Thursday, 3 April 2014

Mendongeng, Solusi untuk Mengatasi Kerusuhan di Malam Hari


Malam hari mestinya jadi saat untuk beristirahat ya, Bu.  Nyatanya, malam hari justru saya harus tarik urat leher dan jenggut-jenggut rambut melihat kelakuan anak-anak. Loncat-loncat di tempat tidur, ngeberantakin seisi rumah, berantem, nangis, dan sebagainya. Tempat tidur yang udah rapi dan siap jadi tempat berlabuh, harus berantakan lagi dan bisa beberapa kali dibereskan sebelum para perusuh kecapean dan benar-benar tertidur.

Contohnya, suatu malam, Sidiq, anak kedua saya, menaikkan sebuah kursi ke atas tempat tidur. Duh, emaknya udah narik-narik rambut sendiri saking nyut-nyutannya tuh isi kepala. Udahlah, biarin aja. Pengen tahu tuh anak maenan apa lagi. Ya, ternyata dia hanya main naik-naikan aja ke atas kursi. Ismail, si sulung, sudah memejamkan mata tapi masih lirik-lirik. Salim, si bungsu, ikut-ikutan Sidiq. Mereka bahagia banget, ketawa-ketawa sambil  naik turun kursi. Begitu saja. Tapi yang begitu saja sudah bikin emaknya stress. Masalahnya, mereka udah seharian bermain heboh. Si Emak berharap anak-anak sudah cape dan segera tidur, karena emaknya juga sudah capek. Ternyata susah sekali bikin mereka tertidur.

Akhirnya, si Mamak pun mengambil buku dongeng. Ini jurus pertama. Sebenarnya jurus yang ini tak selalu berhasil. Ada tiga kemungkinan: 1. Anak-anak mendengarkan lalu tertidur. 2. Anak-anak tidak mendengarkan malah sibuk cerita sendiri. 3. Anak-anak merebut buku dongengnya dan… ya sudahlah…. Tapi, malam itu, kejadiannya menguntungkan buat si Mamak. Anak-anak mengikuti pilihan pertama, mendengarkan lalu tertidur. Kenapa? Karena mamaknya mengarang cerita sendiri!
Adegan naik kursi menjelang bobo malam

Mamak cuma bengong lihat ini
Saya memang sudah bosan membaca buku dongeng yang itu lagi-itu lagi, jadi saya mengarang cerita sendiri. Memang harusnya sih buku-buku itu diupdate ya, kan anak-anak juga pasti bosen kalau denger yang itu lagi.  

Sebenarnya saya bingung mau mengarang cerita apa karena saya tidak bisa mengarang cerita anak-anak.  Lalu, keingetan aja cerita yang satu itu. Pertama-tama, saya suruh Sidiq mengembalikan kursinya ke luar. Sidiq menolak. Sudah tentulah. Menurut saya, Sidiq adalah anak yang punya prinsip dan pendirian (untuk menggantikan label keras kepala :D). Dia akan berpegang teguh pada prinsipnya yang mau main naik-naikan ke kursi. Jadi, saya harus memberikan pilihan. Ya, tho?

“Kembalikan kursinya karena Mama mau nyeritain sesuatu nih. Kalau gak mau, Dede di luar aja deh. Mama kunci pintunya ya….”

Sidiq pun menuruti perkataan mamanya walaupun sempat memberikan sanggahan. Ya, daripada dikunciin di luar tho? Nah, setelah anak-anak berkumpul, baru deh saya mulai mendongeng.

“Ceritanya… ada seekor kancil….”

Binatang kancil ini memang binatang yang paling terkenal di dunia dongeng, sehingga saya pun ingetnya cuma saya si kancil, hehehe….

“Dia punya kebun mentimun yang sudah berbuah banyaaak sekali…..”

Anak-anak mendengarkan saya sambil sesekali ikut berceloteh. Saya menceritakan tentang si Kancil yang pelit dan tidak mau membagi timunnya kepada temannya. Akibatnya, dia jadi kehilangan timun-timunnya.

Si bungsu sudah mulai menutup mata karena mendengarkan dongeng sambil menyusu, tentu. Emaknya juga ikut ngantuk, kan. Si sulung pun ikut memejamkan mata karena dia memang sudah kelihatan mengantuk sebelumnya. Tinggal Sidiq nih yang energinya memang sangat berlebih. Dia mengucek-ngucek mata, lalu saya pura-pura tertidur. Tak lama, terdengar suara dengkur halusnya yang menandakan bahwa Sidiq juga sudah tidur. Horaaaay! Akhirnya, kerusuhan malam itu pun tertangani.

Mau baca bukunya sendiri
Acara mendongeng ini memang bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kerusuhan sebelum tidur malam, walaupun tidak selalu berhasil. Seperti tadi malam, saya coba mendongeng lagi dengan membaca sebuah buku dongeng yang baru dibeli, eh anak-anak tidak tertarik dengan ceritanya. Menulis cerita untuk anak-anak itu memang sangat-sangat tidak mudah. Anak-anak adalah pemilih yang baik. Mereka tahu cerita yang menarik dan tidak menarik. Bahasa sebuah cerita dongeng haruslah sesuai dengan dunia anak-anak.

Jangan berebut, ya!
Tentu saja sebagian besar cerita dongeng ditulis oleh orang dewasa. Masalahnya, orang dewasa belum tentu bisa menyelami dunia anak-anak. Cerita anak-anak sebenarnya tidak perlu terlalu ruwet dan panjang. Saya pernah membeli buku dongeng yang ceritanya panjaaaang sekali. Alhasil, anak-anak bukannya tertarik malah disobek-sobek tuh buku saking lamanya saya membaca. Anak-anak suka dengan buku dongeng yang banyak gambarnya, tapi sedikit tulisannya. Saya juga lebih sering berimprovisasi, mendongeng dengan melihat gambarnya, bukan membaca cerita yang tertulis.

Kisah-kisah dongeng pun harus benar-benar mengandung nilai moral yang baik untuk anak-anak. Jangan sampai anak-anak justru terinspirasi dengan hal-hal negative yang tak sengaja disampaikan oleh pendongeng. 














13 comments:

  1. Yups,, intinya jadi seorang ibu harus multi talent buat anaknya. menyanyi, mendongeng, dan yang pasti jadi teman mereka juga saat bermain. sekedar info nih utk para ibu http://exspresiku.blogspot.com/2014/03/anak-dengan-televisi-di-kamarnya.html

    ReplyDelete
  2. kalo anak2 saya, mau tidur minta minta dibacakan buku cerita lebih dari satu. Dan yg bikin ribut adalah kakaknya pengen dibacakan dulu buku A, sementara adeknya pengen dibacakan dulu buku cerita B. Akhirnya terjadilah adu mulut dan rebut merebut hehehe...

    ReplyDelete
  3. Hahaha... anak yang punya prinsip dan pendirian... keren betul "pelabelan"nya Mak...
    Bagus deh. BTW aku takjub lihat foto kehebohan anak2 di atas Mak... Trus itu dindingnya wow... kreatif banget mereka :D

    ReplyDelete
  4. hihi nggak kebayang deh gimana nyut2tannya hehehe...saya pertama kali dongeng waktu ngajar PG mbk hihi,memang sih yang lari sana sini pasti pelan2 ngumpul nggak ngerusuh lagi hehehe

    ReplyDelete
  5. hahaha..kursi naik kasur.. pengen bobok bareng kursi itu kali :D
    kancil nyuri timun itu dongeng wajib aku kecil dulu mba :)

    ReplyDelete
  6. mendongeng membuat ana-anak fokus ya dengan ceritanya

    ReplyDelete
  7. Membayangkan kehebohan dengan 3 jagoan :D

    Oya status itu lho mbak Leyla ... yang ada gambar trus kata2nya cukup menohok itu lho .. ttg kalung apa perhiasan emas dan anak :)

    ReplyDelete
  8. dongeng bikin anak jadi anteng :D

    ReplyDelete
  9. Solusi yang tepat banget mak --> mendongengnya

    ReplyDelete
  10. DOngeng memang bisa menjadi jurus ampuh pula menarik perhatian anak kecil, saya sering melakukannya ke keponakan dan sepupu kecil meski pun kadang dongengnya ngawur, he he he

    ReplyDelete
  11. kebayang gimana serunya 3 jagoan mba leyla hana

    ReplyDelete
  12. Bunda.. tadi saya liat ke blognya sohibul kontest.. covernya, harus disimpan diatas postingan.
    benrin lagi bunda.. mumpung masih ada wktu...

    Smoga sukses ya GA nya :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^