Tuesday, 21 April 2015

Milna: Solusi Kreatif Ibu Mengatasi Anak Jago Ngemil

Salim, 2,7 tahun, sehat terus yaaa....


Salim, putra bungsu saya yang kini  berusia 2,7 tahun, sudah mulai banyak berceloteh dan mengeluarkan kosa kata baru. Sekarang dia sedang suka ngomong “Gak Mau.” 

“Salim, mandi yuuk….”
“Gak mau!”
“Salim, bobo yuuk….”
“Gak mau!”
“Salim, maem yuuk…”
“Gak mau!”


Duh, apa-apa kok “gak mau”? Mamanya harus punya trik nih supaya kata “gak mau” itu jadi “mau.” Apalagi kalau sudah berurusan dengan makan. Anak dalam masa pertumbuhan kan memang harus banyak makan makanan bergizi. Lain halnya kalau sudah emak-emak seperti saya, justru harus diet karena perut sudah menggelembung dan tonjolan lemak di sana-sini, hehe….

Saya sering iri melihat ibu-ibu yang anak-anaknya tidak mengalami kesulitan saat disuruh makan. Ada lho anak bayi dan balita yang makannya lahap, sampai-sampai ibunya malah mengeluh, “Ini anak makannya banyak banget, bingung masakinnya.” Herannya, anak-anak saya termasuk anak yang susah makan. Terutama pada rentang usia 1-3 tahun. Entah kenapa, mungkin sudah dari sananya. Kebiasaan itu khas, dari anak yang sulung sampai yang bungsu. 

Saat mereka mulai masuk usia 6 bulan, saya sudah menyiapkan berbagai resep olahan MPASI. Niatnya sih mau memberikan mereka MPASI buatan sendiri yang bergizi dan bervariasi. Tak disangka, anak-anak saya susah makan semuanya. Mereka lebih suka mengisap ASI, seolah-olah ASI itu bisa menggantikan makanan padat. Ya iya, kalau usianya masih di bawah 6 bulan, kalau sudah di atas 6 bulan? Saya masih ingat reaksi anak-anak ketika saya memasukkan bubur bayi buatan sendiri ke mulut mereka, bubur bayi itu dimuntahkan, bahkan semua yang di dalam perut mereka pun dimuntahkan. Hiks, betapa sedihnya hati saya. 

Kejadian itu berlangsung terus sampai usia 3 tahun, sehingga mereka tidak punya jam makan makanan padat yang tetap. Akhirnya, saya menyiasatinya dengan banyak memberikan cemilan. Lho, kok cemilan? Iya, cemilan, tapi cemilan yang mengandung gizi seimbang, sehingga kebutuhan gizi mereka terpenuhi. Cemilan yang berbentuk cemilan, tapi sesungguhnya mengandung gizi yang setara dengan makanan padat. Mereka juga tetap makan nasi, tapi tidak tiga kali sehari. Seringnya sih dua kali sehari dengan porsi tidak banyak (karena memang anak-anak tidak suka makan nasi), tapi porsi cemilannya yang banyak.  Jangan sampai anak-anak kurang gizi hanya karena tidak suka makan nasi.

Menurut data terkini dari Global Nutrition Report (2014), Indonesia mengalami masalah gizi kompleks. Sebagian besar bayi di Indonesia berperawakan pendek (stunting) dan kurus (wasting), yang merupakan gejala klinis dari kasus gizi salah.  Gizi salah ini berbeda dengan gizi buruk. Gizi salah artinya bayi kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu yang terjadi akibat kesalahpahaman dalam memenuhi kebutuhan nutrisi pada seribu (1000) hari pertama pertumbuhannya. 

Waaah…. Ternyata kelebihan zat gizi tertentu pun bisa mengakibatkan gizi salah? Jujur, saya baru tahu nih permasalahan mengenai gizi salah ini. Dan ternyata, inilah masalah gizi yang mengenai masyarakat kelas menengah. Lain dengan gizi buruk yang mengenai masyarakat miskin. Kebetulan, pendapatan keluarga saya termasuk ke dalam kelompok masyarakat menengah: miskin, Alhamdulillah tidak. Kaya juga belum. Sedang-sedang saja hehehe…. 

Makanya saya heran, anak-anak dari keluarga yang cukup mampu kok tapi tubuhnya kurus dan pendek? Kalau kurang makan, sepertinya tidak. Mungkin malah kelebihan gizi atau terkena kasus gizi salah. Itu sebabnya, WHO (World Health Organization) merekomendasikan pemberian makanan bayi yang harus mencakup tiga hal: 

Inisiasi Menyusui DIini (IMD): diberikan ketika bayi baru dikeluarkan dari perut Ibu, lalu bayi diletakkan di atas perut Ibu dan mulai menyusu. Saat itu, ASI memang belum keluar, tapi bayi sudah belajar mengisap. ASI yang pertama keluar itu mengandung kolostrum yang baik untuk kekebalan tubuh bayi. Warna ASI-nya kekuning-kuningan. Kolostrum ini hanya ada pada ASI yang pertama keluar, lho. Makanya, IMD ini penting. 

ASI Eksklusif minimal selama 6 bulan: Alhamdulillah, saya berhasil memberikan ASI Eksklusif 6 bulan kepada dua anak saya. Kalau yang sulung agak kurang berhasil, karena usia 5 bulan sudah kesundulan dan ASI-nya harus dihentikan (menurut saran Bidan). Pemberian ASI Eksklusif ini tak hanya memudahkan Ibu, tapi juga menyehatkan dan menguatkan bayi. ASI adalah hak bayi, yang harus diberikan bila Ibu sangat mampu untuk memberikannya. Dua anak saya  yang diberikan ASI Eksklusif 6 bulan ini tulangnya lebih padat berisi, tidak mudah sakit, tubuhnya tidak gemuk tapi juga tidak kurus (kalau kata orang Jawa itu “sekel”). Perkembangan motoriknya juga relatif lebih cepat, seperti: duduk, berjalan, berbicara, dan kepintaran-kepintaran lain. 

Pemberian Makanan Pendamping ASI dimulai dari usia 6 bulan, sambil tetap  melanjutkan pemberian ASI: usus bayi baru bisa mencerna makanan padat setelah usia 6 bulan, saat itulah MPASI bisa diberikan. Saya memberikan MPASI sesuai usianya. Misal: kalau baru mulai belajar makan, saya kasih buah-buahan dulu (pisang, alpukat, wortel, jeruk, dan sebagainya). Kemudian, di usia 9 bulan, saya kasih bubur saring dan bubur tim. Seterusnya, sampai dia bisa mengunyah makanan-makanan keras, baru deh saya kasih nasi dan lauk pauk yang lembut. Sekarang, Salim sudah bisa makan nasi dan lauk pauknya, tapi anaknya pembosan. Ibunya harus kreatif nih membuatkan makanan. Kalau sedang tidak mau makan, saya membuatkan cemilan-cemilan. 

Beberapa resep cemilan yang saya buat, sudah pernah saya bagikan resepnya di sini. Ada siomay, batagor, bolu kukus, dan kue kering. Jujur saja, saya belum pandai membuat variasi cemilan, karena masih belajar masak hihihi…. Apalagi, saya belum memiliki peralatan memasak yang lengkap *kode buat suami. Mudah-mudahan nantinya saya bisa membuat lebih banyak lagi variasi cemilan untuk anak-anak. Lagipula, saya masih ragu apakah kandungan gizinya sudah benar? Berdasarkan acuan label gizi produk pangan yang dirilis oleh BPOM (2007), kebutuhan energi bayi usia 6 bulan meningkat hingga 1,5 kali lipat, kebutuhan proteinnya meningkat 2 kali lipat, kebutuhan karbohidratnya meningkat 2,4 kali lipat, dan kebutuhan zat besinya meningkat 26 kali lipat. 

Saya belum pernah memberi makan anak-anak dengan mengukur kandungan gizinya. Pakai apa pula ya mengukurnya? Saya hanya mengira-ngira saja. Kalau bahan makanan A mengandung karbohidrat, B mengandung lemak, C mengandung zat besi, dan sebagainya. Padahal, proses pemasakan kerap kali mengurangi kandungan gizi tersebut. Itulah mengapa ada yang disebut dengan MPASI Fortifikasi. Fortifikasi bertujuan mengembalikan komponen zat gizi penting yang hilang pada saat pemrosesan makanan, seperti penggilingan padi menjadi beras. Pada MPASI Fortifikasi, ditambahkan satu atau lebih zat gizi mikro, seperti vitamin dan mineral. Misalnya, 30 gram tepung berat tanpa fortifikasi zat besi, hanya mengandung 0,1 mg zat besi. Sedangkan pada 30 gram tepung beras susu yang telah difortifikasi, mengandung 2,25 mg zat besi. Wuiiih… banyak juga ya tambahannyaa…. 

Otomatis, MPASI Fortifikasi ini memungkinkan anak mengonsumsi nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hariannya, terutama  selama 1000 hari pertama pertumbuhannya yang akan menentukan perkembangan fisiknya saat dewasa nanti. Diharapkan, anak-anak Indonesia tidak lagi pendek dan kurus karena kebutuhan gizinya terpenuhi dengan baik. Jadi, tidak ada salahnya menggunakan MPASI Fortifikasi ini, yang dibuat oleh industri makanan bayi. WHO dan UNICEF mengeluarkan Global Strategy for Infant and Young Child, yang di dalamnya berisi keterangan bahwa makanan tambahan yang diproses oleh industri makanan bisa menjadi pilihan Ibu dalam memberikan makanan tambahan yang mudah disiapkan, mencukupi kebutuhan nutrisi bayi, dan aman dikonsumsi. 

Apa maksudnya “AMAN”? Menurut Regulasi SNI 01-7111-1-2005, butir ke-5, disebutkan bahwa penggunaan pengawet makanan buatan tidak diperkenankan pada produk MPASI. Nah, tuh, Bu… padahal, cemilan-cemilan biasa yang dijual di warung-warung itu rata-rata menggunakan pengawet buatan. Kalau sembarangan memberikan cemilan juga tidak baik. Harus pintar-pintar deh memilih cemilan yang aman untuk anak-anak. 

Oleh karena itu, selain membuatkan cemilan sendiri untuk anak-anak, saya juga memberikan cemilan dari MILNA yang diproduksi oleh Kalbe Nutritionals. Kalau menyebut merk MILNA, pasti sudah tidak asing lagi. Sewaktu anak-anak  masih bayi, saya juga memberikan MPASI bubur bayi MILNA, selain bubur bayi buatan sendiri. Nah, untuk cemilannya, MILNA juga punya dua varian produk yang sangat disukai anak-anak, terutama si bungsi. Kakak-kakaknya juga ikut makan, soalnya memang enak. 

 
Biskuit dan Pudding Instan Milna

BISKUIT MILNA (MILNA TODDLER BISKUIT)
Makan biskuit, siapa yang tidak suka? Anak-anak saya sudah bisa makan biskuit sejak usia 9 bulan, terutama kalau gigi mereka sudah tumbuh. Biskuit MILNA ada dua rasa: keju dan cokelat. Salim paling suka yang rasa keju, karena gurih sekali. Tahu sendiri kan anak-anak itu suka makanan ringan yang gurih-gurih. Daripada dikasih chiki-chiki yang mengandung MSG, mending dikasih biskuit MILNA rasa keju ini. Rasa gurihnya berasal dari keju asli. Biskuit MILNA mengandung kalsium, zat besi,  vitamin C, 11 Vitamin, dan 6 Mineral. 

Biskuit Milna rasa keju dan cokelat


Bangun tidur, langsung makan biskuit Milna :D
Pudding Instan MILNA (MILNA TODDLER INSTAN PUDDING)
Anak-anak saya suka sekali makan pudding yang kenyal seperti agar-agar. Pudding susu MILNA ini ada tiga rasa: Strawberry, Vanila, dan Cokelat. Di antara ketiganya, anak saya paling suka yang rasa cokelat.  Praktis sekali membuatnya, hanya ditambah dua gelas air mendidih. Jadi, tidak perlu dimasak. Cukup  diaduk-aduk dengan air mendidih. Ibu bisa membuat puddingnya sekaligus banyak, lalu ditaruh di kulkas. Nanti anak-anak bisa makan kapan saja kalau mau. Si sulung, Ismail, juga membawa pudding ini ke sekolah sebagai tambahan bekal makan siang. Beberapa waktu lalu, dia mengeluh karena bekal makananannya tidak ada pudding, sedangkan bekal makanan punya temannya ada pudingnya. Yah, namanya juga anak-anak, maunya sama dengan teman-temannya hehehe…. 

Tiga varian Milna Toddler Instan Pudding

Mudah membuatnya, tinggal tambah air mendidih

Setelah jadi, simpan di kulkas dulu biar mengeras

Nyaaam... puddingnya enaaak....

MILNA Pudding Instan dapat diberikan kepada anak di atas usia 12 bulan, mengandung kalsium dan 10 vitamin (lemak, protein, karbohidrat, vitamin A, C, D3, E, B1, B2, Niasin, Kalsium, dll), bermanfaat untuk pembentukan tulang dan mempertahankan kepadatan tulang dan gigi. Kandungan zat gizi mikro dan  makro berfungsi untuk membantu pertumbuhan. 

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 42 (2013) melalui Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang merupakan wujud komitmen pemerintah untuk memerangi masalah kekurangan gizi anak, diantaranya dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia akan pemenuhan AKG (Angka Kecukupan Gizi Anak). MILNA biskuit bayi dan pudding instan ini dapat memenuhi AKG, karena ikut mendukung program pemerintah. Kandungan nutrisinya paling lengkap di antara produk-produk MPASI lain yang ada di pasaran. Bukan itu saja. MILNA juga sesuai dengan regulasi SNI yang berlaku, yaitu tidak mengandung pengawet. Bahan baku yang digunakan memiliki kadar air dan aktivitas air yang rendah, sehingga mencegah berkembangnya bakteri pathogen. Dikemas dalam alumunium foil, sehingga kedap udara, juga dapat mencegah berkembangnya bakteri pathogen. Menjamin produk aman dikonsumsi hingga 18 bulan dari proses produksi, tanpa bahan pengawet. 

Hebatnya lagi, untuk memfasilitasi ibu-ibu yang senang mengabadikan momen-momen perkembangan emas si kecil, MILNA mengadakan kompetisi BAYI HEBAT MILNA 2015 untuk bayi hebat usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Sebuah program nasional yang membuka kesempatan bagi para Ibu di seluruh Indonesia, untuk merayakan pencapaian milestone buah hati. Untuk mempermudah memperoleh produk-produk MILNA, Kalbe Nutritionals telah menghadirkan layanan terbaik untuk semua pelanggan, yaitu melalui strategi layanan konsumen terpadu, termasuk dengan menghadirkan layanan konsumen KALBE Customer Care 0800-140-2000 (bebas pulsa), layanan pesan antar KALBE Home Delivery 500880, layanan pesan online KALBE e-Store (www.kalbestore.com), hingga eksistensi KALBE Nutritionals di ranah digital melalui kanal-kanal jejaring sosial, yang bertujuan untuk semakin mendekatkan diri, dan memudahkan para pelanggan untuk menjangkau produk-produk Milna. 

http://www.bayihebatmilna.com/


13 comments:

  1. Anak saya juga makan milna,, ini bagus banget buat tumbuh kembang anak

    ReplyDelete
  2. Jadi ibu harus berusaha untuk selalu kreatif dan mencari solusi yang bu.

    ReplyDelete
  3. anakku udah 3 tahun lebih, ga bisa ikut ya??

    ReplyDelete
  4. dedeknya ngemil2 sehat ya...doyan banget tuh sepertinya...aku dikasih pastinya doyan juga hahaha

    ReplyDelete
  5. wah sekaarng produk2 seperti itu sudah banyak ragamnya tidak kayak aku dulu, semua serba harus bikin sendiri, untungnya anak2ku gak susah makan

    ReplyDelete
  6. bayi hebat...anak hebat...ibu juga hebat..

    ReplyDelete
  7. Ini cemilan kesukaan anakku waktu mereka bayi nih...sekarang dah banyak ya variannya

    ReplyDelete
  8. Puding instant itu gampang banget ya bikinnya .

    ReplyDelete
  9. saya baru tahu kalau milna ada pudingnya mbak hehe

    ReplyDelete
  10. wah mbak alhamdulillah..baru ingat kalau milna bukan hanya bubur tapi juga ada biskuit dan puding nya :D
    kalau cemilan lain rata rata kadar gula nya tinggi ya..ini yg bikin anak susah tidur malam..loncat loncatan terus

    sukses lombanya

    ReplyDelete
  11. Nai dulu doyan juga sama pudingnya. Gutlak yaaaa Mbak :)

    ReplyDelete
  12. Wahhh aku juga mau tuh pudingnya! Eh, biskuitnya juga deh.. Hihihi :P

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^