Wednesday, 29 October 2014

Istri yang Baik, Mensolehkan Suami

"Mah, si F*** kan meninggal gara-gara denger istrinya udah nikah lagi."
"F***? Meninggal...?!" 

Entah sebesar apa mata saya membelalak mendengar teman suami yang namanya diawali huruf F itu meninggal dunia gara-gara istrinya menikah lagi. KOK BISA ISTRINYA MENIKAH LAGI?! Duh, maaf, capslok, untuk menunjukkan bahwa saya kaget sekagetnya. Terakhir kali saya dengar, F sudah bercerai. Itupun sudah membuat saya kaget setengah mati, karena F cukup dekat dengan suami saya.  F adalah bawahan suami saya yang sesekali dimintai tolong mengirimkan paket titipan saya ke kantor POS atau JNE, jadi bisa dibilang "bawahan" saya juga hehe.... 


Saking dekatnya, F dan istrinya pun pernah ke rumah kami, berdua saja, membawa sepaket Mpek-mpek Palembang. Suami juga membeli mainan Angry Bird yang dijual keduanya. Selain kerja kantoran, F  juga jualan mainan secara online, yang lebih sering dipegang istrinya di rumah. Kadang-kadang, F juga membuat pesanan Mpek-Mpek. Iya, F yang membuat, istrinya malah tidak bisa masak. Saya melihat F sosok suami pekerja keras. Kerjaan apa pun yang dia bisa, akan dilakoni. Walaupun saya suka sebel juga, karena F sering tidak masuk kerja. Alasannya, sakit. F juga sering terlambat datang ke kantor gara-gara mengantuk, begadang bikin Mpek-Mpek atau habis keluyurun ke gudang mainan untuk stok di toko onlinenya. Kerja sampingan sih boleh aja, tapi kerja utama jangan jadi nomer dua dong. Sebagai atasannya, sudah tentu suami saya yang dirugikan kalau bawahannya sering tidak masuk. 

Mungkin karena etos kerjanya di kantor kurang bagus, akhirnya F pun terkena pemecatan. Bukan suami saya lho yang memecat, tapi HRD-nya. Suami saya malah kehilangan banget, karena tidak ada yang bisa disuruh-suruh lagi mengirimkan titipan paket dari istrinya :D. Saya kira, masalahnya hanya sampai di situ. Belum selesai dipecat, tidak lama istrinya minta cerai. Entahlah kenapa, suami saya tidak cerita. Lagian, ngapain ngomongin orang? Tahu-tahu suami saya bilang, F sudah bercerai. Saya hanya bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ya cerai? Umur pernikahannya masih dini, anaknya saja baru satu dan masih balita. Keduanya kelihatan dekat dan mesra, sewaktu berkunjung ke rumah kami. Istrinya memang cantik, apa barangkali karena itu ya? Suami bilang, mantan istri F langsung dapat pengganti F. Gara-gara mantan istrinya menikah lagi, F pun depresi, fisiknya drop, sakit-sakitan, dan tak lama kemudian meninggal dunia. 

"Ah, ini istrinya pasti genit, nikah lagi sama laki-laki yang lebih kaya dan mapan karena suaminya dipecat dari pekerjaan," saya geram, tapi suami saya malah bilang, "Justru sekarang mantan istrinya itu jadi tambah alim. Status-statusnya di facebook jadi banyak nasihatnya, udah kayak ustazah. Suaminya yang sekarang juga kayak ustaz-ustaz gitu...."

Saya melongo. Lho? Jadi.... Ah, tak tahulah saya, hanya saja saya "ngenes" akan nasib F. Suami saya banyak cerita tentang nasib F yang tragis. Orang tuanya meninggal sejak F masih kecil, lalu F dititipkan ke kakeknya sampai dewasa. Seharusnya dia bahagia, mendapatkan istri yang cantik dan murah senyum (sebagaimana yang saya lihat sewaktu mereka datang ke rumah saya), tapi tak disangka rumah tangganya pun terkena ujian. Tiba-tiba F mendapatkan surat dari pengadilan bahwa istrinya menggugat cerai. Suami mana yang tidak syok? Apalagi, belum lama bercerai (belum setahun), istrinya sudah menikah lagi. Itukah ciri seorang istri yang baik? Istri yang kini status-status facebooknya berisikan kalimat-kalimat bijaksana untuk orang lain? 

Tentunya, saya tidak bisa mengambil kesimpulan terlalu cepat mengenai siapa yang bersalah dalam pernikahan mereka, karena saya tidak berada di sana. Saya hanya mendengar dari sisi F. Saya prihatin F bisa begitu depresi ditinggalkan istri, sampai meninggal dunia. Usianya masih amat muda, sungguh tak disangka. Mengapa dia tidak mencari wanita lain saja? Percuma bertanya juga, wong orangnya sudah meninggal. Barangkali cintanya terlalu dalam kepada mantan istri, jadi tak berpikir akan ada wanita lain yang lebih baik. Saya prihatin dan jadi ingin menangis. 

Sering kali kita mendengar kisah-kisah suami yang kejam kepada istri, tidak memberi nafkah, berselingkuh, melakukan kekerasan, dan sebagainya, tapi jarang kita dengar seorang istri yang kejam kepada suami. Mengapa? Karena wanita memang lebih banyak bicara, jika seorang istri disakiti suami, pasti orang-orang di sekitarnya juga tahu. Istri-istri juga kadang curhat di sosmed, nyetatus di facebook, kalau suaminya begini-begitu, seakan-akan semua lelaki itu buruk. Sedangkan, laki-laki sebaliknya, tidak banyak  bicara. Masalah dengan istri lebih banyak dipendam. Akibatnya, malah makin stres dan bahkan bisa meninggal dunia. Benar kata orang-orang. Jika istri ditinggalkan suami, masih bisa move on dan berjuang sendiri membesarkan anak-anak. Sebaliknya, kalau suami ditinggalkan istri, malah depresi dan sakit-sakitan (kalau tidak cepat menikah lagi), dan bahkan bisa meninggal dunia. 

Satu yang saya tangkap dari kasus F, barangkali istrinya menginginkan suami yang lebih soleh dari F. Mengapa harus bercerai lalu menikah lagi dan bukannya berusaha mensolehkan suaminya? Saya ingat sebuah kisah tentang sahabiyah, Ummu Sulaim, namanya. Beliau berasal dari kalangan wanita Anshar yang ikut masuk Islam setelah menerima kebenaran Islam dari Rasulullah Saw. Setelah kematian suaminya, beliau tidak menikah lagi kecuali atas seizin putra satu-satunya. Sampai kemudian beliau dilamar oleh Abu Talhah, seorang tokoh yang berpengaruh. Ummu Sulaim menolak, karena Abu Talhah masih kafir. Abu Talhah tak menyerah, dan datang melamar lagi untuk yang kedua kali. Berdasarkan pertimbangan bahwa Abu Talhah adalah seorang tokoh berpengaruh yang akan membawa kebaikan besar bagi perkembangan Islam, maka Ummu Sulaim menerima  lamaran Abu Talhah dengan satu syarat:

"Wahai Abu Talhah, lelaki seperti engkau tidak layak ditolak. Tetapi, engkau seorang kafir, sementara aku wanita muslimah. Tidak mungkin bagiku untuk menikahi engkau."
"Apa yang perlu kulakukan untuk tujuan itu?" tanya Abu Talhah. 
"Hendaklah engkau menemui Rasulullah saw," jawab Ummu Sulaim.

Akhirnya, Abu Talhah memeluk Islam di hadapan Rasulullah Saw, dan keislamannya itulah yang dijadikan mahar pernikahannya untuk Ummu Sulaim. Bukan itu saja. Setelah masuk Islam, Ummu Sulaim juga membimbing Abu Talhah agar menjadi suami yang soleh. Ketika anak mereka meninggal dunia, Ummu Sulaim tidak berlarut-larut dalam kesedihan, karena dia tahu suaminya akan lebih sedih dan marah. Dia justru bertindak seperti biasa dan melayani suaminya sepenuh hati, menyenangkan hati suaminya, agar ketika dia menceritakan perihal anak mereka yang meninggal, suaminya tidak begitu marah dan sedih. Setelah itu, mereka dikaruniai anak yang lain, seorang anak yang kelak menjadi penghapal Al Quran. Subhanallah, inilah salah satu ciri seorang istri yang baik. Dia bersedia mensolehkan suaminya. Menikah adalah berjuang. Jika pasangan kita belum sesuai dengan harapan, berusahalah untuk membimbingnya. Istri yang baik akan masuk ke dalam surga, Insya Allah, aamiin....

Rasulullah saw bersabda, "Aku masuk ke surga, lalu terdengar sebuah suara di hadapanku. Ternyata beliau adalah Al Ghumaisha bintu Milhan (Ummu Sulaim)." (HR. Bukhari)



























10 comments:

  1. Selalu miris ya Mbak mendengar berita menyedihkan seperti kasus F. Mudah2an F bisa segera move on.

    Terima kasih ya sudah ikutan GA kami :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. *tepokjidat* inilah akibatnya kalo fast reading, F sudah meninggal toh ... inna lillahi wa inna iaihi raji'un. Utk kunjungan awal, sy memang baru membaca sekilas dulu, belum memperhatikan detil kontennya karena belum penjurian. Rancananya nanti mau dibaca ulang koq Mbak Ela .. jangan khawatir :D

      maaf saya kesulitan masuk di FB hanya bisa nyetatus sebentar. Butuh perjuangan untuk bisa balas2an komen. Malah seringnya gak bisa baca komen. Tidak tahu kenapa.

      Pertanyaan Mbak Ela sudah dijawab sama Vina kan?

      Delete
  2. salah satu istri yg baik adl tdk curhat masalah keluarganya di medsos ya mak...

    ReplyDelete
  3. keren keren keren... semoga istriku baca :)

    ReplyDelete
  4. Sediiiih... kasihan yah mbak, tapi ntahlah, kita nggak tahu pasti gimana rumah tangga mereka sebenarnya...

    ReplyDelete
  5. tapi entah kenapa jadi mangkel sama mantan istrinya...Astaghfirullah...ya sudahlah kasian udah meninggal Fnya juga...duh jadi jiper mau ikutan masih awaammm hehehe

    ReplyDelete
  6. haduuuuh....aku bisa ngga ya lebih mensolehkan suami? hiks

    ReplyDelete
  7. ngenes juga baca kisah si F..
    semoga bisa jadi istri yang baik dan solihah...

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^