Thursday, 5 June 2014

Jaga Anak-Anak Kita dari Adiksi Rokok!

Dialog Interaktif: Naikkan Cukai Rokok

"Aduh, Bu, kemarin saya lihat anak-anak SD, ngerokok di lapangan!" si Bibi bercerita dengan bibir bergetar. Kejadian itu memang sangat membuatnya syok. Gak nyangka, anak-anak yang badannya hanya sedikit lebih besar dari Ismail (anak sulung saya yang masih TK), itu sudah merokok.


Gak lama, saya juga melihat sendiri, seorang anak berpakaian seragam putih biru (SMP), membeli rokok di warung dekat rumah. Anak itu mengeluh, "kok harganya jadi mahal?" Si tukang warung menjawab, "Iya, memang harganya sudah naik, kok." Anak itu tetap membeli rokoknya. Si tukang warung berkata ke saya, "anak-anak masih SMP sudah merokok". Laaah kalau dia punya keprihatinan yang sama, kenapa rokok itu masih dijual ke anak-anak?!

Dua peristiwa itulah yang memberikan ide kepada saya untuk menulis cerita pendek, dan kemudian saya ikutkan ke lomba cerita pendek yang diadakan oleh fanspage Zombigaret. Belakangan saya tahu kalau fanspage ini bikinan kementerian kesehatan dalam rangka kampanye antirokok. Hebat juga nih terobosan Bu Nafsiah Mboi, Ibu Menteri Kesehatan. Zombigaret adalah ikon seorang perokok yang menjadi zombie (hidup segan, mati tak mau), akibat merokok.

Alhamdulillah, ayah dan suami saya tidak merokok. Jadi, saya selalu satu rumah dengan lelaki yang tidak merokok. Saya dididik dalam iklim nonperokok. Saya benci banget sama perokok. Pernah dulu waktu naik kereta api dari Semarang ke Jakarta, ada seorang perokok yang duduk di belakang saya. Asapnya ngebul terus gak berhenti-berhenti. Karena saya merasa terganggu, ya saya tegur saya dia. Syukurnya, dia mau mematikan asap rokoknya. Tapi sepertinya dia gak tahan karena gak merokok, dia lalu pergi mencari tempat untuk merokok.

Memang, menghentikan kecanduan merokok itu tidak mudah. Mengapa? Berdasarkan penjelasan ilmiah, rokok mengandung nikotin yang menyebabkan kecanduan. Sama aja kayak ngisep narkoba, bahkan lebih buruk dari itu. Rokok membunuh secara perlahan, waktunya bisa puluhan tahun dari sejak mulai mengisapnya.

Alhamdulillah, ternyata tulisan yang saya ikutkan dalam lomba cerita pendek Zombigaret, berhasil menjadi pemenang pertama. Judulnya, Diary Sang Zombigaret: Kanker Paru Merenggut Hidupku. Saya pun berkesempatan diundang mengikuti Dialog Interaktif dengan tema "Naikkan Cukai Rokok, Lindungi Generasi Bangsa," di kantor Kementerian Kesehatan RI, Senin, 2 Juni 2014. Di sana, wawasan saya semakin terbuka, terutama pentingnya melindungi generasi muda dari bahaya merokok. Kalau mengatasi yang sudah kecanduan itu susah, setidaknya jangan sampai anak-anak kita mencoba rokok supaya gak kecanduan.

Acara dibuka oleh sambutan-sambutan dari perwakilan WHO, Komnas Pengendalian Tembakau, dan Menteri Kesehatan, Ibu Nafsiah Mboi. Acara ini dimaksudkan untuk memperingati hari tanpa tembakau sedunia, yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2014. Kementerian Kesehatan telah mengadakan sosialisasi dampak rokok, di antaranya melalui tulisan dan gambar serta road show mall ke mall melalui ikon Zombigaret. Acara puncaknya, dihadiri oleh kurang lebih 250 peserta perwakilan dari komunitas-komunitas anti rokok, sekolah-sekolah, komnas anak, komnas pengendalian tembakau, dan semua pejuang antirokok. Alhamdulillah, saya termasuk salah satunya.

Berhubung hari Senin, jadi saya merasakan asyiknya berdempet-dempetan di kereta. Anak-anak dititipin sebentar sama si bibi, karena acara hanya sampai jam 1. Ketika sampai, saya disuruh duduk dulu sama admin sosmed Zombigaret. Berhubung acaranya ngaret sampai sejam, saya keluar lagi dan nyicipin sarapan yang udah disediain di depan, hehehe. Lumayan, kan? Dari rumah belom sarapan.

Sarapan dulu, ah....
Oke deh, lanjut lagi reportasenya. Sambutan dari Komnas Pengendalian Tembakau, dr. Priyo S, grafik menunjukkan bahwa menaikkan pajak tembakau akan menurunkan konsumsi rokok. Mestinya, semua  negara pengutang Bank Dunia, menaikkan pajak tembakau, termasuk Indonesia dong. Pertumbuhan intelektual seorang anak, sebanyak 50 persen ada pada 1000 hari pertama. Bila uang yang ada digunakan untuk membeli rokok (bukan gizi anak), maka anak-anak akan kekurangan gizi. Sebagian besar perokok mengisap rokok di rumah.

Pak Fuad Baraja, salah satu pejuang antirokok juga, pernah mewawancarai seorang nelayan perokok berat, sehari bisa empat bungkus. Nelayan itu punya empat anak dan penghasilannya sehari hanya Rp 50 ribu. Akibat kebiasaannya merokok, anak-anaknya harus putus sekolah karena gak ada biaya. Nelayan itu gak mau  berhenti merokok. Lebih baik anaknya yang berhenti sekolah daripada dia yang berhenti merokok. Luar biasa pengaruh rokok dalam memiskinkan rakyat Indonesia. Ironisnya, sebagian besar perokok adalah nelayan, buruh, dan petani yang berpenghasilan rendah.

Sambutan dari Ibu Nafsiah Mboi sangat berapi-api. Beliau sangat peduli terhadap bahaya rokok. Kenaikan cukai rokok akan mengurangi konsumsi rokok, karena harga rokok jadi naik dong. Penerimaan negara dari rokok masih jauh dari maksimum, hanya 46 persen dari harga rokok. Sedangkan batas maksimum cukai rokok adalah 57 persen. Di tingkat global bahkan mencapai 65 persen. Produksi rokok mencapai 260 miliar batang/ tahun. Bayangkan berapa orang yang bakal sakit dengan rokok sejumlah itu?
Sambutan dari Bu Nafsiah

Gak percaya kalau rokok bisa bikin sakit? Di acara itu juga hadir beberapa korban rokok, sebagian besar mengalami gangguan pada pita suara (kanker tenggorokan). Aduuuh.. jangan sampai deh kita kena juga. Ups, bukan hanya perokok aktif yang sakit, ada juga korban perokok pasif, akibat suaminya merokok terus-terusan, jadi dia deh yang kena sakitnya. Jadi, Bu, kita juga mesti jauh-jauh dari perokok karena kita juga bisa kena sakitnya akibat mengisap asap rokok. Apalagi anak-anak kita yang masih bayi dan balita. Rokok juga bisa menyebabkan kelahiran prematur.

Pembicara: Ira Koesno-Bu Nafsiah-Staf Menteri Perindustrian-Kak Seto
Semua orang berhak sehat dari sejak dalam kandungan. Artinya, kita berhak terhadap udara bersih bebas rokok. Bu Nafsiah menyemangati kita agar BERANI menegur perokok, supaya gak merokok dekat kita. Ada tentangan dari industri rokok, katanya kalau pabrik rokok ditutup, bakal banyak pengangguran. Padahal, hanya sedikit tenaga kerja yang diserap oleh industri rokok. Masalahnya, perokok pemula ini semakin banyak, dipicu oleh rasa gengsi bila gak merokok. Perokok pemula itu bisa jadi anak-anak kita, kalau kita gak peduli terhadap masalah ini. Rokok itu udah jadi gaya hidup.

Walaupun sudah ada PP 109 No. 12 yang mengatur pengendalian rokok, tapi pelaksanaannya mandul. Memang sudah banyak kawasan bebas rokok, tetep aja tuh perokok asik merokok di tempat itu. Di angkutan umum, mall, sarana-sarana publik, para perokok masih santai saja merokok. Malah kita yang takut menegur, ya kan? Masalahnya ya itu, iklan rokok sangat gencar, apalagi sasarannya generasi muda. Liat deh, mereka jadi sponsor acara-acara musik yang digemari oleh remaja.

Jadi, gimana dong? Kita mulai dari rumah. Apalagi kita kan ibu-ibu, ya dong? Kita harus semakin peduli pada pergaulan anak-anak,jangan sampai mereka mencoba merokok. Kalau sudah kecanduan, bakal susah menghentikan. Hati-hati lho Bu, anak-anak bisa curi-curi merokok di belakang kita. Gak usah jauh-jauh. Tetangga saya ada yang kesulitan menghentikan kebiasaan merokok anaknya yang baru duduk di bangku SMP. Si anak udah gak mempan diomelin, diusir, bahkan gak dikasih uang saku, tetep aja masih merokok. Kenapa? Ya, karena sudah kecanduan. Pokoknya jangan sampai deh anak-anak mencoba merokok.

Akhirnya, sampai juga di penghujung acara yang sudah saya tunggu-tunggu. Penyerahan hadiah secara simbolis oleh ibu Menkes. Senang sekali bisa berjabat tangan dengan Bu Menkes, bahkan beliau berbicara kepada saya dengan sangat ramah. Benar-benar rendah hati. Oya, saya mendapatkan hadiah liburan ke Bali untuk dua orang. Alhamdulillah. Tentunya, bukan hanya hadiahnya saya yang penting. Yang paling penting, saya punya tugas berat menjaga ketiga anak lelaki saya agar jangan sampai kena pengaruh rokok!

Oya, bagi Anda yang ingin BERHENTI merokok, Zombigaret sudah membuat mobile apps Zombigaret di Android dan iPhone. Aplikasi itu bisa memandu Anda untuk semangat berhenti merokok. Bisa diunduh GRATIS di Playstore. 


Saya di tengah, bersama perwakilan dua pemenang lainnya


Haru dan bangga bisa berdiri dekat Bu Menkes :D







                                                                                  

7 comments:

  1. selamat ya bu jadi pemenang lomba tulis di Zombiegareth....rokok memang sudah keterlaluan...bukan hanya orang dewasa yang kecanduan..bahkan anak kecilpun juga ikut terkontaminasi jadi pecandu rokok....ini sungguh mengerikan.....,ngeri membayangkan masa depan negeri ini...kalau hal ini tidak cepat ditanggulangi....
    keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
  2. Allhamdulillah di rumah bebas roko nih mbak, paling kalau ada tamu, untungnya jarang sekali

    ReplyDelete
  3. selamat mba leyla....Semoga semakin sukses ke depannya...^_^

    ReplyDelete
  4. No rokok, no cigaret... bisa kok.. alhamdulillah para lelaki terdekat saya tidak merokok :)

    ReplyDelete
  5. wohoo, faktanya keren! serta cerita soal anak smp sudah ngerokok itu emang memprihatinkan banget. Harusnya ditambahkan larangan menjual rokok kurang dari 18 tahun. engga cuman jadi simbol 18+ kayak di baliho2.

    Semoga rokok semakin hilang di Indonesia

    ReplyDelete
  6. hmmm aku sedih bgt kalo liat anak-anak sudah ngrokok... :'(

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^