Monday, 16 December 2013

Berkurban, Yuuk...!

Sapi kurban Ismail dan 6 orang lainnya :-)

Bulan Oktober lalu, umat muslim merayakan hari raya Idul Adha atau Qurban. Alhamdulillah, keluarga kami bisa  ikut berkurban untuk yang kedua kalinya di lingkungan komplek perumahan. Insya Allah, kami berniat untuk rutin berkurban walaupun tidak setahun sekali. Bisa jadi dua tahun sekali atau tiga tahun sekali. Sebenarnya tahun ini pun kami tidak merencanakan berkurban, karena si bungsu baru keluar dari rumah sakit. Tak disangka, Allah menggerakkan kami untuk tetap berkurban di tengah banyaknya kebutuhan. Seorang panitia kurban menghubungi kami dan mengatakan bahwa mereka membutuhkan satu orang lagi yang mau berkurban karena biaya untuk membeli satu ekor sapi masih kurang.


Sama seperti dua tahun lalu, kami berkurban secara patungan dengan enam orang lain, membeli seekor sapi. Perhitungannya kan satu ekor kambing untuk satu orang pengkurban, satu ekor sapi bisa unuk tujuh orang pengkurban. Tahun ini, kurban kami mengatasnamakan Ismail, si sulung, berhubung ayah dan  ibunya sudah pernah berkurban di tahun sebelumnya. Jika masih diberi kesempatan, di tahun-tahun berikutnya akan bergantian mengatasnamakan anak-anak yang lain, lalu kembali lagi ke ayah dan ibunya. Begitu terus sampai anak-anak dewasa dan bisa berkurban sendiri. Aamiin….

Ismail menatap sapi kurbannya
Kami ingin mengikuti jejak bapak mertua yang setiap tahun berkurban. Ada ataupun tidak ada dana, harus diusahakan. Mungkin cara ini bisa diikuti. Tahun pertama berkurban, suami ikut arisan kurban di komplek, satu bulan Rp 100.000. Jadi, pada saatnya kurban, jumlah yang terkumpul Rp 1.200.000. Tergantung harga sapinya  pada saat itu. Kalau harganya naik, kami tinggal menambahi sisanya. Kalau ikut arisan biasa saja kita bisa, mengapa ikut arisan kurban tidak bisa? Kami ingin menanamkan semangat berkurban kepada anak-anak. Setelah salat Idul Adha, suami mengajak anak-anak melihat sapi mereka yang akan dipotong. Suami mengatakan kepada Ismail, kalau sapi itu atas nama dia. Dagingnya akan dibagi-bagikan kepada warga yang membutuhkan. Ibadah Qurban sendiri bermula dari mimpi Nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya, Ismail (yang namanya saya pakai untuk nama si sulung), tetapi Allah mengganti Ismail dengan seekor domba sebagai pertanda bahwa umat Islam disunahkan berkurban dengan menggunakan binatang ternak (domba, sapi, kerbau).  

Ritual ini mengajarkan beberapa hal kepada anak-anak:

Pentingnya berkurban dengan harta yang dicintai untuk memperoleh cinta Allah Swt.
Ketika kita mencintai seseorang, ada kecenderungan untuk berkurban. Begitu juga kalau kita mengaku mencintai Allah. Harta yang kita miliki sesungguhnya milik Allah, lalu mengapa kita tidak mau mengurbankan sebagian kecil milik-Nya, di jalan-Nya? Berkurban dengan harta yang dicintai adalah wujud cinta kepada Allah Swt. Jika dilandasi oleh cinta, maka kelak anak-anak akan mudah menaati perintah dan menjauhi larangan Allah dengan mudah.

Mengajarkan semangat berbagi kepada orang lain.
Walaupun ibadah kurban itu diniatkan untuk Allah, dagingnya tetap akan kembali kepada kita dan orang-orang di sekitar kita. Sebagian dari daging kurban, diberikan lagi kepada si pengkurban untuk dinikmati bersama keluarga. Sebagian lainnya dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Anak-anak belajar berbagi tanpa merasa harus berat hati. Menghilangkan sifat pelit di dalam diri masing-masing. Memberikan pengertian bahwasanya di dalam harta kita ada sebagian milik orang lain.
Sidiq dan Salim ikut nonton

Memberikan pendidikan agama tentang asal usul ibadah kurban.
Suami saya menjelaskan kepada Ismail sejarah kurban, sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Dari situ, Ismail menyerap pelajaran mengenai agamanya. Kelak dia akan memahami asal usul ritual agama yang dilakukannya, tak sekadar ikut-ikutan. Orang tua seharusnya memang menjadi guru pertama bagi anak-anak dalam mengajarkan pendidikan agama (dan apa pun). Tak perlu susah-susah, cukup dalam praktek keseharian.

Semoga semangat berkurban ini dapat tertanam di dalam jiwa anak-anak saya. Aamiin…. 

7 comments:

  1. Ide bagus Mak. Bisa juga ya arisan kurban. ​​-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ ™ tulisannya mencerahkan :)

    ReplyDelete
  2. aku ikut jg mba,,arisan qurban,,ma temen2 kantorku,,

    ReplyDelete
  3. Arisan kurban bisa jadi solusi bagi yang ingin berkurban (y) ...

    ReplyDelete
  4. Wah enak bgt kl ada arisan qurban yq mbak, ga berasa tau2 udh siap aja dananya. Mo ngusulin ide ini ahh ke emak2 kompleks... Thanks for sharing :-)

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah ya masih bisa berkurban, Mak ^^

    Idenya oke punya itu, Mak. Jadinya, pas waktu berkurban udah tinggal menghitung kekurangannya saja :)

    ReplyDelete
  6. Skrg semakin banyaknya ya, org2 yg ingin berkurban dgn cara arisan qurban. Cara yg mudah jika ingin berqurban :D

    ReplyDelete
  7. Arisan qurban itu juga sudah banyak yg ikut di tempatku mbak :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^