Monday, 8 September 2014

Melestarikan Jamu, Meningkatkan Perekonomian Bangsa Indonesia

Jamu Kaplet Jerawat di rumah saya

Indonesia kaya akan tanaman herbal. Sering disebut dalam buku-buku sejarah, penyebab imperialisme Belanda di Indonesia adalah kekayaan rempah-rempahnya yang menggiurkan. Jahe, lada, kunyit, serai, dan sebagainya. Siapa sangka, tanaman rempah-rempah itu tak hanya berfungsi sebagai bumbu masakan, tapi juga bisa digunakan untuk obat. Tak percaya?


Sebut saja, kunyit asam. Sejak remaja, saya terbiasa meminum ramuan jamu kunyit asam untuk mengatasi sakit haid, menghilangkan bau badan, pegal-pegal, dan meningkatkan stamina. Di waktu kecil, Ibu saya sudah membiasakan minum jamu dari embok-embok jamu gendong yang datang ke rumah di hari Sabtu dan Minggu. Kenapa hanya hari Sabtu dan Minggu? Karena hari-hari biasa, ibu saya bekerja dan tidak sempat menunggu kedatangan embok jamu. Jamu favorit saya adalah beras kencur dan air jahe, karena rasanya manis dan tidak pahit seperti jamu daun pepaya yang diminum ibu saya.

Setelah remaja dan mulai mengalami beberapa permasalahan kesehatan seperti jerawat, haid tidak teratur, kegemukan, bau badan, dan lain-lain, saya mulai mencoba ramuan jamu selain beras kencur. Tentu saja rasanya pahit, karena ada yang terbuat dari daun sirih, daun pepaya, dan dedaunan lain yang saya lupa namanya. Saya juga meminum jamu sachetan yang dikombinasikan dengan jamu racikan embok jamu. Khasiatnya langsung terasa, seperti badan segar dan jerawat hilang.

Jamu, adalah satu kekayaan tradisional Indonesia yang harus dilestarikan. Bayangkan, jika inovasi di bidang perjamuan ini terus ditingkatkan, perekonomian bangsa Indonesia pun terangkat. Sebut saja embok jamu yang rutin berkeliling menawarkan jamunya. Dia setia menjual jamu dari masih gadis sampai sudah beranak cucu. Bukannya dia tak punya keahlian lain, tapi dia memang sudah mencintai profesinya, profesi turun temurun yang diwariskan dari keluarganya. Keahlian meracik jamu tak bisa dikuasai sembarang orang, karena dia pun mengaku anak-anaknya belum ada yang bisa mewarisi keahliannya.

Namun, usaha jualan  jamunya itu setidaknya telah membantu perekonomian keluarga. Dia dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga Sarjana. Bukankah itu cukup membanggakan? Sayangnya, sekian lama berjualan, usahanya hanya berkembang dari yang semula jamu gendong menjadi jamu dorong. Andai mendapatkan dana dari investor, tentu dia sudah memiliki toko jamu.

Museum Jamu Nyonya Meneer di Semarang
Sumber gambar: www.seputarsemarang.com
Untuk itulah, perlu kiranya usaha mengembangkan sektor jamu ini, karena bahan-bahannya mudah didapatkan di Indonesia. Jahe, temulawak, kunyit, serai, bahkan dapat tumbuh di sembarang tempat. Keberadaan pengusaha-pengusaha jamu skala besar, cukup mendongkrak popularitas jamu, misalnya saja PT. Nyonya Meneer yang usaha jamunya sudah menggurita, dengan kemasan menarik dan inovatif. Ditambah dengan dibangunnya Museum Jamu Nyonya Meneer di Semarang, museum jamu pertama di Indonesia yang didirikan pada tanggal 18 Januari 1984. Bertujuan sebagai pusat informasi, promosi, dan media untuk melestarikan warisan budaya tradisional, yaitu jamu. Tentunya ini membuat jamu semakin dikenal sebagai minuman menyehatkan asli Indonesia.

Di rumah, saya memiliki jamu kaplet jerawat dari salah satu perusahaan jamu dan kosmetika Indonesia yang menggunakan bahan-bahan herbal dalam racikan produknya. Wajah saya memang mudah berjerawat, sehingga saya menyediakan ramuan-ramuan pengusir jerawat, baik itu yang berupa lotion untuk dioleskan di jerawat maupun berupa kaplet yang diminum. Hasilnya, lumayan jerawat berkurang dan kulit lebih sehat. Mari kita lihat beberapa kandungan jamu kaplet jerawat ini:

Kandungan Jamu Kaplet Jerawat
Curcumae Rhizoma, nama latin dari kunyit. Tanaman obat yang mudah sekali didapatkan di tukang-tukang sayur ini rupanya tak hanya bermanfaat sebagai bumbu dapur, melainkan juga bisa mengobati berbagai macam penyakit.  Diantara manfaatnya adalah sebagai antikoagulan, antiedemik, antiinflamasi, antioksidan, mematikan kuman, menghilangkan rasa kembung, obat sakit perut, memperbanyak ASI, dan lain sebagainya.

Curcumae Rhizoma, kunyit
Sumber Gambar: Pusat Farmasi
 
Plantaginis Folium, nama latin dari Daun Sendok, karena tanaman gulma ini (tanaman yang hidupnya menumpang pada tanaman teh dan karet) bentuknya menyerupai sendok. Manfaat dan khasiatnya sangat banyak, diantaranya: antiradang, melancarkan air kemih, meluruhkan dahak, dan sebagainya.

Plantaginis Folium, Daun Sendok
Sumber Gambar: Wikipedia
Centellae Herba, nama latin dari Pegagan, adalah tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, pematang sawah, tapi memiliki banyak khasiat, diantaranya: gangguan kulit, saraf, dan memperbaiki peredaran darah.

Centellae Herba, Daun Pegagan.
Sumber gambar: Pondok Ibu

Alyxiae Cortex, nama latin dari pulosari, digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit: sariawan, batuk, keputihan, pendarahan, radang lambung, kejang usus, menurunkan panas, dan lain sebagainya.

Alyxiae Cortex (Pulosari)
Sumber gambar: Jamu Nusantara
Itu adalah 4 dari 11 tanaman herbal Indonesia yang digunakan di dalam jamu kaplet jerawat ini. Rata-rata adalah tanaman yang mudah didapati, bahkan hidup liar di semak-semak, sawah, dan perkebunan. Barangkali  bila kita melihat tanaman itu, kita akan menganggapnya tanaman biasa yang tak punya khasiat. Siapa sangka, tanaman-tanaman itu dapat menyembuhkan berbagai penyakit?

Saya ingin ikut menyumbangkan ide agar jamu bisa terus lestari dan meningkatkan perekomian bangsa Indonesia:

Pertama, memperkenalkan jamu kepada para generasi muda, dari anak-anak hingga remaja. Khawatirnya, anak-anak sekarang sudah kurang familiar dengan jamu karena mereka lebih banyak mengenal minuman-minuman bersoda dan berlemak. Saya ingat dulu adik saya kurang nafsu makan, ibu saya memberikan jamu Buyung-Upik yang berwarna-warni karena ditambahkan esens buah-buahan, seperti melon, jeruk, dan strawberry. Belakangan juga ada jamu Buyung  Upik rasa cokelat. Inovasi seperti itulah yang mesti terus dikembangkan, bagaimana memadukan ramuan jamu dengan bahan makanan yang disukai anak-anak.  

Kedua, memberikan sampel jamu gratis ke sekolah-sekolah, seperti halnya imunisasi gratis yang dilakukan kepada anak-anak kelas satu SD. Jika saja pemerintah mau menggulirkan dana atau ada sponsor dari perusahaan jamu swasta yang berinisiatif memberikan sampel jamu gratis untuk dicoba oleh anak-anak, bisa jadi kelak jamu akan menjadi minuman favorit anak-anak.

Ketiga, memastikan keamanan dan kebersihan jamu. Walaupun jamu dibuat dari tumbuh-tumbuhan, tetap saja harus ada jaminan keamanan dan kebersihan. Terutama jamu yang dibuat dari racikan tangan embok jamu. Sedangkan jamu sachet yang dijual di toko-toko, setidaknya sudah melewati seleksi BPOM dan Depkes untuk menjamin keamanannya. Bukan tidak mungkin, jamu-jamu itu mendapatkan tambahan bahan-bahan yang justru membahayakan tubuh. Untuk itulah, Pusat Studi Biofarmaka IPB  sebagai salah satu lembaga penelitian dan pengembangan yang memiliki visi menjadi Pusat Unggulan Riset dan Inovasi Teknologi Bidang Biofarmaka di Tingkat Nasional dan Internasional, mengambil peran penting untuk terus berupaya meningkatkan citra dan peran produk obat herbal jamu Indonesia melalui penelitian-penelitian yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Tanaman-tanaman herbal yang dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit itu kemudian diteliti oleh Biofarmaka IPB, untuk mengetahui fungsi obat secara uji klinis, kontradiksi pada penggunaannya, apakah memiliki efek racun atau efek samping, dan dosis penggunaan yang tepat. Walaupun obat itu berasal dari tanaman herbal, tak bisa dikonsumsi sembarangan. Harus ada dosis yang menyertainya.

Keempat, menyediakan spot-spot jamu di bandara-bandara domestik dan internasional. Bandara adalah tempat perlintasan wisatawan domestik dan internasional. Di sekitar bandara ada banyak spot-spot jualan, baik itu makanan minuman maupun souvenir. Mengapa tidak, di sana juga disediakan spot jamu?

Kelima, membuat museum jamu. Museum Nyonya Meneer di Semarang menjadi contoh museum jamu yang menarik dan ikut menginformasikan sejarah jamu di Indonesia. Akan tetapi, kita butuh museum jamu yang lebih menasional, tidak berfokus pada satu merek jamu saja.  Museum yang bisa memberikan edukasi kepada penduduk Indonesia mengenai sejarah jamu dan pentingnya minum jamu.

Keenam, menyajikan jamu dalam bentuk yang menarik. Anak-anak akan serta merta menolak minum jamu bila melihat ramuan itu dalam bentuk aslinya, misalnya kuning keruh untuk kunyit atau putih keruh untuk jahe. Itu tidak terlihat seperti minuman yang merangsang minat. Berbeda dengan minuman bersoda yang berwarna-warni; merah, putih bening, kuning terang, bahkan biru. 

Kelima, setiap rumah mengusahakan untuk menanam sendiri tanaman-tanaman herbal yang mengandung khasiat untuk kesehatan dan dapat diracik menjadi jamu, karena sesungguhnya tanaman-tanaman itu mudah ditanam. 

-----------

Sumber Referensi:




9 comments:

  1. Saya penggila jamu sejak kecil. Lebih mantap minum jamu gendongan yang gelasnya pakai batok kelapa. Hehe.

    ReplyDelete
  2. asyik tuh kalo di rumah ada tanaman jamu2an, tinggal petik ya mak

    ReplyDelete
  3. Tos, sesama peminum jamu. Selain kunyit asam , kalau habis melahirkan saya suka pakai pilis dan minum jamu lancar asi..Semoga sukses ngontesnya Mak Hana

    ReplyDelete
  4. wah komplit mak ulasannya. semoga menang ya

    ReplyDelete
  5. Yayyy, mak Leyla Hana ikutan jugaaa... Asiiik! hihihi

    ReplyDelete
  6. generasi kita sptnya cukup familiar dengan jamu sejak kecil, tapi remaja sekang kurang sepertinya mungkin ini yang membuat pentingnya melestarikan jamu ya mak . btw, sukses kontesnya

    ReplyDelete
  7. huwa ternyata obat jerawat bahan alami juga ada ya mak, jamu memang bermanfaat :) good luck mak

    ReplyDelete
  8. jujur saya lebih suka minum jamu daripada minum obat dokter. Sebab kahsiatnya lebih manjur minum jamu.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^