Wednesday, 18 December 2013

Bahagia Menjadi Ibu

Anak-anak, anugerah yang luar biasa besarnya

“Sebenarnya aku capek ngurus anak. Stress fisik dan mental. Apa boleh buat, karena ini pilihanku sendiri ya harus tetap dijalani.”

Kalimat di atas adalah status BBM seorang teman yang sepertinya sedang lelah menjalani profesinya sebagai ibu. Saya memakluminya, karena pernah berada pada titik itu. Memiliki anak-anak adalah anugerah, tetapi mereka juga perlu dihadapi dengan bekal yang cukup. Dari sejak hamil, melahirkan, bahkan sampai dewasa, anak-anak memberikan “pekerjaan” besar kepada para orang tua. Tidak ada seorang pun yang serta merta menjadi orang tua sempurna. Semua melalui proses belajar, dan gurunya adalah anak-anak.


Anak-anak mengajari para orang tua untuk bersabar melalui tingkah mereka. Menangis semalaman yang tidak diketahui penyebabnya, ditanya pun tak bisa karena dia masih bayi usia sebulan. Muntah dalam jumlah banyak setelah disusui, lagi-lagi penyebabnya baru diketahui belakangan. Sakit pilek yang tidak sembuh-sembuh, walaupun sudah dibawa ke dokter dan diminumkan obat. Belum lagi ketika sudah memasuki fase berjalan, meniru, berbicara, bersaing memperebutkan sesuatu, tidak mau sekolah, membantah, berbohong, dan lain sebagainya.

Para ibu yang menghadapi anak-anaknya selama dua puluh empat jam penuh, terkadang merasakan kejenuhan, kelelahan, dan ingin keluar dari tekanan itu. Saya sudah mempelajari perbedaan antara ibu bekerja dan ibu di rumah. Ibu bekerja jarang mengeluhkan perilaku anak-anaknya karena mereka tidak menghadapinya seharian. Pekerjaan lain juga memberikan semacam penyegaran dan kepuasan berupa materi dan aktualisasi. Sedangkan ibu di rumah lebih sering mengeluhkan perilaku anak-anaknya, karena sepanjang hari berkutat dengan anak-anak, bosan, jenuh, serta mengalami tekanan psikis.

Ciuman anak itu membahagikan
Seorang wanita yang memilih menjadi ibu di rumah, kadang-kadang juga mengalami tekanan mental dari orang-orang di sekitarnya. Misalnya saja dari  orang tua yang sudah menyekolahkannya tinggi-tinggi. Sudah disekolahkan tinggi-tinggi, kok “hanya” di rumah saja. Apa gunanya gelar sarjana yang dimilikinya? Atau dari pandangan masyarakat, bahwa ibu di rumah tidak memiliki penghasilan sendiri, bergantung kepada suami, kurang wawasan, tidak “mentereng”, dan sebagainya.

Sebenarnya, ibu bekerja pun memiliki tekanan mental antara ingin tetap bekerja atau fokus mengasuh anak-anak. Saya pernah mendapatkan curhatan dari seorang teman yang bekerja dan merasa jauh dari anak-anaknya. Dia ingin melepaskan pekerjaannya, tetapi tidak bisa karena itu bentuk tanggungjawabnya kepada orang tua yang telah menyekolahkannya. Suami pun tak mendukungnya untuk melepaskan pekerjaan.

Selamat datang di dunia para ibu! Dunia penuh tantangan dan rintangan. Dunia para ibu ini begitu kompleks. Ibu-ibu sering kali menanggapi perbedaan dalam mengasuh anak secara frontal dan agresif. Melahirkan secara normal atau ceasar? Vaksinasi atau tidak? MPASI Instan atau alami? ASI atau susu formula? Ibu bekerja atau di rumah? Dan lain sebagainya. Sindir menyindir antara para ibu (tentang pengasuhan anak) tak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di sosial media. Masing-masing menginginkan pihak lain mengikutinya, tetapi yang ada adalah perdebatan tak berujung.

Saya termasuk ibu yang bingung ketika baru memasuki dunia ibu. Banyak “kesalahan” yang saya perbuat, tetapi apakah kesalahan itu harus dihakimi sementara pelakunya belum memiliki pengetahuan yang memadai? Yup, sebab menjadi ibu adalah proses belajar. Saya belajar untuk memperbaiki kesalahan. Belajar berbahagia menjadi ibu, diantaranya dengan:

Mensyukuri anugerah sebagai ibu, karena tak semua wanita bisa mendapatkannya dengan mudah.
Anak-anak adalah berkah yang luar biasa dari Allah Swt. Tak sekali saya bertemu dengan wanita yang sulit mendapatkan anak. Pertemuan itu menyadarkan saya bahwa anak-anak adalah pemberian Tuhan yang tidak diberikan kepada semua wanita. Meskipun seseorang sudah berusaha sedemikian rupa untuk mendapatkan anak, bila Tuhan belum menghendaki maka anak yang diinginkan tak juga hadir. Proses hamil dan melahirkan itu sendiri adalah proses yang menakjubkan. Merasakan gerak janin di dalam perut, dan menunggu detik-detik melahirkan yang menegangkan dan tentu saja sakit. Dari situ saya menyadari bahwa sosok seorang ibu adalah sosok yang luar biasa. Pantas saja jika seorang anak manusia diwajibkan mendahulukan berbakti kepada ibunya, tiga kali lebih banyak daripada kepada bapaknya.

Ganjaran menjadi ibu adalah surga, bagi siapa pun yang percaya. Setiap usaha seorang ibu dalam merawat anak-anaknya, akan mendapatkan pahala yang berlimpah dari Tuhan. Berhubung saya mempercayai hal-hal spiritual semacam itu, maka saya meyakini bahwa tugas menjadi ibu adalah jihad, pekerjaan di jalan Tuhan yang balasannya lebih besar daripada semua harta yang ada di dunia ini. Ibu adalah pemelihara generasi. Bagaimana jika tak ada seorang ibu pun yang mendedikasikan dirinya untuk merawat anak manusia? Tentu akan terlantarlah bayi-bayi yang ada di muka bumi ini. Bersyukurlah menjadi ibu, karena pekerjaan itu adalah pekerjaan yang paling mulia di antara semua pekerjaan lain.

Memperbanyak pengetahuan dalam mengasuh anak.
Pekerjaan mengasuh anak itu bukan pekerjaan sepele. Ada banyak hal yang perlu kita pelajari agar anak-anak tumbuh sehat secara fisik dan mental. Sejak hamil, saya sudah membaca buku-buku tentang kehamilan, kelahiran, dan pengasuhan anak. Tetap saja ada yang kurang. Saya juga menambah wawasan dengan membaca majalah-majalah dan tabloid pengasuhan anak, diantaranya Tabloid Nakita. Pertemuan bersejarah dengan Tabloid Nakita dimulai ketika saya masih lajang. Saya bekerja di sebuah perpustakaan milik komunitas penulis yang namanya sudah tersohor. Suatu ketika, salah seorang reporter Nakita, Mas Irfan Hasuki, membuat janji untuk meliput perpustakaan tersebut. Saya menjadi salah satu narasumber yang turut memberikan keterangan mengenai kegiatan perpustakaan, berkaitan dengan profesi saya yang penulis sekaligus pustakawan.  
Masuk Rubrik Buah Hati di Tabloid Nakita 3 Maret 2009

Setelah melahirkan anak kedua, saya kembali bertemu dengan Mas Irfan Hasuki dan hendak mewawancarai saya dalam rubrik Buah Hati. Wow, saya surprised sekali. Itu pertama kalinya saya diwawancarai oleh media berkenaan dengan profesi menulis dan ibu rumah tangga yang saya tekuni. Membaca Tabloid Nakita memberikan banyak wawasan dalam hal pengasuhan, pendidikan, dan kesehatan anak-anak. Selain bisa dibaca dalam bentuk cetak, Tabloid Nakita juga bisa dibaca dalam bentuk digital. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi para ibu untuk menambah wawasan dalam mengasuh anak.

Menulis untuk berbagi dengan sesama ibu dan mengembangkan potensi diri.
Menjadi ibu yang di rumah bukan berarti tidak bisa berbagi dengan sesama. Syukurlah saya sudah suka menulis sejak remaja, bahkan sudah menerbitkan belasan buku. Menulis adalah terapi mujarab untuk mengobati kejenuhan, kelelahan, stress, dan lain sebagainya. Tidak ada alasan untuk tidak menulis. Kalaupun belum sempat membuka laptop karena kesibukan mengasuh anak, saya menulis di ponsel. Saya pernah membukukan pengalaman menjadi ibu muda dalam buku berjudul “Catatan Hati Ibu Bahagia.” Rasanya tak habis cerita pengalaman sehari-hari menjadi ibu yang ingin saya bagikan kepada ibu-ibu lainnya. Proses menerbitkan buku tak secepat menulis di blog. Maka, saya membuat blog khusus untuk menuliskan pengalaman itu, yaitu blog ini. Judul blognya sama dengan judul buku saya itu.

Mengapa judulnya “Catatan Hati Ibu Bahagia”? Sebab, saya ingin selalu berbahagia menjadi ibu. Dan berharap para pembaca juga ikut berbahagia, menikmati peran sebagai ibu yang sungguh luar biasa. Karir yang belum tentu didapatkan oleh wanita lain. Tujuan penulisannya tak hanya untuk berbagi seputar pengasuhan anak, tetapi juga menjadi sarana dokumentasi keseharian bersama anak-anak. Saya membayangkan seandainya dulu ibu saya menulis di blog tentang saya, pasti sekarang saya bahagia sekali membaca catatan-catatannya. Mengembalikan memori saya ke masa kanak-kanak. Demikian pula yang saya harapkan dari blog ini, kelak dapat dibaca oleh anak-anak setelah dewasa. Semoga mereka bangga memiliki ibu yang telah mendokumentasikan keseharian mereka.

Bergaul dengan komunitas yang mencerahkan.
Bertemu dengan sesama ibu rumah tangga
Kita juga membutuhkan dukungan dari rekan seprofesi, sesama ibu yang berdedikasi untuk anak-anaknya. Ibu-ibu berkelompok untuk saling memberikan kekuatan, motivasi, dan dukungan. Walaupun tak jarang juga berselisih paham, tetapi itu bagian dari proses pendewasaan. Yap, bergaul dengan ibu-ibu di sekitar komplek maupun ibu-ibu di sosial media cukup membantu memulihkan kepercayaan diri. Tentunya, dalam bergaul pun kita harus memilih teman yang memotivasi, bukan justru menjatuhkan kepercayaan diri kita. Fasilitas internet yang diberikan oleh suami, saya manfaatkan untuk menambah teman sebanyak-banyaknya. Saya bergabung di grup Ibu Rumah Tangga dan Ibu Muda Kreatif di Facebook. Belakangan ini, untuk mendukung aktivitas ngeblog, saya bergabung di grup Kumpulan Emak-Emak Blogger. Semangat dan inspirasi pun bisa didapatkan setiap hari. Semangat untuk menjadi ibu yang berbahagia.

Setidaknya itulah kunci untuk berbahagia menjadi ibu yang sudah saya terapkan. Ibu-ibu lain pasti juga memiliki kunci sendiri. Yuk, mari berbahagia menjadi ibu karena anak-anak adalah anugerah yang paling indah yang pernah diberikan Tuhan kepada kita. 

4 comments:

  1. makasih mbk pencerahannya,kadang saya heran juga sm mbk ley...jagoan banyak dan masih kecil2 tapi tulisan dimana2,buku bertebran dimana2,salutttt banget bagi waktunya...makannya kalo saya ngeluh masalah sepeleee aja suami langsung ngingetin,bersyukur, dinikmati,dibuat santai,jangan jadi beban...gitu mesti kata2nya hehe...

    makasih ya mbk^^

    ReplyDelete
  2. aku belum married tapi setuju banget sama postingan ini ^^
    "menjadi ibu adalah jihad, pekerjaan di jalan Tuhan yang balasannya lebih besar daripada semua harta yang ada di dunia ini"
    #thepowerofmom :)

    ReplyDelete
  3. Memang hebat ibu yang satu ini :)
    Semoga Mak Leyla terus sukses dalam berkarya dan menginspirasi ^_^

    ReplyDelete
  4. Kasian amat temen Mbak Leyla di atas :(. Apalagi kalau anaknya baru satu, tapi udah mengeluh, tambah lucu deh :P.

    Anak adalah anugerah. Merawat dan mendidik anak bukanlah kerepotan, tapi sebuah perjuangan yang mendewasakan. -Hanna Wilbur, 16 Juli 2013-

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^