Wednesday, 14 May 2014

Waspadai TB Resistan Obat!


Masalah kesehatan masih menjadi masalah yang serius di Indonesia. Salah satu penyakit yang tergolong berbahaya dan tersebar dengan cepat adalah penyakit Tuberkulosis atau biasa disebut TB. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis, serta banyak menyerang daerah-daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan tingkat sanitasi rendah. Gejalanya, diantaranya: batuk kronis, batuk berdahak, batuk berdarah yang lebih dari dua minggu, berat badan turun drastis, tidak nafsu makan, sesak napas, dan bila tidak diobati maka akan menyebabkan kematian. Penyakit ini menduduki peringkat kelima sebagai penyakit pembunuh terbesar di Indonesia, dan bahkan menjadi pembunuh nomor dua di daerah pedesaan.


Kunci penyembuhannya adalah berobat secara teratur selama enam bulan, serta menjalani gaya hidup sehat. Obat Anti TB (OAT) terdiri atas beberapa jenis obat antibiotik, dan sebagaimana lazimnya obat antibiotik, harus diminum secara teratur sampai habis masa pengobatannya. Untuk pasien TB, obat harus diminum secara teratur selama 6 bulan, sampai kuman TB tak lagi bisa menginfeksi dan pasien dinyatakan sembuh sepenuhnya. OAT juga sudah dapat diperoleh secara gratis di rumah sakit-rumah sakit yang ditunjuk dan 95% puskesmas di Indonesia.  Dengan demikian, sesungguhnya Indonesia telah memiliki kesempatan untuk menjadi negara BEBAS TB. Lalu, mengapa penyakit ini masih belum bisa ditumpas?

Pengobatan penyakit TB yang memakan waktu lama, sering kali membuat pasien tidak sabar dan memutus pengobatan begitu saja. Apalagi jika pasien sudah merasa tubuhnya sehat dan dapat beraktivitas sebagaimana mestinya. Padahal, penyakitnya BELUM BENAR-BENAR SEMBUH bila belum menuntaskan pengobatan. Yang lebih parah, kuman TB menjadi resistan terhadap obat sehingga pasien berpotensi menjadi pasien DR TB (Drugs Resistant Tuberculosis). Dengan kata lain, kuman TB menjadi kebal terhadap obat-obatan, yang  mengakibatkan proses penyembuhan menjadi lebih lama dan obat-obatannya pun lebih mahal.

Ini adalah cara kerja antibiotik. Obat antibiotik memang harus diminum secara teratur, sampai habis. Jika tidak, kuman akan kebal terhadap obat itu dan sulit diobati.  Kasus pasien TB Resistan Obat yang banyak terjadi di Indonesia adalah TB MDR (Multi Drugs Resistant). Di tingkat global, Indonesia menduduki peringkat 8 dari 27 negara dengan beban TB MDR terbanyak, yaitu 6900, 1,9% kasus baru dan 12% dari kasus pengobatan ulang. TB MDR (Multi Drugs Resistant Tuberculosis) adalah TB Resistan obat terhadap minimal dua obat paten yaitu INH dan Rifampisin secara bersama-sama atau disertai resisten terhadap obat anti TB di lini pertama, yaitu  etambutol, streptomisin, phirazinamid.  Bahayanya, pasien TB resistan obat ini bisa menularkan kuman TB resistan obat kepada orang lain.

Bahaya TB Resistan Obat Menurut Media Online:



Sumber: Pos Kota


Sumber: Detik Health


Sumber: Oke Health
Orang yang rentan terkena TB Resistan Obat, yaitu:

  • Pasien TB yang tidak meminum obat TB secara teratur sesuai perintah petugas kesehatan.
  • Sakit TB Berulang dan telah mendapatkan pengobatan sebelumnya.
  • Berasal dari daerah dengan risiko TB Resistan Obat tertinggi.
  • Melakukan kontak erat dengan pasien TB resistan obat.


Diagnosa pasien yang terkena TB resistan obat dilakukan dengan menggunakan tes cepat metoda PCR (Xpert MTB/RIF), pemeriksaan biakan, serta uji kepekaan kuman terhadap obat TB (Drugs Sensitivity Test).

Bagaimana Mengobatinya?

Tentu saja pengobatan TB resisten obat ini lebih susah daripada TB biasa, bergantung pada seberapa cepat kasus TB resisten obat ini teridentifikasi dan ketersediaan pengobatan yang efektif. Waktu pengobatannya antara 18-24 bulan, lebih lama daripada sakit TB biasa. Harga obat juga lebih mahal, mencapai 100 kali lipat dari harga obat TB biasa. Belum lagi efek sampingnya lebih berat. Wuiiih… luar biasa ya pengorbanan yang harus diberikan bila pasien TB tidak konsisten berobat dan kuman TB menjadi kebal.

Oleh karena itu, MENCEGAH lebih baik daripada MENGOBATI. Kunci pencegahannya:

  • Diagnosis dini setiap terduga TB resistan obat.
  • Pengobatan dengan OAT lini kedua sesuai standar, yang terus dipantau kepatuhan dan ketuntasannya, serta dilaporkan ke dalam sistem surveilans.
  • Pencegahan dan pengendalian infeksi yang tepat harus dilakukan di setiap fasyankes yang memberikan pelayanan kesehatan kepada setiap pasien TB dan TB resistan obat.
  • Menjaga lingkungan tempat tinggal pasien TB resistan obat.


Waspadalah terhadap TB resistan obat ini agar penyakit TB tidak semakin meluas dan berkembang menjadi TB resistan obat sehingga semakin sulit pengobatannya.







  •  














2 comments:

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^