Wednesday, 7 May 2014

Yuk Kita Main, Nak!

Bermain itu menyenangkan!

Seorang ibu berceloteh mengenai perilaku anaknya yang hobi main jauh dari rumah. Ibu lain pun menanggapi. Kata mereka, gara-gara hobi main, anak-anak mereka jadi nakal dan suka berbicara kasar karena ketularan teman mainnya. Sebaliknya, anak-anak saya malah tidak mau bermain di luar rumah kalau tidak ditemani saya!


Barangkali itu akibat kesalahan saya juga, karena terlalu protektif. Apalagi rumah saya letaknya terpencil dan jauh dari tetangga. Anak-anak jadi ikut kebiasaan saya yang jarang ke luar rumah. Lagipula, mereka sudah senang main di dalam rumah. Malah saya yang ribut menyuruh mereka supaya main di luar, karena mereka jadi sulit bersosialisasi. Ketika pertama kali masuk PAUD, saya harus mendampingi mereka di dalam kelas sampai berbulan-bulan karena mereka takut berinteraksi dengan teman-temannya!

Setelah melihat film-film pendek yang dibuat  oleh Rinso #KidsToday Project, saya jadi makin termotivasi untuk mendorong anak-anak agar mau bermain di luar rumah. Bagi anak-anak saya yang masing-masing berusia 2, 6, dan 7 tahun, bermain di luar rumah bermanfaat untuk perkembangan mereka, diantaranya:

Merangsang motorik anak: gerak fisik dan jangkauan pancaindera menjadi lebih leluasa karena tidak dibatasi oleh ruang yang sempit.

Mengembangkan daya imajinasi: di luar rumah ada banyak hal yang bisa ditemui, apalagi depan rumah saya itu ada lapangan bola dan kebun pisang. Pernah Ismail berimajinasi saat melihat awan-awan yang membentuk aneka rupa benda.

Mudah Bersosialisasi: dengan banyak bermain bersama teman-temannya, anak-anak akan mudah bersosialisasi dengan orang lain. Mereka tidak akan menjadi anak yang tertutup dan penyendiri, yang dapat menjadi salah satu penyebab perasaan tertekan pada anak.

Bebas bereksplorasi: mereka bisa bermain tanah, pasir, sepeda, layangan, bahkan bebas berkecipak di genangan air bekas hujan. Pernah saya marah karena mereka bermain  di genangan air hujan, padahal baru saya mandikan. Selepas itu, saya menyesal. Baju kotor bisa dicuci, yang penting mereka senang.

Menjadi anak-anak yang bahagia: ada istilah “masa kecil kurang bahagia,” ditujukan untuk orang dewasa yang kekanak-kanakan. Saya tidak mau kelak anak-anak menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan. Saya ingin mereka menjalani masa kecil dengan bahagia dengan bebas bermain di lapangan terbuka.


Baju kotor gak masalah! 


Sidiq dan Salim main air di lapangan



Main bola di kebun depan rumah
Salah satu film Rinso #KidsToday Project yang saya tonton berjudul “Anak-Anak yang Sibuk,” membuat saya teringat kesibukan yang bakal dihadapi Ismail yang sebentar lagi masuk SDIT dengan jadwal penuh sampai sore. Film itu menggambarkan kesibukan anak-anak bersekolah dari pagi sampai siang, dan dilanjutkan dengan belajar di malam hari. Main hanya sepuluh menit! Salah satu anak ditanya, kegiatan apa yang  paling menyenangkan? Dia menjawab, “bermain bersama teman-teman.”


Duh, gimana ya nanti Ismail? Semoga dia masih memiliki kesempatan bermain. Untunglah, sekolah yang saya pilih itu tidak memberikan PR (pekerjaan rumah). Setelah pulang ke rumah, dia bebas melupakan pelajaran-pelajaran sekolah dan bermain sepuasnya. Tentunya tetap mengingat waktu makan dan beristirahat.

Oya, soal kekhawatiran ibu-ibu mengenai dampak buruk dari bermain, memang sebaiknya anak-anak tetap diawasi dengan siapa dia bermain, main di mana, dan batasan bermain. Semua itu tergantung kebijaksanaan orang tua. Intinya, pintar-pintarlah jadi orang tua. Kalau soal baju kotor, kan sudah ada Rinso!

Sekarang, yuk, kita main, Nak!  


Gak masalah main kotor, kan ada Rinso!


*Diikutsertakan dalam Rinso #KidsToday Project yang informasinya saya ketahui dari Mommies Daily

2 comments:

  1. betul sekali,,berani kotor ya mak,,kan ada rinso,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak Dwi... kotor itu baik, asal anak puas bermain :-)

      Delete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^