Thursday, 19 December 2013

Mendidik Anak Laki-Laki Agar Cekatan Membantu Pekerjaan Rumah Tangga

Sidiq mau bantu nyuci baju
"Bu, anaknya kan laki-laki semua. Berarti harus hamil lagi supaya punya anak perempuan."

Ibu itu entah ibu yang keberapa yang menyuruh saya supaya hamil lagi dan punya anak perempuan. Hemm... saya hanya tersenyum tanpa mengaminkan, karena saat ini saya memang tidak terpikir untuk memiliki anak lagi. Rencananya cukup tiga saja. Kalau beberapa tahun lagi saya berubah pikiran dan ingin punya anak lagi, ya boleh deh. 

Ketika belum punya anak, suami berkeinginan memiliki sepuluh anak laki-laki! Yak, benar, sepuluh anak laki-laki. Suami tidak mau memiliki anak perempuan karena biayanya pasti mahal. Anak perempuan itu kan suka dandan. Nanti orang tuanya harus membelikan baju, perhiasan, kosmetik, aksesoris lain, hehehe.....
Wallahu'alam, ketiga anak kami ini lelaki semua. Apakah itu berarti doa suami dikabulkan Allah Swt? Nah, makanya kalau berdoa itu dipikir dulu baik-baik. Suami saya sekarang kepingin punya anak perempuan. Berhubung dulu dia pingin punya sepuluh anak lelaki, saya khawatir dia baru bisa punya anak perempuan kalau jumlah anak laki-lakinya sudah sepuluh orang. *ngikik lagi.

Apa benar anak perempuan nanti akan membantu orang tuanya--khususnya, Ibu--dalam pekerjaan rumah tangga? Mestinya sih begitu ya. Terakhir kali, saya mendapatkan wejangan dari seorang teman mengenai perlunya memiliki anak perempuan.

"Eh, bener deh, anak laki-laki dan anak perempuan itu beda. Kakakku kan kena stroke di usia muda. Anaknya dua, laki-laki semua. Pas dia sakit itu, gak ada satu pun anaknya yang cekatan membantunya. Bawain baju ganti ke rumah sakit aja salah. Coba kalau anak perempuan kan sudah terampil. Jadi kalau masih sehat, sebaiknya kamu punya anak lagi, yang perempuan....."

Ya, itu kalau dapat anak perempuan. Kalau selama-lamanya tidak dapat anak perempuan, gimana? Contohnya ada tetangga ibu mertua. Saking pingin punya anak perempuan, dia hamil sampai sembilan kali dan semuanya laki-laki! Horeeee..... 

Sebenarnya ini hanya masalah cara mendidik. Tidak percaya? Saya pernah liburan ke Puncak bersama teman-teman kantor suami. Family Gathering, ceritanya. Pas lagi santai-santai nonton bareng, ada seorang ibu (istri teman suami) yang hendak membuat minuman untuk anak lelakinya. Anak perempuannya (sudah duduk di bangku SMP), langsung nimbrung,

"Bun, aku bikinin juga ya!" (anak perempuan itu menyuruh ibunya membuatkan minuman juga) 
"Kalau Kakak bikin sendiri aja," Bundanya menjawab. 
"Aaaah.... Bundaaaaa....."

Mendengar rengekan putrinya yang sudah remaja itu, si Bunda pun menuruti perintah putrinya. Duh, saya melihat adegan itu jadi nyessss.... Makanya sampai hari ini terbayang terus. Bukan apa-apa, kalau putrinya masih balita sih gak masalah. Lah, itu kan sudah remaja. Sudah bisa jalan kaki dan membuat minuman sendiri. Malah harusnya dia yang bikinin minuman untuk ibunya. 

Lain lagi ceritanya. Kali ini saya ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu yang punya enam orang anak, lima diantaranya PEREMPUAN. 

"Enak dong, Bu, anak perempuan semua, jadi banyak yang bantu...." kata saya.
Ibu itu tidak langsung menjawab. Dia hanya menarik napas, tersenyum sedikit, baru kemudian menjawab. "Enggak juga, Bu. Si Kakak itu malah tidur terus sampai siang. Yang  lainnya, kalau gak disuruh sama ibunya ya gak jalan juga. Anak perempuan zaman sekarang kan lain dengan zaman dulu."

Saya manggut-manggut. Wow! 

Nah, sekarang saya mau cerita tentang warung di dekat rumah. Kalau saya ke sana, lebih sering bertemu dengan anaknya yang menjaga warung. Kadang-kadang sambil menjaga warung, anak itu (masih SMP) mengangkat jemuran. Ada anak yang lain (sudah SMA) mengajak jalan-jalan adik bayinya. Kadang-kadang juga kelihatan sedang mengepel.

"Hebat ya Ibu Joko (nama disamarkan) itu. Anaknya laki-laki semua, tapi mau bantuin ibunya. Nyapu, ngepel, jaga warung...." kata seorang ibu.

"Itu mah tergantung cara didiknya aja. Anak perempuan kalau gak dididik supaya rajin bantuin ibunya juga bakalan jadi anak pemalas. Makanya saya sekarang tuh gak bedain, mau anak perempuan, mau anak laki-laki, harus bisa mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga." ibu yang lain menimpali.

Sebagai orang tua yang baru belajar, saya hanya menyerap pengalaman yang ada di sekitar saya itu. Pekerjaan rumah tangga itu bukan monopoli perempuan. Semestinya sih, baik laki-laki maupun perempuan piawai mengerjakannya karena itu memang kebutuhan sehari-hari. Kita pakai baju, ya harus mencuci sendiri. Lantai kotor, ya disapu dan dipel. Mau makan? Masak sendiri. Anak laki-laki harus bisa juga  mengerjakannya, supaya nanti dia bisa membantu ibunya. Kalau sudah menikah, dia bisa membantu istrinya. Lah, terus istrinya ngapain dong? Eit, jangan salah. Pekerjaan istri kan banyak. Dan sebenarnya pekerjaan yang utama itu adalah mengasuh anak-anak. 

Kalau kita mau belajar dari kisah hidup Nabi Muhammad Saw, beliau sering mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendirian, meskipun memiliki beberapa istri. Tapi, tidak menutup kemungkinan istri-istrinya juga membantu. Jadi, siapkah kita, para ibu yang memiliki anak laki-laki untuk mendidik anak lelaki kita agar cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga? 

  • Ajak anak-anak membereskan mainannya sendiri.
  • Ajari anak-anak untuk mandiri dimulai dari usia balita, misal: mengambil minum, makan, pakai baju, dll.
  • Ajak anak-anak untuk membantu tugas rumah tangga, seperti mencuci baju bersama-sama ibu, latihan menyapu lantai, dan pekerjaan lain  yang sifatnya ringan.
  • Setelah remaja, berikan  pembagian tugas. Misal, Kakak bertugas menyapu, Adik bertugas mengepel, dan sebagainya. Pakaian dicuci sendiri-sendiri. 
  • Bila memiliki pembantu, jangan biasakan menyuruh pembantu untuk melakukan semua pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri. Misalnya, mengambil minum. Ada lho anak-anak yang sudah berusia remaja masih menyuruh pembantunya untuk mengambilkan minum dan makan. 
  • Orang tua harus memberikan contoh. Dimulai dari ayah sebagai sosok panutan bagi anak laki-laki. Tunjukkan bahwa laki-laki juga boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Misalnya, memasak. 
  • Ibu jangan mengambil alih semua pekerjaan dengan alasan kasihan atau pingin cepat selesai.
  • Ajari anak untuk bertanggungjawab terhadap pekerjaannya.


6 comments:

  1. Baca tulisan ini, bolak-balik ngikik karna berasa diriku sekali deh, Maak :D
    Betul, sy jg sering 'disuruh' hamil lagi biar punya anak perempuan. Trus kalo yg nongol cowok lagi gimana? Hehe

    Kayaknya saya tahu deh, kenapa suaminya Mak Leyla pengen 10 anak laki. Soalnya kalo ditambah sama bapaknya, jadilah sebuah tim sepak bola *ngasal* :D

    Yup, bener banget. Punya anak perempuan blm tentu mau bantu kerjaan rumah. Contohnya anak tetangga sy yg satu2nya perempuan. Ibunya bilang, si gadis malah malas bantuin dan kerjanya tidur melulu. Justru yg rajin kakak keduanya yg laki2.

    Kalo 3 boyz anak2 sy senengnya bantu di dapur, jg ikut nyemek2 cucian sekalian main air. Kalo nyapu n beberes kurang bersih :p

    Setuju, Mak. Anak mau bantu pekerjaan rumah tergantung dari orangtuanya :)

    ReplyDelete
  2. betul mba, mau anak perempuan, mau anak laki2 kalo dari kecil tdk dibiasakan hidup mandiri, ya nantinya akan jadi pemalas :D

    ReplyDelete
  3. Suka dan Setuju mba,,, saya juga begitu. Walaupun sebenarnya baru satu sih jagoan saya, tapi saya sebisa mungkin mendidik dia untuk bisa mandiri, seperti kalau mau mandi baju kotor beresin masukin kekeranjang, minuman tumpah langsung dilap biar nanti g jatuh atau kepleset, Sebenarnya kalau dilihat2 saya ko tukang suruh banget ya kalau dirumah.

    Setuju banget mba, anak perempuan belum tentu rajin. itu mah gimana kita mendidiknya, mau jadi anak pemalas atau mau dijadikan anak yang rajin. dan itu ngedidiknya ya harus dari sekarang, dari mulai anak masih kecil. Kalau sudah besar waaahh terlambat banget, yang ada cape dimulut dan cape hati

    ReplyDelete
  4. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete
  5. Saya punya pengalaman yg sama hanya saja beda versinya 😄 waktu TK anak laki" saya tergolong sangat aktif ( sebenarnya sampai kelas 4 SD ini pun masih 😄😄 ) gurunya usul supaya diadekkan lagi biar gk terlalu aktif bilangnya .dalam hati saya iya kalau anteng ada adenya kalau sama dengan sikka aktifnya judulnyakan "saya belum beruntung "😂😂😂

    ReplyDelete
  6. Saya punya pengalaman yg sama hanya saja beda versinya 😄 waktu TK anak laki" saya tergolong sangat aktif ( sebenarnya sampai kelas 4 SD ini pun masih 😄😄 ) gurunya usul supaya diadekkan lagi biar gk terlalu aktif bilangnya .dalam hati saya iya kalau anteng ada adenya kalau sama dengan sikka aktifnya judulnyakan "saya belum beruntung "😂😂😂

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^