Tuesday, 7 April 2015

ASI Untukku dan Bayiku


Menyusui bukan hanya kebutuhan anak, tetapi juga ibu....

Setelah putra ketigaku lahir, aku bertekad untuk menyusuinya sampai umur dua tahun seperti putra keduaku. Manfaat menyusui sudah banyak kurasakan, diantaranya: tidak perlu keluar uang untuk membeli susu formula yang mahal, air kencing bayi tidak terlalu banyak sehingga tidak terlalu sering pipis, tubuhnya padat berisi dan tulangnya kuat, serta perkembangan motoriknya lebih cepat. Aku membandingkan perkembangan putra kedua dengan putra pertama yang minum susu formula sejak usia 6 bulan karena aku sudah hamil anak kedua.

Seandainya waktu bisa diputar ulang, tentu aku ingin bisa menyusui putra pertama sampai usia dua tahun. Apa yang terjadi, tak perlu disesali karena semua sudah menjadi kehendak Allah Swt. Aku hamil lagi di saat putra pertama baru berusia 3 bulan dan harus berhenti menyusui karena kondisi fisikku yang lemah bahkan harus istirahat total karena mengidam berat. Alhamdulillah, ASI-ku melimpah. Di hari ketiga setelah melahirkan, payudaraku bengkak sampai sakit luar biasa dan sakitnya reda setelah bayiku menyusu. Ternyata obatnya adalah menyusui. 

Bagiku sendiri, menyusui adalah momen paling indah antara seorang ibu dan bayinya. Saking menyenangkannya, aku menyusui putra kedua sampai lewat dua tahun. Proses menyapihnya sangat sulit. Selain aku yang tidak rela, putraku juga sulit disapih. Dari mulai weaning with love, mengolesi puting dengan daun brotowali  (dia hanya nangis sebentar, lalu menyusu lagi setelah rasa pahitnya hilang karena dihisapinya), dan dengan terpaksa menitipkannya ke neneknya selama satu bulan. Cara yang terakhir itulah yang berhasil, walaupun aku sempat "dibencinya" dengan pura-pura lupa mamanya, hehehehe.... Apa boleh buat, anakku kecanduan menyusu. Barangkali karena kami menjalani proses menyusu dengan nikmat. Belum lagi, setiap proses menyusui, aku memperlakukannya dengan istimewa. Membaca doa-doa, bernyanyi, mengusap rambutnya, atau sekadar mengobrol. Jadilah dia betah menyusu sampai dua tahun lebih. 

Salim, 5 bulan
Nah, pengalaman menyusui putra yang ketiga ini lebih dramatis. ASI baru keluar di hari ketiga, sedangkan di hari kedua, bayiku sudah menangis keras minta susu. Menurut referensi yang kubaca, tak perlu diberi ASI karena masih ada cadangan lemak di tubuhnya. Ternyata dia terus menangis, sementara ASI-ku tak keluar. Mulutnya kutempelkan ke payudaraku dan dia masih saja menangis karena belum ada ASI yang keluar. Terpaksa, dia kusuapi susu formula pakai sendok, bukan botol. Bidanku cukup mendukung pemberian ASI, sehingga dia terus mewanti-wanti agar aku memberi bayiku ASI--bila ASI-ku sudah keluar. Di hari ketiga, ASI-ku keluar disertai drama lebih parah, yaitu puting lecet!

Rasanya ingin berteriak setiap kali  bayiku mau menyusu. Putingku lecet sekali, bahkan sampai berdarah. Aku harus meringis kesakitan saat bayiku menyusu. Berkali-kali aku terpikir memberi bayiku susu formula, syukurlah aku masih bertahan memberinya ASI. Puting lecet itu diobati dengan ASI juga, yang kuoleskan di sekitar puting. Seminggu kemudian, putingku normal kembali dan sudah bisa menyusui dengan enak. Tiga bulan pertama, ASI-ku deras. Bulan berikutnya, aku mulai was-was karena ASI-ku terasa sedikit. Untuk memastikannya, aku sering memencet payudara. Dari situ aku mulai berpikir pentingya memerah ASI terutama saat ASI sedang banyak-banyaknya, untuk persediaan bila ASI sedang sedikit. Walaupun aku bekerja dari rumah sehingga bisa menyusui kapan saja, tetapi ada kalanya aku perlu menggunakan ASI perah terutama bila produksi ASI sedang menurun atau ingin pergi tanpa membawa bayi.

Sudah ada giginya, jadi sering menggigit puting Mama
Produksi ASI-ku memang naik turun. Ada kalanya banyak, ada kalanya sedikit. Biasanya, ASI-ku menurun kalau aku sedang sakit, malas makan dan minum, atau sedang banyak pikiran. Bayi juga akan rewel jika ASI-nya sedang sedikit, dia akan menggigit puting sampai lecet. Huhuhu.... kalau sudah begitu, aku hanya meringis-ringis kesakitan sambil berdoa semoga dia tidak lama-lama menyusu. Dulu, waktu anak pertama, aku sering memerah ASI tapi rasanya sakit. Pompa ASI yang kupakai itu mirip penyedot WC itulah, hehehe.... jadi harus dipencet bulatan karetnya yang berwarna merah dan itu sangat menyakitkan. Selain itu, ASI-nya juga tumpah ke mana-mana karena pompanya hanya bisa menampung sedikit ASI, sehingga harus cepat-cepat dimasukkan ke dalam botol. Biasanya, aku memompa sambil meletakkan kain lap di bawah payudara agar bajuku tidak basah. Tangan pun jadi lengket oleh ASI. Betapa merepotkan. Aku pun kapok memompa ASI lagi, sehingga tak memiliki ASI perah untuk persediaan atau cadangan ASI.

Urusan memerah ASI ini ternyata menjadi masalah besar, terutama bagi ibu-ibu yang bekerja. Saat ini, dua adikku (adik kandung dan adik ipar) juga memiliki bayi usia 3 dan 4 bulan, sedangkan ibunya harus kembali bekerja. Ah, kasihan sekali karena keponakan-keponakanku itu terpaksa minum susu formula selama ibunya bekerja. Alasannya sama: capai memerah ASI! Puting lecet, belum lagi ASI yang keluar hanya sedikit. Duh, padahal sebelumnya mereka semangat sekali memberikan ASI. Bayinya pun tidak mau diberi susu formula. Coba kalau mereka bisa nyaman memerah ASI, tentu bayi mereka tetap bisa minum ASI.

Lalu, aku membaca-baca referensi di internet mengenai pompa ASI yang bagus dan nyaman dipakai, dan ketemulah info tentang Philips Avent Breastpump. Ada yang manual dan electrik. Keduanya nyaman dipakai dan tidak membuat puting lecet. ASI yang keluar juga lebih banyak, karena Ibu tak perlu menunduk saat memerah ASI. Kalau punggung tetap tegak saat memerah ASI, ASI bisa keluar lebih banyak. Jika memerah ASI bisa demikian mudahnya, rasanya tak ada alasan lagi untuk tidak memberikan ASI kepada bayi kita, karena memberikan ASI bukan hanya menguntungkan bayi tetapi juga ibunya.

Alhamdulillah, aku masih bisa memberikan ASI untuk putraku. Semoga kamu selalu sehat, cerdas, dan bahagia ya, Nak.


7 comments:

  1. wah memang iya mbak ASI itu hemat, Al pakai sufor boros bangeeeet

    ReplyDelete
  2. wah memang iya mbak ASI itu hemat, Al pakai sufor boros bangeeeet

    ReplyDelete
  3. yeay.. hidup ASI! Akmal sampai sekarang 27 bulan masih menyusu juga Mba

    ReplyDelete
  4. saya pengen nyusui mak, tapi bebi belum punya hehehhe. mohon doanya yaa :)

    ReplyDelete
  5. berbhagialah yang air susunya keluar, aku sama sekali gak keluar hanya payudaranya saja yang bengkak dan sakitnya dan demam tinggi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak coba pijat payudara saja atau ke klinik laktasi ya.. semoga bisa ngAsi sampai 2 thn.

      Delete
  6. Alhamdulillah anakku juga dua2nya ASI walau ga sampai penuh 2 tahun. Tapi ga pake pemerah ASI, langsung sedot aja :D

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^