Wednesday, 8 January 2014

Ibu, Wanita dengan Sejuta Wajah Cinta

Ibuku dengan foto terakhir yang kupunya

Ibuku, adalah wanita yang memberikan rahimnya untuk kutempati selama sembilan bulan, sedangkan aku memberinya banyak penderitaan. Mual, muntah, pusing, tidak enak badan, tidak nafsu makan, flek-flek hitam di beberapa bagian tubuh, tidak bisa tidur, dan tidak bisa beraktivitas dengan leluasa. Tetapi dia dengan sabar menjalani kehamilannya, berbicara lembut kepadaku, dan melantunkan ayat-ayat suci Al Quran agar mendapatkan penjagaan dari Allah Swt.


Ibuku, adalah wanita yang mengorbankan nyawanya untuk melahirkanku, sedangkan aku memberinya banyak penderitaan. Rasa sakit tak terkira, penantian yang lama menunggu pembukaan sempurna, kegelisahan, ketakutan, hingga purna sudah ketika tangisanku melengking tinggi. Tetapi dia menyambut kehadiranku dengan senyum dan raut wajah bahagia seakan-akan tak pernah ada rasa sakit ketika melahirkanku.

Ibuku, adalah wanita yang memberikan air susunya yang suci dan bergizi itu selama dua tahun, sedangkan aku memberinya banyak penderitaan. Puting lecet hingga berdarah, payudara mengeras, tidak bisa bepergian terlalu lama, dan tidak bisa tidur bermalam-malam. Tetapi dia membelai kepalaku dengan lembut saat menyusuiku, mulutnya bercerita dongeng-dongengan zaman dulu seakan-akan aku sudah bisa mengerti setiap ceritanya.

Ibuku, adalah wanita yang setia mendampingi dan merawatku ketika sakit, sedangkan aku memberinya banyak penderitaan. Membuatnya tak dapat tidur, memuntahi pakaiannya, bahkan memukulinya karena emosi terhadap rasa sakitku. Tetapi dia memelukku, mengompres dahiku, memberiku obat dengan sepenuh kasih sayang, menyuapiku makan dengan sabar, dan berdoa sampai menangis demi kesembuhanku.

Ibuku, adalah wanita yang mengajariku berjalan, berbicara, makan, minum, berinteraksi dengan orang lain, salat, mengaji, dan segala hal yang bisa dia ajarkan kepadaku, sedangkan aku memberinya banyak penderitaan. Membantah perintahnya, tak menuruti kehendaknya, berpura-pura tak mendengar nasihatnya, bahkan terkadang membentaknya. Tetapi dia terus mendoakan serta membimbingku agar menjadi anak yang soleh dan berbakti.

Aku teringat malam-malam yang dilalui oleh ibuku dalam belitan benang jahit, menyelesaikan pesanan baju para pelanggan. Ibu tak kenal lelah bekerja, meski seharian telah juga mencari nafkah di kantor. Katanya, semua demi pendidikanku agar aku lulus sarjana dan menjadi calon ibu yang cerdas.

Ibu tak ingin menyerah oleh takdir ekonomi keluarga kami yang serba pas-pasan, sebab takdir bisa diubah. Keyakinan itulah yang membuatku dapat meraih gelar sarjana ekonomi. Hingga kanker merenggut nyawa Ibu, dua bulan menjelang pernikahanku. Ibu tak sempat melihat pesta pernikahanku yang dirancangnya sambil menahan sakit. Ibu tak dapat melihatku memakai baju pernikahan yang didesainnya sendiri. Ibu tak pernah melihat wajah ketiga cucu lelakinya, cucu-cucu yang amat sangat ingin ditimangnya. Ibu tak sempat menuai hasil kerja kerasnya mendidik dan membesarkanku, karena maut keburu menutup matanya. Sungguh, aku ingin mempersembahkan sesuatu untuknya, tetapi baginya cukup surga.

Kini, aku pun telah menjadi Ibu....
Kisah kasih sayang Ibu tak akan cukup kuceritakan dalam tulisan ini, sebagaimana tak cukup waktuku untuk mengenangnya. Kebaikannya melebihi luas samudera. Kesabarannya tak dibatasi oleh puncak gunung yang tinggi. Kelembutannya tak dapat diukur oleh dalamnya danau mana pun. Terima kasih, Ibu, yang sudah menyediakan seluruh hidupnya untukku sejak kau melahirkanku.

Di setiap hari ibu, aku hanya bisa memandangi secarik fotomu yang tersisa dari kenangan kita. Zaman terlalu lawas untuk mengabadikanmu dalam ratusan lembar foto. Aku hanya bisa menatap iri kepada mereka yang masih sempat berfoto berdua dengan ibunya, sedangkan engkau hanya bisa kukenang dalam ingatan. Walaupun engkau telah tiada, kehadiranmu masih dapat kurasakan dalam peristiwa penting dalam hidupku. Engkau menemaniku saat aku melahirkan cucu-cucumu, engkau menasihatiku dalam mimpiku tentang bagaimana mengasuh cucu-cucumu, engkau hadir sebagaimana saat masih ada. Kasih sayang Ibu sepanjang masa, tak lekang oleh waktu.

*Tulisan ini disertakan dalam kontes blog “Sejuta Cinta untuk Ibu” yang diadakan oleh website @perempuancom, website tentang kecantikan, kesehatan, dan gaya hidup wanita terkini www.perempuan.com

7 comments:

  1. subhanallah...... kasih sayangmu tersampaikan mba. semoga ibu diberi kelapangan kubur dan doa anak-anaknya bisa terus memberi tambahan pahala untuk beliau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. makasih, mba Sarah atas doanya :-)

      Delete

  2. walaupun ibu mbak sudah tiada, namun kasih sayangnya tetap bisa dirasakan ya...
    dan tak lupa untuk selalu megirim doa untuknya ya mbak :)
    semoga kita menjadi anak-anak yang berbakti ya mbak...

    ReplyDelete
  3. Terharu.. :'( Ibu meninggal kapan bunda.. Sama seperti saya.. malah ibu saya tdk tau putrinya ( saya ) menikah :'( Ibu kita kini sudah tenang di Surga, bunda..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah 7 tahun lalu, Mba Windi. Sama, ibuku jg ga liat pernikahanku. Aamiin..

      Delete
  4. kasih sayang ibu sungguh tulus tak meminta balas. kasih sayang anak tertulis dengan banyak balasan. semoga kita termaksud anak yang mengasihi ibunya dalam senyuman membuat ia bahagia pernah memiliki kita.

    Terharu.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^