Wednesday, 27 November 2013

Kenangan Manis di Kota Solo


Solo: The Spirit of Java.
Sumber foto: www.kabaresolo.com

Bagi saya, Kota Solo adalah kota yang tak terlupakan. Bagaimana tidak, saya lahir di kota itu. Sebagian besar keluarga dari pihak ibu, tinggal di Solo, tepatnya Karanganyar. Semasa kecil, setiap liburan sekolah, kami pasti pulang ke Solo, mengunjungi Mbah Kakung, Mbah Putri, Pakde, Bude, dan saudara-saudara lainnya. Di dalam memori masa kecil saya, masih teringat jelas butir-butir padi yang menguning terhampar di depan rumah Pakde. Dinginnya air pegunungan, berkebalikan dengan panas matahari yang mencekat bila siang tiba.


Ibu saya adalah orang Solo yang hijrah ke Jakarta untuk bekerja, lalu menikah dengan bapak saya yang asli Jakarta dan kemudian mereka tinggal di Jakarta. Sebagai anak pertama, saya dilahirkan di Solo karena ibu saya ingin melahirkan ditemani orang tuanya. Tidak lama setelah dilahirkan, mereka kembali ke Jakarta. Otomatis, saya tidak bisa berbahasa Jawa. Entah mengapa ibu saya tidak mau mengajarkan, tapi kalau berbicara dengan sesama orang Solo ya tetap pakai Bahasa Jawa.

Kami pulang ke Solo setiap liburan sekolah atau bila ada hajatan atau musibah kematian. Saya ingat bagaimana macetnya perjalanan ke Solo, terutama di jalur Pantura pada libur lebaran. Namun, kemacetan itu kini saya rindukan. Sejak Mbah Putri meninggal, yang disusul kemudian oleh Mbah  Kakung, dan akhirnya ibu saya pun meninggal, kami sudah tidak pernah lagi ke Solo. Rindunya luar biasa, tetapi belum juga ada kesempatan ke sana.

Jembatan Bengawan Solo, kalau sudah melewati ini berarti
sudah masuk Solo. Sumber gambar: Wikimedia
Dalam perjalanan ke Solo, saya selalu diingatkan akan jembatan Bengawan Solo, jembatan yang berdiri di atas aliran sungai Bengawan Solo. Kita pasti ingat dong lagi Bengawan Solo yang diciptakan  oleh Gesang. Lagu itu begitu melegenda, bahkan saya pernah mendengar versi Cina-nya di sebuah film Taiwan. Aduh, saat itu saya tersentuh sekali. Bagaimana tidak, lagu klasik Indonesia dinyanyikan oleh orang luar negeri?

Kalau sudah lupa bagaimana liriknya, ini dia:

Bengawan Solo… riwayatmu kini…
Sedari dulu… jadi perhatian insani…
Musim kemarau… tak seberapa airmu…
Di musim hujan air…  meluap sampai jauh…
Mata airmu dari Solo… Terkurung gunung seribu….
Kaum pedagang selalu… naik itu perahu….

Nah, itu lirik dalam versi aslinya. Kalau mau mendengarkan versi Cina-nya, klik video di bawah ini, yang menjadi soundtrack film "The Sun Also Rises." Duh, bikin hati nyeees mendengarnya. Jadi makin kangen ke Solo.




Setiap liburan, sepupu-sepupu saya akan mengajak jalan-jalan ke Waduk yang letaknya dekat dengan rumah Pakde. Ah, saya lupa nama waduknya, karena di Karanganyar itu ada banyak waduk yang berfungsi untuk mengairi sawah-sawah di sekitarnya. Sukar dilukiskan betapa indah pemandangan alamnya. Dari rumah Bude, saya bisa melihat Gunung Lawu. Gunung ini mengingkatkan saya akan Drama Kolosal “Mak Lampir.” Konon, Mak Lampir itu berasal dari Gunung Lawu. Kalau tengah malam, Mbah Kakung sering memutar drama radio Mak Lampir (sebelum drama itu masuk ke televisi). Jadi, yang terekam di benak saya, di Gunung Lawu itu ada Mak Lampirnya.

Solo Itu Indah, Asri, dan Nyaman
Rumah keluarga besar saya di Solo ada di Kota Karanganyar. Dulu, kota ini relatif sepi walaupun jalanannya mulus. Di belakang rumah Mbah Kakung ada terminal bus, jadi kalau mau pulang ke Jakarta ya tinggal jalan ke belakang.  Rumah Mbah Kakung juga ramai oleh pendatang yang ingin salat di Langgar (musala kecil) di depan rumah. Debu-debu selalu masuk mengotori lantai rumah karena rumah berada di sisi jalan raya.

Seingat saya, Kota Solo sejak dulu memang sudah indah, asri, dan nyaman. Jalanannya bersih, kendaraan tidak banyak berlalu lalang, pedagang kaki lima di trotoar pun tak ada. Tak heran bila Kota Solo masuk ke dalam 77 besar kontes New Seven Wonders City. Bayangkan, Solo akan bersaing dengan Jakarta, Jepang, Paris, Doha, dan kota-kota keren lainnya di dunia. Sudah tentu ini prestasi yang menakjubkan, mengingat kota itu kurang disebut-sebut, kecuali setelah popularitas Jokowi. Di Indonesia ini kan yang sering disebut-sebut itu Jakarta, Bali, Bandung, dan Yogya. Padahal, Kota Solo juga menyimpan keindahan yang harus ditunjukkan kepada dunia.

Solo Itu Kaya Obyek Wisata               
 Obyek wisata di kota Solo yang pernah saya kunjungi adalah Tawang Mangu, tempat air terjun yang mempesona. Saya masih ingat jalan mendaki berupa anak-anak tangga yang harus dituruni demi mencapai air terjun di Tawang Mangu. Pulangnya ya harus mendaki. Dulu ada fotonya, tapi sekarang sudah hilang entah ke mana.

Air Terjun Tawang Mangu
Saya juga pernah sekali saja ke Pasar Klewer, pusat perdagangan Batik di Kota Solo. Saya belum mengerti benar, karena ibu saya yang berbelanja baju batik itu. Hampir mirip dengan Pasar Beringharjo di Malioboro (kalau ini saya masih ingat kondisinya karena baru sekitar lima tahun lalu ke Yogyakarta). Banyak baju-baju batik khas Solo yang dijajakan. Jadi, Indonesia ini hampir setiap daerahnya memiliki batik, tapi berlainan corak. Untuk Jawa Tengah, ada batik Pekalongan, Solo, Yogya, dan sebagainya. Saya bukan pakar batik, jadi tidak bisa membedakan corak-corak tersebut.  

Dan jangan lupakan Keraton Solo, keraton yang dijadikan Kasunanan Surakarta. Saya juga hanya numpang lewat di sini. Sampai sekarang bangunannya masih dipertahankan keasliannya, serta berfungsi sebagai tempat tinggal Sunan dan rumah tangga istana. Selain itu juga digunakan sebagai museum, obyek wisata budaya, serta diadakannya upacara-upacara adat seperti: Grebeg, Sekaten, Kirab Mubeng Beteng, dan Pusaka (Heirloom).
Keraton Surakarta

Solo Itu Kaya Kuliner            
Brem Solo
Kalau ke Solo, saya tak akan melewatkan memakan kue brem asli Solo yang berbeda dengan brem Madiun. Brem Madiun kan warnanya kuning, kalau brem Solo ini warnanya putih. Rasanya lebih manis dan lembut, lumer di mulut. Setiap akan pulang ke Jakarta, Mbah Putri pasti mengoleh-olehi brem ini. Saya pernah merasa kangen sekali dengan brem ini. Susahnya mendapatkan brem Solo kalau tidak ke Solo. Syukurlah, sekarang di Jakarta pun bisa mendapatkannya di toko oleh-oleh khas Solo.

Ampyang

Selain itu, ada juga Ampyang dan Intip Solo. Kedua makanan ini juga masuk ke dalam tas oleh-oleh dari Mbah Putri. Saya ingat betul Mbah Putri akan ke pasar di belakang rumah dengan berjalan kaki, lalu berbelanja oleh-oleh tersebut. Beberapa kali saya juga ikut ke pasar yang dekat dari rumah itu dan masih tercetak jelas di dalam ingatan.

Apakah hanya itu makanan khas Solo yang saya sukai? Ya, tidak. Bubur sumsum juga sangat familiar di lidah saya. Untungnya yang ini mudah membuatnya, meskipun rasanya tak selalu sama dengan aslinya. Orang Solo sangat suka makanan manis, jadi makanan di sana yang manis-manis. Setiap pagi dan sore selalu disuguhi teh manis yang sangat manis. Seakan-akan teh manis itu sudah menjadi minuman wajib. Saya hapal sekali rutinitas ini. Sewaktu saya berkunjung ke rumah saudara di Yogya (yang aslinya dari Solo), rutinitas ini masih berlangsung. Padahal, saya sudah jarang minum teh manis, kecuali kalau sedang makan di restoran (soalnya teh manis itu paling murah harganya).

Menuliskan ini membuat saya ingin ke Solo lagi. Kota itu begitu mempesona, seperti berada di masa lampau dengan jalanan yang bebas hambatan dan bangunan-bangunan tua yang masih bertahan. Seandainya dulu saya sudah memiliki kamera handphone, tentu setiap sudutnya akan saya abadikan.  Kini, hanya tulisan ini yang bisa saya tuliskan sambil menunggu adanya kesempatan berkunjung ke Solo.

Catatan:
Informasi tentang 77 Seven Wonders bisa dibaca di sini.
Informasi tentang Keraton Solo bisa dibaca di sini.



10 comments:

  1. Solo...saya juga punya banyak kenangan manis dengan kota ini mba...walaupun baru pertama,,,karena ke Solo waktu itu dalam rangka ASEAN Blogger Festival Indonesia...seruuu dan hebooh :D...TFS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wwah, asik tuh kalo diceritain juga, Mba Indah, biar saya tahu kabar terakhir dari Solo :-)

      Delete
  2. kalo denger dan menyanyikan lagu bengawan solo, merinding.... terbawa arus suasana, padahal saya belum pernah ke solo dan belum pernah lihat bengawan solo :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, memang lagunya itu menyentuh banget.

      Delete
  3. Saya pernah tinggal di Solo, Mak. Aseli betah banget n berat mau pindah :'(
    Waktu ke Tawangmangu bawa rombongan keluarga, ponakan sy ngitung ada 80-an anak tangga. Entah hitungannya bener apa enggak, yg jelas kaki sy langsung sakit2 besoknya krna naik tangga sambil gendong anak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu ceritanya ttg Solo, Mak Inna. Wah, sampe 80 anak tangga ya hehe

      Delete
  4. aduh, jadi kepengen bubur sumsum :D aku belum pernah ke solo, mudah2an ada kesempatan berkunjung ke sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. klo bubur sumsumnya bisa dibuat sendiri Mak :-)

      Delete
  5. nenek moyangku juga orang Solo mbak.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^