Sunday, 30 March 2014

Bahan Bangunan untuk Rumah Masa Kini dan Masa Depan

Keluarga kami berfoto di salah satu bagian dalam rumah

Surga dunia itu bernama rumah, sebuah tempat untuk kembali dari beraktivitas. Suamiku membelikan rumah itu sejak kami baru menikah. Tak akan pernah kulupakan suka duka membangun rumah itu dari semula berukuran tipe 21, hingga sekarang menjadi ukuran tipe 72. Kami membangunnya secara bertahap,  jika sedang ada rezeki. Entah sudah berapa kali kami menyicil untuk membangun rumah impian. Merombak besar-besaran, dan menghiasinya dengan penyejuk mata. Setelah tujuh tahun berjuang membangun rumah, kini kami sedang membuat kolam ikan kecil di depannya.


Tujuh tahun lalu, jika ingin menuruti kehendak hati, tentu akan lebih baik jika aku tetap tinggal di rumah orang tuaku yang lebih nyaman dan lengkap fasilitasnya. Akan tetapi, dengan kesadaran penuh sebagai seorang istri dari seorang lelaki yang baru satu bulan menikahiku, aku memilih untuk ikut tinggal bersama suamiku di rumahnya yang kecil dan jauh dari mewah. Suamiku baru bisa menambah tembok di belakang rumah, agar tidak ada binatang buas seperti ular dan kalajengking yang masuk ke dalam rumah, mengingat rumah-rumah di sebelah kanan dan kiri masih belum berpenghuni, dan halamannya ditumbuhi rumput dan tanaman liar.
Rumah masa kini dan masa depan kami
masih dalam pengerjaan

Rumah kecil kami sungguh jauh dari layak. Temboknya belum diplester, sehingga ditempati semut-semut hitam dan besar. Mereka bersarang di tembok batako itu. Kamar mandi sudah bobrok, atapnya sudah jebol. Laba-laba berukuran besar pernah bergantung di atapnya, membuatku tak ingin masuk ke kamar mandi meskipun sudah tak tahan. Kelabang dan kalajengking beberapa kali menampakkan diri. Dengan kata lain, nyaris setahun kami tinggal bersama dengan binatang-binatang yang membahayakan.

Kemudian, menjelang kelahiran anak pertama, suamiku mendapatkan rezeki lagi berupa bonus tahunan dan kenaikan gaji. Ia segera merenovasi lagi rumah kami dengan membangun tanah di bagian belakang menjadi dapur dan satu kamar yang lebih layak daripada kamar utama. Selanjutnya, kami tidur di kamar tambahan itu, tapi rumah utama masih berdiri. Tahun berikutnya, saat lahir anak kedua, suami berhasil mendapatkan pinjaman dari Bank untuk kembali merenovasi rumah. Akhirnya, rumah utama dirobohkan dan dibangun dengan yang baru, yang lebih kokoh dan kuat.

Suami benar-benar selektif dalam memilih bahan bangunan. Baginya, membangun rumah itu cukup sekali. Jangan sampai ke depannya nanti, rumah itu dihancurkan lagi dan dibangun yang lebih bagus lagi. Atau, terpaksa dibangun lagi karena bangunannya sudah tidak kuat.  Jadi, suami sudah merancang desainnya dengan sebaik-baiknya, dan tentu saja memilih bahan bangunan yang berkualitas, dari mulai pasir, batu bata, keramik, semen, dan lain sebagainya. Contohnya, batu bata. Dari pihak pengembang, rumah kami dibangun dengan menggunakan batako tanpa pondasi yang kuat. Tak heran, saat dirobohkan, tenaga manusia pun bisa melakukannya. Tinggal ditendang, roboh. Bayangkan bila ada gempa bumi atau angin puyuh, bisa-bisa rumah kami langsung roboh sekali terjang.

Suami menganti batako dengan batu bata merah. Aku yang menjadi saksi pemilihan bahan-bahan bangunan itu, kadang kesal sendiri karena suami bisa berputar-putar lama sekali di toko bahan bangunan demi mencari bahan bangunan yang baik, kuat, dan berkualitas. Saat membeli keramik, suami memilih keramik yang harganya cukup mahal, kuat, tidak mudah rompal, dan modelnya tidak pasaran. Akibatnya, kami kesulitan saat ingin meneruskan proses pengeramikan, ternyata keramiknya sudah tidak diproduksi sehingga kami harus mencari model yang menyerupai.  

Pengerjaan Kolam
Begitu juga dengan mencari perekat bahan bangunan rumah. Sejak pertama kali membangun, suami hanya memakai semen tiga roda. Mengapa suami setia dengan semen tiga roda sebagai salah satu material bahan bangunan?
Produk-Produk Semen Tiga Roda sebagai Bahan Bangunan
masa kini dan masa depan
Hasil pengecoran tembok menjadi lebih kuat, apalagi untuk tembok beton, fondasi, dan atap. Ada dua atap kamar yang dibeton, yaitu kamar belakang dan kamar mandi. Hal ini dikarenakan Semen Tiga Roda memiliki berbagai jenis produksi yang sesuai dengan kondisi bangunan, di antaranya: Portland Composite Cement (PCC) yang bisa digunakan untuk bangunan pada umumnya, Ordinary Portland Cement (OPC) jenis 1 untuk semua pengaplikasian beton tanpa syarat khusus, OPC jenis 2 digunakan di daerah yang mengandung kadar sulfat sedang, OPC jenis 5 untuk daerah yang mengandung kadar sulfat tinggi, Oil Well Cement untuk penyekat pada pengeboran sumur minyak, dan White Cement yang bermutu tinggi dan satu-satunya yang diproduksi di Indonesia, khusus untuk pekerjaan-pekerjaan artistektur serta struktur dekoratif.

Hasil acian tembok juga lebih halus dan tidak mudah retak. Produk acian yang terbaru adalah Acian Putih TR30 yang menghasilkan permukaan acian lebih halus, mengurangi retak dan terkelupasnya acian karena sifat plastis dengan daya rekat tinggi, cepat dan mudah dalam pengerjaan, hemat dalam pengerjaan, dan dapat digunakan pada permukaan beton dengan ditambahkan lem putih.

Semen tiga roda diproduksi dengan mengikuti Standar Nasional Indonesia, Standar Amerika, dan Standar Eropa, serta merupakan bahan material bangunan rumah yang ramah lingkungan.

Untuk rumah masa kini dan masa depan, semen tiga roda adalah perekat bahan bangunan yang tepat, karena menghasilkan bangunan yang kokoh, tembok yang halus, dan ramah lingkungan.  

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^