Thursday, 16 October 2014

Sejahtera di Masa Pensiun bagi Seorang Pekerja Lepas



Sejahtera di masa pensiun? Apakah seorang pekerja  lepas bisa menikmatinya? Tentu bisa.



Menjadi seorang freelancer atau pekerja lepas sesungguhnya keputusan yang penuh risiko. Ya, sejak menikah, saya memilih bekerja dari rumah, menekuni hobi yang sudah menjadi profesi. Hobi menulis yang sudah saya tekuni sejak remaja, rupanya mulai memberikan penghasilan lumayan.  Saya menulis apa saja: buku, blog, cerita pendek, dan artikel-artikel untuk media. Lalu, terbayang, bagaimana kehidupan saya di masa tua kelak? Saya memang punya suami dan tiga orang anak, tapi kita toh tak bisa terus bergantung kepada orang lain, bukan? Kita juga harus berusaha sendiri dan merencanakan kehidupan kita kelak, walaupun Tuhan sebaik-sebaiknya perencana. Itulah yang dinamakan dengan ikhtiar.

Pekerjaan penulis memang tak memiliki masa pensiun, karena menulis bukan sekadar pekerjaan yang memiliki batas waktu. Pekerjaan menulis sekaligus hobi dan passion ini barangkali akan terus saya tekuni sampai mati, karena saya menikmatinya sebagai bagian dari napas hidup saya. Akan tetapi, tak ada salahnya menyiapkan dana pensiun karena saya juga tidak tahu sampai kapan Tuhan menganugerahkan kemampuan menulis ini. Untuk bisa mempersiapkan dana pensiun, saya harus melek finansial, yaitu memiliki pengetahuan mengenai cara mengatur dan menyusun keuangan agar dapat mencapai kesejahteraan di masa depan.

Strategi dalam Menyiapkan Dana Pensiun
Pertama, dana pensiun harus disiapkan saat usia produktif, yaitu usia 20-30 tahun. Usia saya sudah 30 tahun ke atas, dan memang sudah sedikit-sedikit menyiapkan dana pensiun. Mengapa dana pensiun sudah harus disiapkan pada usia produktif? Karena pada usia itu kita masih semangat bekerja dan menghasilkan. Uang hasil bekerja, jangan digunakan seluruhnya untuk kegiatan konsumsi. Sebagian harus ditabung dalam bentuk investasi yang tidak bisa diutak-atik. Masih banyak orang yang berpikir menyimpan uang dalam bentuk tabungan, tapi sebentar-sebentar uangnya diambil lagi untuk berbagai keperluan. Bagaimana mau dijadikan simpanan, ya?

Kedua, memperkirakan jumlah dana pensiun yang disesuaikan dengan inflasi di masa depan. Nilai uang saat ini berbeda dengan nilai uang di masa yang akan datang. Sepuluh tahun lalu, kita bisa membeli bensin seharga Rp 2.000/ liter, sekarang harganya sudah Rp 8.000/ liter. Bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya juga terus mengalami kenaikan. Besar dana pensiun yang akan kita nikmati kelak dikalikan dengan inflasi 6% per tahunnya.

Ketiga, memilih dana pensiun yang sesuai dengan karakter. Berhubung karakter saya ini moderat, alias lebih suka berada di pertengahan, tidak mau terlalu menanggung risiko tapi juga ingin mendapatkan keuntungan lebih, maka pilihan dana pensiun saya ada pada properti, emas, dan tanah. Bersama suami, kami membeli rumah, tanah, dan menabung dalam bentuk uang. Untuk rumah, selain yang sudah ditempati, kami juga masih mencicil rumah di daerah perkotaan. Untuk tanah, kami membeli di daerah pegunungan di Garut, kampung suami. Memang, jauh dari pusat kota, tapi kelak bisa dikembangkan jadi obyek wisata seperti villa atau tempat pemancingan ikan. Untuk emas, jumlahnya belum banyak.

Keempat, tetap produktif di masa pensiun. Walaupun sudah memiliki dana pensiun, selama masih ada tenaga untuk berproduksi (bekerja), ya harus tetap bekerja, karena bekerja itu tak ada pensiunnya. Apalagi pekerjaan saya sebagai penulis mempunyai keasyikan tersendiri. Selain tetap menulis, rencananya saya dan suami juga akan berbisnis. Barangkali kalau membicarakan pensiun yang benar-benar pensiun dari perusahaan, suami yang akan melakukannya karena mau tidak mau dia memang harus pensiun jika telah mencapai batas waktu pensiun. Nah, makanya kami berencana membuat usaha agar suami tetap produktif. Usahanya itu akan dibangun dari dana pensiun yang sudah kami kumpulkan.

Kelima, memanfaatkan jasa keuangan  yang menyediakan berbagai pilihan proteksi dan investasi, termasuk dana hari tua atau dana pensiun.

Profesi penulis mirip dengan profesi artis yang tidak memiliki jaminan hari tua, bila semua pendapatan yang diperoleh hari ini, dihabiskan untuk hari ini juga. Sebab, kami baru bisa mendapatkan penghasilan jika masih bisa berkreasi. Berbeda dengan pegawai negeri atau karyawan swasta yang mendapatkan dana pensiun atau pesangon dari perusahaannya. Kita sering mendengar kehidupan artis yang menderita di masa tuanya, karena terserang penyakit berat tapi tak punya biaya. Begitu juga dengan penulis. Kami juga beberapa kali mengadakan proyek amal untuk membantu penulis yang kesusahan akibat penyakit atau hidup di bawah standar yang layak. Jika saja penulis sudah merencanakan dana hari tua dari sejak mereka masih produktif, tentu hal itu tak akan terjadi. Selain dapat menyejahterakan diri sendiri, memiliki perencanaan keuangan yang baik untuk masa tua juga dapat memberikan perlindungan keluarga. Tentunya, kita tidak ingin merepotkan anak cucu kita kelak. 

Sumber Penulisan:

















1 comment:

  1. waah kiatkiatnya sangat membantu .. terimakasiih :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^