Tuesday, 17 December 2013

Mengasuh Tiga Balita dengan Usia Berdekatan

saya dan tiga cowok ganteng

"Sebaiknya di dalam satu rumah hanya ada satu balita...."

Konon katanya itu kalimat dari kampanye KB (Keluarga Berencana). Tak bisa saya sangkal memang kalau ada tiga balita di dalam satu rumah seperti yang saya alami ini, rumah dijamin tidak lepas dari berantakan, tangisan, dan  teriakan. Ibu yang jaga rumah harus siap mental deh. Beberapa waktu lalu, saya juga pernah mendapatkan pertanyaan dari seorang bapak yang akan mendapatkan anak kedua, saat anak pertama masih bayi. Bagaimana cara mengasuh dua anak balita dengan usia berdekatan? Saya juga bukan ibu yang sempurna. Suami saya pun masih banyak kekurangannya. Tapi, kami berusaha sebaik mungkin mensyukuri kehadiran tiga anak dengan usia berdekatan, yang saya yakin ini adalah anugerah dari Allah Swt. 


Memiliki anak adalah impian semua pasangan suami istri yang menikah. Sering kali kehadiran anak telah melalui perencaan yang matang, tetapi banyak juga yang di luar rencana. Ketika anak pertama lahir, saya merencanakan memiliki anak kedua sekitar dua atau tiga tahun lagi. Untuk itulah, saya menggunakan alat kontrasepsi. Namun, takdir Tuhan berkata lain. Saya hamil lagi di saat anak pertama baru berusia tiga bulan. Alat kontrasepsi yang saya gunakan ternyata tidak cocok untuk saya. Banyak yang bertanya, bagaimana cara saya mengasuh dua anak dengan usia hanya berselang setahun? Apalagi saya tidak menggunakan pengasuh anak dan tidak dibantu oleh keluarga. Kini anak-anak sudah berusia 6 dan 5 tahun. Masih repot dong ya? Ketika mereka berusia 5 dan 4 tahun, saya melahirkan lagi anak ketiga. Sekarang usianya 1,2 tahun. Jadi, saya punya satu batita, satu balita, satu anak yang baru lepas dari usia balita :D

Saya bersyukur dapat melalui masa-masa yang melelahkan itu dengan mudah. Berikut tips-tipsnya:
  1. Memohon pertolongan kepada Allah Swt agar diberikan bimbingan dan kesabaran dalam mengasuh anak. Namanya manusia kan tidak lepas dari kesalahan, apalagi kalau sedang repot berat. Semoga saya selalu dijaga dari perbuatan tidak menyenangkan terhadap anak-anak.
  2. Ada kerjasama antara suami dan istri. Tadinya suami saya tidak begitu terampil mengasuh anak, tetapi kemudian dia belajar membantu saya dalam mengasuh anak-anak. Walaupun dia sibuk di kantor, sebelum berangkat ke kantor, dia akan menyempatkan memandikan dan menyuapi anak-anak. Kami berbagi tugas. Suami membantu urusan anak pertama, saya memegang urusan anak kedua. Kalau suami ke kantor, ya keduanya dipegang oleh saya.
  3. Mengutamakan prioritas. Prioritas saya adalah anak-anak, pekerjaan rumah tangga belakangan. Suami juga dapat mengerti bila rumah masih berantakan saat dia  pulang ke rumah, yang penting urusan anak-anak terpegang semua. Suami juga sering membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, misalnya mencuci pakaian, mencuci piring, dan mengepel. Apalagi mencuci pakaian sudah lebih mudah karena ada mesin cuci dan menggunakan detergen yang ampuh, sehingga semua ompol dan bercak makanan di pakaian anak-anak bisa bersih sempurna.
  4.  Susu formula atau ASI? Anak pertama mulai tidak suka menyusu ASI ketika bayi di dalam kandungan membesar, sehingga dia terpaksa diberikan susu formula. Namun, ketika adik bayinya lahir, ASI saya banyak lagi. Sebagian saya  peras dan masukkan ke botol susu, lalu diberikan ke anak pertama yang kurang menyusu ASI-nya. Ternyata dia tidak sadar bahwa yang saya berikan itu ASI.
  5.   Selalu memberikan pengertian kepada anak pertama, bahwa dia sudah punya adik. Sebelumnya, si sulung sering tantrum karena saya tak segera memenuhi permintaannya akibat disibukkan oleh urusan adik bayinya.  Walaupun dia sudah punya adik bayi, Ibu tetap harus memberikan perhatian kepadanya (jangan sibuk dengan adik bayinya saja). Jadi, saya sering peluk dan cium si sulung. Kalau tidur pun, saya usap-usap rambutnya meskipun dia memeluk selimut dan meminum susu botol, dia tetap merasakan sentuhan  tangan saya.  Dengan begitu, dia tahu bahwa dia masih diperhatikan dan tantrumnya pun hilang. Sudah bisa mengerti dan sabar menunggu jika meminta sesuatu.
  6.  Ibu yang harus mengasuh beberapa balita dengan umur berdekatan, pastilah capek dan stress. Suami saya sering memberikan hiburan berupa jalan-jalan sekeluarga di akhir pekan.
  7. Anak-anak adalah anugerah. Sekalipun kehadiran mereka di luar rencana, orang tua tetap harus menerima dengan suka cita dan senang hati. Belum tentu besok dikasih lagi, karena itu rahasia Tuhan. Jangan pernah tunjukkan bahwa kita tak menghendaki kehadiran mereka, karena bayi di dalam kandungan pun tetap dapat merasakannya. Berbahagialah terhadap setiap janin yang dititipkan ke dalam kandungan kita dan nikmati hari-hari menjadi Ibu dengan bahagia. 
Anak-anakku, Sayang...
Terimakasih sudah datang ke dalam hidup Mama.
Tanpa kalian, Mama tidak akan menjadi lebih baik daripada dulu

21 comments:

  1. hebat mbaaa....mengasuh mereka bersamaan memang perslu strategi khusus...saya pernah mengalami masa yang sama dan didukung penuh oleh suami, yang buat saya tak ternilai harganya...semoga berkah maaak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, waaah.. sama yaak anak-anak kita usianya berdekatan. Suami emang harus ikut memantu :D

      Delete
  2. wuihh,memang ya mbk let ini hebat benerrrrr....salut saya,udah gitu tambah nulis buku pula *prok prok prok*
    baarokalloh mbk^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, biasa aja Tante Hana heboh bener, jadi maluu :D Aamiin...

      Delete
  3. aku ngerasain bagaimana sibuk dan tressny anak yg pertama baru 22bln yg kedua msh 4bln yg pertama lg aktif2ny bermain kdng tdk bs max dlm pengawaasan kasihan sebenarny :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berdoa kepada Allah supaya anak-anak tetap dalam perlindungan-Nya walaupun kita tidak mengawasinya.

      Delete
  4. assalamu"alaikum ....eum terima kasih ya atas berbagi pengalamannya ....kebetulan saya juga anak-anaknya usianya berdekatan ...saya berbagi tugas tuh dengan kakak saya karena ayahnya anak anak sudah mreninggal....alhamdulillaah terima kasih kakak....

    ReplyDelete
  5. Terima kasih karena memberikan sharing yang sangat bermanfaat ini...

    ReplyDelete
  6. Subhanallah.... ak jg seperti mbak..anakku 2 jaraknya cuma 1th mirip anak pertama n ke2 mbak...

    Sukses mba.. semoga kita sll d beri kesehatan, kesabaran n umur panjang dlm mendidik anak2 kita. Amiin

    ReplyDelete
  7. Subhanallah.... ak jg seperti mbak..anakku 2 jaraknya cuma 1th mirip anak pertama n ke2 mbak...

    Sukses mba.. semoga kita sll d beri kesehatan, kesabaran n umur panjang dlm mendidik anak2 kita. Amiin

    ReplyDelete
  8. masyaALLOH, jarak anak saya jg berdekatan mba,semoga saya juga bisa sabar..sabar..dan sabar lagi..oh yah tantrumnya si sulung dan mulai sabar sabar menunggu jika minta sesuatu mulai kapan mba ada perubahan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tantrum hilang umur 2,5 tahun asalkan kita bersikap adil. Kalau dia menangis, langsung peluk. Jangan biarkan lama-lama.

      Delete
  9. Maa syaa' Allaah bu, salut sekali. Saya punya 3 anak batita. Jaraknya setahun semua bu. Sungguh ini berat buat saya yang tidak memiliki ART. Kadang saya jadi lebih sering marah dan emosian karena badan sudah lelah. Ibu bagaimana memanajemen emosinya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sering zikir dan istighfar. Kalau marah, menjauhkan dari anak-anak misalkan dengan masuk ke kamar dan kunci pintu. Redamkan dulu amarahnya sebelum menghadapi anak-anak lagi.

      Delete
  10. makasi banyak Mba..sharing ilmunya..jadi semangat semangsuh 2 bayi..sama persis kita mba..jarak anak pertama dan keddua 1 tahun..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 terima kasih. Semoga tetap semangat mendulang pahala.

      Delete
  11. Anak saya baru dua, jaraknya 2 tahun 7 bulan. Akhir-akhir ini saya merasa kewalahan, dan nemulah artikel ini. Semoga saya bisa terus strong! Huhu. Thanks for sharing. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. semoga selalu diberi kekuatan ya Bu.

      Delete
  12. deterjen ampuhnya merk apa mba? hihi. smangat slalu mba, trm ksh

    ReplyDelete
  13. Usia anak pertama saya skrg 26 bulan dan adiknya baru 2 bulan, terkadang saya merasa pusing dan kesal kalau si kakak rewel terus imbasnya minta gendong mbahnya padahal mbahnya sering capek. Bingung dan serba salah. Kenapa ya anak saya bawel bgt cengeng kemauannya suka berlebihan, padahal kata orgtua saya kalu anak2nya dulu gadabyg seperti anak sulung saya ini keras kepalanya minta ampun...pusing saya

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^