleh protes, hihi...

    ReplyDelete
  6. haaa iya.. piknik penting bgt buat emak-emak..

    ReplyDelete
  7. Curhatan ala2 IRT sudah lengkap mbakkk.....aspirasiku tersalurkan....smoga menang! :-)

    ReplyDelete
  8. Betul Mbak. Piknik memang sesuatu ya :)

    ReplyDelete
  9. Piknik enting hrs pinter2 ngatur uang biar ada sisa untuk piknik ya Mak hihi....

    ReplyDelete
  10. waduh ntar aku kalo udah jadi ibu, kudu pinter-pinter minta suami buat piknik ya XDD

    ReplyDelete
  11. gak penting tempat.. yang penting happy... hehehehe... dan piknik akan selalu membawa rasa fresh buang penat

    ReplyDelete
  12. Aku model "kaki gatal" mbak.Jadi setiap weekend harus jalan.Entah jalan kemana.Anggap saja piknik.Pokoknya harus jalan.Hehehe..

    ReplyDelete
  13. yup, ibu rmh tangga butuh bgd yg nmanya piknik, sesuatu dah pokoknya :)

    ReplyDelete
  14. Seru. Terimakasih partisipasinya. Maaf. pengumuman diundur tgl 20 okt ya.

    ReplyDelete
  15. Seru. Terimakasih partisipasinya. Maaf. pengumuman diundur tgl 20 okt ya.

    ReplyDelete
  16. betul sekali . . ibu rumah tangga memang membutuhkan piknik

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^