Monday, 30 March 2015

[IHB March Blog Post Challenge] I'm a Novelist


Saya dan novel terbaru :-)

“Boleh tahu profesi Ibu apa?” suara lembut di seberang ponsel, bertanya.
“Penulis Freelance,” jawab saya, percaya diri dong….
“Oh, penulis apa ya?” dia masih bertanya. Saya kira sudah cukup menjawab “Penulis.” Ya sudah, saya jawab lagi,
“Penulis novel.”
“Oh, woow…. Novelnya sudah ada di toko  buku?”
“Sudah Mbak, silakan saja dicari,” saya tersenyum-senyum.


Bukan sekali itu saja ada orang yang excited begitu mendengar bahwa profesi saya adalah penulis novel,  dan lagi-lagi orang itu seorang CS (Customer Service sebuah Bank, padahal dulu saya ingin bekerja di Bank demi memenuhi permintaan orangtua). Sebelumnya, saya juga pernah melihat ekspresi “terkejut” dari seorang CS Bank Syariah, ketika saya sedang mengganti ATM dan buku tabungan. Pertanyaannya malah ditambah dengan,

“Penulis novel itu seperti Asma Nadia, kan?”
“Ya, seperti dia,” jawab saya.
“Nama pena Mbak apa?”
“Saya pakai nama asli kok. Nama yang tertulis di buku tabungan itu.”
“Saya suka baca novel juga, Mbak. Nanti saya cari ah di toko buku,” katanya, dengan senyum yang tak henti.

Ketika sedang mengantar anak saya berobat ke sebuah klinik, saya merasa berbunga-bunga melihat dokter jaga sedang membaca sebuah novel! Iya, novel! Dokter saja baca novel. Walaupun bukan novel saya, saya tetap bahagia melihatnya. Apalagi novel yang dibaca oleh dokter itu adalah novel karya penulis Indonesia, bukan novel terjemahan. Dengan kata lain, novel sudah semakin memasyarakat. Bukan hanya sesama penulis novel yang suka membaca novel, tetapi juga penyandang profesi lain, sekalipun itu Dokter dan Banker.

Agaknya, profesi novelis sudah mulai dikenali. Di lingkungan tempat tinggal saya pun, orang-orang langsung paham begitu mengetahui bahwa saya seorang penulis novel. Mulanya, suami saya yang memperkenalkan profesi saya itu kepada bapak-bapak yang bertanya.

“Istrinya sering belanja online ya, Pak? Kok katanya sering ada tukang pos yang datang mengantar paket-paket?” tanya seorang bapak tetangga. Jiyaaah.. disangka sering belanja online, boros kali yaaa….
“Bukan, Pak. Itu isinya buku-buku. Istri saya seorang penulis.”
“Oh, penulis? Nulis apa?”
“Nulis novel.”
“Wah, hebat dong….”

Dan… setelah itu, ibu-ibu tetangga pun menanyakan hal yang sama kepada saya.

“Oh, Bu Dikki suka nulis novel ya? Sudah berapa banyak novelnya?” dan sebagainya, dan sebagainya.

Bahkan, pernah, yang lebih ekstrim, saya diminta mengajar menulis cerita kepada anak-anak di musala dekat rumah selama bulan Ramadan. Lalu, saya juga diminta membacakan cerita pengantar berbuka puasa. Sayangnya, kegiatan itu berhenti karena kemudian saya punya bayi lagi. Di antara anak-anak remaja yang mengikuti pelajaran menulis cerita itu  pun ada yang mengakui kalau dia suka menulis novel.

“Saya suka baca novel Ibu, lho. Bagus bangeeet…,” katanya, dengan wajah semringah. Tentu, wajah saya lebih semringah. Heh, ternyata novel saya sampai di tangan anak-anak warga sini juga. Belakangan saya tahu kalau suami membagi-bagikan stok novel-novel saya yang ada di rumah untuk hadiah doorprize acara tujuhbelasan di komplek perumahan tempat tinggal kami. Jiyaaah… kirain mereka beli novel saya. Tidak apa-apa, dengan begitu, profesi penulis novel menjadi lebih dikenal dan dihargai.

Padahal, dulu, apalah penulis novel itu. Kalau menyebut profesi sebagai penulis novel, banyak orang yang tidak mengerti. Novel itu apa? Penulis apa? Oh, maksudnya petugas administrasi ya? Sekretaris? Astaghfirullahaladziim… barangkali itu karena dulu masih banyak orang yang tidak suka baca buku, jadi tidak tahu novel itu apa. Semenjak munculnya gairah membaca dan menulis buku di kalangan remaja Indonesia, profesi penulis pun mulai disejajarkan dengan profesi-profesi lain. Bahkan, banyak penulis yang tak ubahnya selebritis. Diwawancarai, difoto-foto, dan ikut main film. Jadi, tidak heran jika masyarakat semakin mengenal profesi yang satu ini.

Perjalanan saya menjadi penulis novel dimulai sejak tak kurang 20 tahun lalu, ketika masih duduk di bangku kelas 6 SD. Walaupun belum seterkenal novelis-novelis lain, saya sudah menerbitkan lebih dari 20 novel solo dan buku-buku nonfiksi di Penerbit Mayor: kelompok Penerbit Mizan, Gramedia Pustaka Utama, Elex Media, Agromedia, dan penerbit-penerbit lain. Memang, novel-novel saya belum ada yang penjualannya bombastis seperti Andrea Hirata dan Raditya Dika, tetapi setidaknya saya sudah berhasil mewujudkan sebagian mimpi masa remaja.

tiga novel terbaru
Saat duduk di bangku SMA, seorang teman pernah bertanya, “nanti kamu mau kerja apa, La?”
Saya menjawab dengan mantap, “ibu rumah tangga.”
“Hah? IBU RUMAH TANGGA?! Banyak yang mau jadi wanita karier, kenapa kamu malah mau jadi ibu rumah tangga?”

Saya hanya tersenyum. Tentu saya akan menjadi ibu rumah tangga, tapi juga menulis novel di rumah. Saya akan bekerja dari rumah, sehingga masih bisa mengawasi dan menyaksikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Saya memilih menjadi penulis novel agar bisa mewujudkan cita-cita saya lainnya, yaitu ibu rumah tangga. Karena, menulis novel bisa dilakukan di mana saja, termasuk di dalam rumah.

Memang, untuk menjadi penulis novel, membutuhkan waktu yang  panjang. Saya pun membutuhkan waktu tak kurang 20 tahun, belajar otodidak menulis novel. Sedikit demi sedikit saya mendapatkan wawasan dan pengetahuan mengenai cara menulis novel yang baik dan benar dari naskah-naskah yang ditolak. Tidak ada proses yang instan, kecuali jika memiliki pembimbing. Sebab, seorang pembimbing telah berpengalaman lebih dulu menembus dunia penerbitan. Untuk itulah, pertengahan bulan Februari lalu, saya membuka kelas menulis novel secara online yang kini sudah diikuti oleh 12 peserta dengan target menyelesaikan penulisan satu novel.  Kelas tersebut tentu saja berbayar, karena saya harus menyediakan waktu untuk mengoreksi naskah-naskah para peserta dan memberikan masukan untuk perbaikan agar kelak naskah-naskah mereka layak terbit.

Menulis novel adalah pekerjaan kreatif, hasilnya tidak stabil sebagaimana karyawan kantoran. Kalau karyawan kantoran dibayar sekian setiap bulan, penulis novel tidak. Hanya sebagian saja penulis novel yang bisa menerbitkan buku best seller dan menghasilkan royalty trilyunan, seperti Tere Liye. Jadi, jika hanya karena ingin mendapatkan uang, maka sebaiknya jangan memilih profesi ini. Sungguh, pada awalnya, profesi ini bukanlah pencetak uang yang bagus. Menulis novel, bagi saya pribadi, lebih banyak memuaskan hati dan jiwa. Percayalah, jika hanya karena uang, saya pasti sudah resign dari profesi ini sejak dulu. Tapi, entah kenapa, saya masih suka menulis novel. Salah satu penyebabnya, seperti adegan percakapan di atas. Selain itu juga karena:


  • Saya bisa mewujudkan semua mimpi masa kecil saya, menjelma ke dalam tokoh-tokoh yang saya ciptakan.
  • Saya bisa memasukkan ide-ide, pemikiran, dan pengaruh saya ke dalam otak para pembaca. Saya fokus menulis novel-novel yang memberikan inspirasi positif, termasuk nilai-nilai Islam di dalamnya, semoga dapat bernilai ibadah.
  • Saya bisa menghibur pembaca, bila mereka ikut larut ke dalam tulisan-tulisan saya.
  • Saya bisa memperoleh semburan rasa bahagia setiap berhasil menyelesaikan satu novel, melihatnya diterbitkan, dan dibaca orang.
  • Saya sendiri juga terhibur saat menuliskan adegan-adegan para tokoh yang sedang bahagia, jatuh cinta, atau apa pun.


Salah satu testimoni pembaca yang membuat saya terharu :') 

Pada intinya, bagi saya pribadi, memilih profesi bukan semata karena uang atau penghasilan yang bisa didapatkan dari profesi tersebut. Melainkan juga karena dorongan hati, rasa bahagia yang ditimbulkan, dan manfaatnya untuk agama dan orang lain.  Sesedikit apa pun royalti yang saya dapatkan (kadang malah tidak bisa diambil karena kurang dari syarat transfer minimum), saya tetap suka menulis novel sejak hampir 20 tahun lalu. Kalau tidak menulis, seperti ada yang mendobrak ingin keluar dari kepala saya. Untuk bisa menjadi seperti sekarang, sudah tak terhitung batu kerikil hingga batu besar yang saya lewati, termasuk salah satunya adalah restu orangtua. Seperti yang saya sebutkan sekilas, orangtua lebih suka bila saya menjadi Banker daripada Novelis, karena saya seorang sarjana Ekonomi, tetapi saya… seperti yang sedang Anda lihat. Saya seorang Novelis.


 



10 comments:

  1. Kereeeen Ela...bener ya kalo kerja karena cinta ya ringan aja rasanya...

    ReplyDelete
  2. keren keren dan keren nggak ada yg lain wes...ahhh...jadi mupeng nih aku mbak :)

    ReplyDelete
  3. Asyik juga ya mbak dengan menulis novel kita bebas mengatur jalan cerita

    ReplyDelete
  4. Mantap... Apalagi bisa menginspirasi orang lain dan apa yang kita tulis memberikan manfaat juga.

    ReplyDelete
  5. ngiriiii... pengen... tapigabisa berbuat..ha2

    ReplyDelete
  6. Asyiik bisa menulis novel. Sukses GA nya mak..

    ReplyDelete
  7. kereennn mbaaa! Sukses terus mbaa :))

    ReplyDelete
  8. ikut bangga sama mbak leyla.
    semoga sukses terus ya ^_^

    ReplyDelete
  9. Bahagia bisa kenal dengan novelis produktif dan ngetop seperti Leyla ^^

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^