Friday, 17 October 2014

Anak-anak: Kisah yang Tak Ada Habisnya


Ismail, si sulung, suatu ketika….
“Mama, kenapa sih ngetik terus?”
“Ya, biar Mama punya uang.”
“Memangnya Ayah nggak ngasih uang ke Mama?”
“Ayah ngasih uang, tapi masih kurang.”
“Kalau gitu, Kakak aja deh yang ngasih Mama, tapi Mama jangan ngetik ya….”


Sidiq, si tengah, suatu ketika….
“Mama, nanti nyuci baju ini jangan pakai pemutih ya….”
“Emang kenapa?” (rasanya saya jarang pakai pemutih untuk nyuci baju).
“Ya, nggak boleh… tuh, lihat di sini, nggak boleh….” (sambil menunjukkan label di belakang baju, mengenai aturan mencuci, padahal dia nggak tahu arti simbol-simbol itu hehe…).
Saya hanya manggut-manggut, sampai malamnya baru mengerti mengapa Sidiq bicara begitu. Ada iklan produk pencuci baju yang bintang iklannya ngomong gini, “Eh, jangan pakai pemutih, Bu, pakai aja ini (produk pencuci baju tersebut). Kalau pakai pemutih, nanti warnanya pudar…...” Ooooh… rupanya Sidiq terinspirasi iklan tersebut. Ahahahaha….. Saya tertawa sendirian.

Salim, si bungsu, suatu ketika…..
“Mamah… Mboo….” (maksudnya, mobil)
“Mama… Mbaah….” (maksudnya, robot)
“Mama… inum….” (maksudnya, minum)
“Mama… awah….” (artinya bisa dua: ke bawah atau pesawat)
“Mama… uwah…” (maksudnya, ke luar)
Dan sebagainya.

Kegiatan paling menyenangkan:
menyusui sambil baca buku
Semua celoteh anak itu dapat saya nikmati selama 24 jam dikurangi waktu tidur mereka. Bahkan, saat mereka tidur pun, kadang saya masih memandangi mereka. Bersyukur, Allah Swt sudah memberikan mereka kepada saya, walaupun kadang-kadang saya melalaikannya. Yap, kadang saya merasa lelah melayani mereka dan menghitung-hitung berapa imbalan saya jika menggunakan baby sitter untuk mengasuh ketiganya. Saya pernah membaca iklan penyedia baby sitter di facebook. Tarifnya harian, yang kalau dijadikan per bulan Rp 2 juta untuk satu orang anak. Saya punya 3 anak, jadi tarifnya Rp 6 juta per bulan dong. Berapa tarif saya? Rp 0,- saja, karena yang diberikan oleh suami setiap bulan adalah untuk belanja bulanan, bukan bayaran saya hahahaha… Baby sitter itu kan walaupun sudah dapat gaji, biaya makan dan lain-lain juga ditanggung majikan. Jadi, harusnya saya juga dapat Rp 6 juta, bersih. Ya, kaaaaan…..

“Mama dapatnya lebih dari itu, kan Mama dapatnya surga,” kata suami saya.

Membaca buku bersama anak, salah satu aktivitas
menyenangkan :-)
Semalam, tidak biasanya suami tidur bersama kami. Rahasia nih ya, suami saya sering tidur di sofa atau depan teve atau kamar lain, karena kasurnya nggak muat. Semua anak masih tidur dengan saya, susahnya menyapih tempat tidur mereka. Jadi, suami harus mengalah. Biasanya, saya sebal kalau suami ikut tidur seranjang dengan anak-anak, karena kasurnya jadi nggak muat. Apalagi udara sedang gerah-gerahnya, banyak nyamuk pula. Herannya, semalam itu saya merasa nyaman, walaupun kasurnya sempit. Tidur pun nyenyak sampai menjelang Subuh.

Saat membuka mata, saya merasa ada yang menindih tangan kiri saya. Biasanya sih Salim, kali ini bukan. Kepalanya jauh lebih besar, karena itu adalah kepala… suami saya! Di leher suami, ada kaki Sidiq. Di bawah kaki suami, ada Ismail. Salim nyelip di antara saya dan suami. Saya memandangi semuanya, lalu tertawa sendiri. Pemandangan tersebut sangat indah. Saya beruntung mendapatkannya.

Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar Rahman: 13)



















5 comments:

  1. hihihi... sama mak, saya dan anak2 juga masih tidur seranjang, sementara suami di kursi atau karpet, biasanya dini hari baru pindah ke kamar, otomatis kasurnya jadi tambah sempit, tapi itulah kenikmatan :)

    ReplyDelete
  2. aku sudah pisah tidurnya dengan anak-anak mbak, paling sesekali mereka minta tidur sama-sama di hari libur

    ReplyDelete
  3. hahahaha seru sekali saling tindih .. bangun2 pegel tuh ..haha

    ReplyDelete
  4. Waaah... Mbak jadi yang paling cantik di rumah yak, kebalikan dari saya :D

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^