Tuesday, 24 March 2015

Ribetnya Menjadi Ibu Bekerja

Kemarin saya ke rumah orang tua di Ciputat, karena adik saya yang nomor tiga (Ayya) akan pindah ke rumah mertuanya. Beberapa minggu lagi, Ayya akan kembali masuk ke kantor. Seperti biasa, kami ngobrol-ngobrol. Di antara tiga bersaudara yang sudah berumahtangga, hanya Ayya yang masih bekerja di kantor. Keadaan memaksanya harus bekerja di kantor. Saya dan adik nomor dua (Irma) sudah resign dari kantor dengan berbagai konsekuensi yang harus kami terima, seperti tidak bisa rutin memberikan uang ke orangtua karena tidak punya penghasilan sendiri. Kalau saya menyiasatinya dengan mencari penghasilan dari rumah, yaitu menulis dan memberikan pelatihan kelas menulis novel. Walaupun hasilnya tidak banyak dan tidak tentu (tak seperti kerja kantoran), saya sudah bersyukur. Yang penting bisa kasih orang tua. Kalau Irma menyiasatinya dengan menyisihkan uang belanja pemberian suaminya, setiap bulan ditabung sedikit-sedikit, lalu dikasihkan ke orangtua. 


Tentunya, Ayya punya alasan mengapa masih ngantor. Alasan paling kuat adalah ekonomi. Apa pun keputusannya, semoga itu yang terbaik. Walaupun dari dalam hati adik saya itu ingin sekali resign. Apalagi dia baru punya bayi. Kami ngobrol-ngobrol tentang pemberian ASI. Ayya ingin anaknya dikasih ASI Eksklusif, kalau perlu sampai 2 tahun, karena dia melihat positifnya pemberian ASI Eksklusif itu terhadap keponakan-keponakannya, yaitu anak-anak saya dan anak Irma hehehe... Masalahnya, memberikan ASI Eksklusif itu ribet sekali bagi seorang ibu yang bekerja. Ayya sudah membeli botol ASIP, memerah ASIP (tapi keluarnya sedikit), sterilizer, dan sebagainya. 

"Ribet banget ya Mbak, ASI-nya harus diperah dulu, disimpan di kulkas, diangetin dulu kalau mau dikasihin. Kalau anaknya keburu nangis, gimana?" keluhnya. "Mana ini kulkasnya nggak dingin. Kemarin ASIP-nya asem, udah basi kali ya?"

Ya, saya tidak tahu, saya kan tidak memberikan ASIP. Alhamdulillah, saya tidak perlu repot-repot begitu. Kalau bayi mau menyusu, tinggal buka kancing baju. Akhirnya toh Ayya terpaksa membeli susu formula, karena bayinya kelak akan dititipkan ke ibu mertua. Ibu mertuanya sudah meminta susu formula karena tidak mengerti soal ASIP dan merasa ribet. Orang zaman dulu kan memang belum teredukasi mengenai ASIP. Kalau memaksa juga tidak enak, wong anaknya sudah dititipin masih ngerepotin. Adik ipar saya yang juga baru masuk bekerja, akhirnya terpaksa memberikan susu formula kepada bayinya selama ditinggal bekerja. 

Waktu itu, saya melihat tayangan televisi tentang jasa pengantar ASI dari kantor ke rumah, tarifnya Rp 4.000/ kilometer. Jujur saja, pikiran saya: "mahal juga ya jadi ibu bekerja. Gajinya banyak untuk biaya ngasih ASI. Pengorbanan yang luar biasa."

Itulah pertimbangan saya dulu kenapa berhenti ngantor. Saya hitung-hitung, gaji dari kantor tidak mencukupi untuk membayar kompensasi kewajiban yang saya tinggalkan di rumah, terutama kewajiban mengurus anak-anak. Untuk memberikan ASI saja, biayanya luar biasa. Kalau saya di rumah, ASI-nya gratis. Mungkin banyak ibu-ibu bekerja yang berhasil memberikan ASIP, tapi dua ibu bekerja (adik dan adik ipar) yang kesulitan memberikan ASIP sudah menjadi contoh bahwa pekerjaan itu amat ribet. 

Tulisan saya bukan ingin menyudutkan ibu bekerja, tapi murni pemikiran selintas. Hohoho... memang ribet sekali jadi ibu bekerja. Bila memiliki keterampilan yang bisa dilakukan di rumah, lebih baik bekerja dari rumah. Itu sih alternatif pilihan saya. Sedangkan Irma, memiliki suami yang sangat mendukung. Irma memang tidak bekerja, tapi suaminya memberikan kesempatan agar istrinya tetap bisa memberikan uang untuk orangtua. Untungnya, Irma juga tidak neko-neko. Tidak banyak kepinginan. Jadi, disuruh hidup hemat pun ayo saja. Kalau pilihan-pilihan itu tidak ada pada seorang ibu bekerja, ya terpaksa harus bekerja kantoran dengan konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung. 

Memberikan ASIP--jujur saja--biayanya mahal. Bagi ibu bekerja yang gajinya pas-pasan seperti adik saya, terpaksa memberikan susu formula untuk menggantikan ASI selama dia bekerja. Coba hitung saja kalau tetap mau memberikan ASIP: biaya botol perah, waktu untuk memerah (apalagi kalau ASI-nya hanya keluar sedikit), frezeer penyimpan ASI (biaya sewanya saja Rp 400.000), biaya pengasuh yang mau ribet memberikan ASIP, alat pensteril botol ASI, biaya pengantar ASI, dsb. Kalau hanya menitipkan anak ke orangtua, terpaksa menerima ketentuan orangtua yang tidak mau direpotkan memberikan ASIP. 

Hidup ini memang harus memilih, dan harus menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Sebagai ibu yang tidak bekerja kantoran, saya pun kadang merasakan galau ahahahaha.... Apa lagi kalau bukan tidak mandiri finansial? Saya memang punya penghasilan dari menulis, tapi tidak tentu datangnya. Kadang ada, kadang tidak. Nah, itu yang membuat saya harus berhemat. Kalau punya keinginan ini-itu, tidak bisa langsung terpenuhi. Harus menghitung-hitung, apakah uangnya cukup? Belum tentu bulan depan ada pemasukan lagi. Lain halnya dengan ibu bekerja, bulan depan pasti ada pemasukan lagi karena pemasukannya tetap. Kadang saya ngiri juga dengan ibu bekerja yang punya pemasukan tetap. Eh, pemasukan saya juga tetap dari suami, tapi nyaris nihil untuk keperluan pribadi saking mepetnya untuk kebutuhan sehari-hari. 

Apa pun pilihan kita, dinikmati saja dan jangan disesali karena pilihan itu adalah pilihan sadar yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. Bagi ibu-ibu yang bekerja, tetap semangat memberikan ASIP! Saya cuman bisa geleng-geleng kepala, salut! 












23 comments:

  1. Nggak ribet kalau tahu manajemen ASIP. Mudah kok kalau mau belajar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, adikku harus diajarin sama Mak Arin nih :D

      Delete
  2. Jesica ya mbak, jemput asi seketika. Mengatasi kesulitan ibu pekerja yang mau tetap memberikan asi untuk anaknya.

    ReplyDelete
  3. saluuut juga sama ibu bekerja, ga bisa kalo saya pikiaran bercabang antara keluarga dan pekerjaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Niaa... aku juga gak bisa stress ngadepin bos galak wkwkwk

      Delete
  4. kalau dihitung2, lebih mahal pake susu formula mbak karena tiap bulan harus beli. kalau asip cuma modal botol kaca aja, pompa bisa pakai tangan. dan botol asip justru tidak perlu disteril karena asi mengandung zat anti bakteri. botol sufor yang malah harus disteril. kulkas bisa pakai kulkas di rumah. tidak perlu pengantar asip kan sudah distok dari jauh-jauh hari.
    tapi ya memang prosesnya tidak instan seperti memberi susu formula. harus belajar dari jauh2 hari bagaimana manajemen asip dan dari jauh-jauh hari harus sudah mengedukasi orangtua/mertua. banyak yang sampai mengajak orangtua/mertuanya ke dokter biar dokter yang menjelaskan pentingnya asi. semua tergantung niat. kalau mau belajar pasti bisa. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih infonya, Mak Nisa. Langsung kukasihtau adikku kalau botol ASIP gak perlu disteril. Semoga dia jadi semangat ngasih ASIP.

      Delete
  5. anakku sampai skrh nasih asi mba. tp pake sufor juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rencananya adikku jg gitu, ASI campur Sufor, Win.

      Delete
  6. salut sama ibu-ibu bekerja yang tetap mengutamakan keluarganya :)

    ReplyDelete
  7. Memang ibu yang bekerja mengorbankan banyak sekali... tapi itu memang pilihan yang harus dijalani dan diterima segala konseskuensinya, Mak.
    Memang lebih enak jika bisa mendampingi anak2 sepanjang waktu ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara kodrati memang lebih enak gak kerja, tp keadaan tiap ibu kan berbeda ya mbak.

      Delete
  8. Kalo saya dulu ga perlu jasa kurir mbak, nyetok banyak dikulkas, dan hasil perahan dikantor tinggal bawa plg, bahkan pas anak pertama kejar tayang, jd hasil perahan hari ini buat bsk, tp tetep lulus sampe 1,5 thn. Yah, balada ibu bekerja mbak. Tapi tetep hepi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, kulkasnya rusak, Mbak, udah gak dingin lagi :D Harus beli kulkas dulu.

      Delete
  9. saya menyaksikan teman-teman kantor yang ASIP lumayan repot. Di sela2 jam kerja, izin ke belakang(toilet) untuk mompa ASI...sebab kalau tidak, air susu sampai tumpah-rumpah...(sementara di rumah, mungkin sang bayi sedang nangis, mengharap asi mamanya), belum rasa sakit akibat ASI berlimpah tadi...:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun membayangkannya begitu, Mbak Anita.

      Delete
  10. Anak2ku asi semua sampai dua tahun, dan saya tetep kerja. Tapi, memberikan asi memang betul2 ribet kok, penuh pengorbanan, ada belajarnya dulu, prosesnya gak instan sama sekali, meski hasilnya juga sepadan.

    Ya kita hendaknya mengormati pilihan setiap ibu, karena kondisi kita satu sama lain tidak sama. Ibu yg baik dan ngerti pasti selalu ingin memberi ASI, tapi balik lagi sama kondisi tiap orang yg berbeda2.

    Saya pernah ada pasien, ibu bekerja, anaknya drumah dikasih sufor. Pas saya tanya kenapa gak beri asip aja, kan udah diajari pelan2, dia bilang dia sama tetangganya gak ada yg punya kulkas, dan dia kerja di tempat kotor, anaknya dititip sama ibu yg udah tua dan susah juga kalau mau diajari manajemen asip. Bagusnya sih kalau sikon nya gitu ya ibu gak usah kerja kan, Tapi kalau gak kerja, mau makan apa? :)) inilah, kondisi tiap ibu bekerja gak sama, yg tadi contoh ekstrim aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, pengorbanannya memang banyak. Wong yg ngasih langsung dari putingnya pun kadang males kalo anaknya nenen terus. Kondisi tiap ibu memang berbeda, adikku itu kurang lebih mirip seperti pasien Mbak.

      Delete
  11. Nggak ribet kok mbk, yang penting tau ilmunya :) aku alhamdulillah sukses ASIP :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya kadar ribet atau enggaknya itu bergantung pada masing2 ibu.

      Delete
  12. saya ibu bekerja dan ASIP, asalkan tau manajemen asip sepertinya ga begitu mba. and remember every moms is Working. working at home or working at office its same.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^