Thursday, 3 October 2013

Kuingin Selalu Menyebutmu "Cinta"


“Mamah dan Ayah jatuh cinta, terus jadi keluar bayi…..”

Saya menoleh mendengar Ismail bercerita seperti itu kepada neneknya. Maiiiil…. Ngapain juga ngomong gitu ke Nenek??? Tadinya, Ismail (6 tahun), saya suruh telepon neneknya. Dari ngobrol-ngobrol yang masih wajar, tiba-tiba saja dia ngomong begitu ke neneknya. Namanya juga anak-anak, kalau ngomong  suka lompat-lompat. Tapi, kalau cerita “Mamah dan Ayah jatuh cinta, terus jadi keluar bayi” itu rasanya… seperti bukan sesuatu yang bagus buat diomongin, wkwkwkwk….


Eh, gimana itu kok Ismail bisa tahu kalau dua orang yang jatuh cinta bisa keluar bayi? Gara-garanya dulu itu pas saya hamil anak ketiga, Ismail suka tanya-tanya, gimana kok bisa ada bayi di dalam perut saya? Kan saya memang ngasih tau ke Ismail dan Sidiq, kalau di perut saya lagi ada bayi. Tapi saya gak ngasih tau lho kalo itu akibat “saling cinta” ayah dan mamahnya. Sumpah! Mungkin Ismail tahu dari teve. Pernah juga dia baca-baca buku kehamilan yang saya miliki, di dalamnya ada banyak gambar tentang ibu hamil dan bayi. 

Entahlah. Saya juga surprised

(tiba-tiba blank….)

Saya teringat kisah cinta Ahmad Dhani dan Maia yang berujung pada perceraian, di usia 10 tahun pernikahan. Lalu, kini, anak ketiga mereka harus mengalami kecelakaan karena ngebut, bawa mobil di bawah umur, nganterin pulang pacarnya pada dini hari. Potret anak broken home kah? Bukan maksud saya untuk ikut menghakimi. Yang terpikirkan malah bagaimana perasaan Dhani dan Maia ketika berada di dalam kamar perawatan Dul, bahu membahu mendampingi anak mereka, buah cinta mereka? Tak adakah selintasan perasaan yang mungkin muncul sebagai sisa cinta masa lalu?

Ah….

Apakah perasaan cinta itu bisa begitu mudah datang dan pergi, meski telah hadir tiga buah cinta yang tampan? Ketiga anak saya juga laki-laki, dan masih teringat proses pembuatan mereka, tentunya berdasarkan cinta yang dalam #halah. Maia dan Dhani bercerai setelah 10 tahun menikah, dan di usia pernikahan yang kesepuluh juga, Mbak Uniek Kaswarganti mengadakan giveaway untuk merayakan anniversary-nya. Sedangkan usia pernikahan saya dan suami baru mau 8 tahun. Masih unyu-unyu, bahkan belum masuk usia remaja. 

Me and Hubby (gak mau kalah sama Mba Uniek :D)
Namun, di usia pernikahan yang nyaris 8 tahun itu, saya juga pernah merasakan perasaan asing kepada suami. Tentunya pada saat bertengkar. Apa saja bisa menjadi pemicu pertengkaran. Bahkan saya pernah membatin, “tumben nih gak berantem, kok kayak ada yang hilang kalau damai melulu….” Hehehe… gak lama, ada sedikit masalah yang membuat kami diam-diaman selama 3 hari. Hadoh! Kapok deh ngebatin begitu lagi. Enaknya damai terus, karena kalau lagi ada masalah itu rasanya gak enak. Walaupun setelah baikan, rasanya seperti baru mulai nikah. 

Kalau saya tidak meminta maaf duluan (walaupun dia yang salah), bisa dipastikan kami gak akan pernah baikan. Maka, setiap bermasalah, saya harus menyediakan hati seluas samudera untuk mendekatinya lebih dulu dan berpura-pura seakan-akan tidak ada masalah. Well, gak enak juga hidup serumah tanpa bertegur sapa. Kalau berantem ya bisa gak tegur sapa berhari-hari, seperti orang yang gak pernah kenal saja. 

Mungkin begitu juga yang dirasakan oleh Dhani dan Maia ketika Maia menggugat cerai dan kemudian Dhani mengabulkan. Mungkin tak ada lagi yang mau menyediakan hati seluas samudera untuk meminta maaf dan memaafkan. Mungkin Maia tak mau lagi menjadi pihak yang mengalah dan Dhani gengsi menunjukkan perasaan cintanya. Atau mungkin mereka tak mampu lagi menangkap sinyal-sinyal perasaan butuh dari pasangan masing-masing. 

Sinyal itulah yang harus bisa ditangkap. Walaupun suami saya tidak meminta maaf, saya tahu dia masih menyediakan hatinya untuk saya tempati. Seperti ketika dia menunggui saya yang terbaring di rumah sakit, atau ketika dia memberikan HP Android sebagai hadiah tiba-tiba, dan yang paling gres, terakhir kali kami bertengkar, dia meletakkan laptop baru di atas meja komputer sebagai hadiah untuk saya.
Indahnya didampingi suami di rumah sakit

Tak ada kata yang terucap, tidak pula ucapan maaf. Semua tindakannya itu saya tangkap sebagai caranya berbaikan. Kami pun masih saling cinta, tapi untuk keluar bayi lagi, hohoho……  

Dalam setiap perselisihan, saya selalu mendapatkan pelajaran baru tentang suami saya. Bagaimana saya harus bersikap ke depannya. Bahkan, kemarahan besar, acap kali terjadi karena suami sedang naik kadar kolesterolnya. Itu yang membuat saya menyesal telah memancing kemarahan. Pernah juga karena dia sedang sangat sibuk, lalu saya membanjirinya dengan keluhan-keluhan. Menikah itu tidak mudah. Membutuhkan sikap yang matang dan dewasa untuk bisa mengarungi bahteranya sampai akhir.

Menahan omongan: di awal menikah, saya lebih sering ceplas-ceplos sehingga tampak seperti orang ngomel saat menyampaikan sesuatu. Sekarang, saya berusaha ngomong dengan baik-baik dan kalau gak penting banget untuk diomongin ya gak usah diomongin. 

Mengatur omongan: cara ngomong pun harus diatur supaya gak terkesan marah-marah. Maksudnya mau menegur, sebisa mungkin (walaupun emosi), pakai gaya bercanda. 

Memahami: sebelum ngomong, lihat dulu kondisi pasangan, apakah lagi capek, pusing, banyak kerjaan. Paling enak ngomong blak-blakan kalau pasangan lagi hepi, terbuka pikirannya, selesai makan enak, hehehe….. 

Mengintrospeksi: kalau lagi santai, saya dan suami saling introspeksi diri. Suami suka nanya, “apa yang saya inginkan dari dia?” Saya juga suka cerita kalo saya gak suka suami ngomong bla bla bla…. Dari situ, kami saling memperbaiki diri. 

Dan rupanya, suami saya juga belajar untuk memperbaiki diri setiap kali ada perselisihan. Terakhir kali, akhirnya dia meminta maaf. Yap, dia meminta maaf karena gak sempat juga ngeposin paket-paket pesanan buku dari teman-teman setelah dua minggu menginap di kantornya, hehehe…..

Alhamdulillah ya Allah, Kaukaruniakan aku seorang suami yang baik dan bertanggungjawab. Masih panjang jalan yang harus kami lalui, maka tak henti ku memohon agar Kau bimbing kami melalui jalan pernikahan ini. 

Untuk suamiku, kuingin selalu menyebutmu "Cinta"  agar anak-anak bisa terus bercerita tentang kita dengan bahagia.
 
Terimakasih, suamiku, telah melengkapi hidupku
Dan untuk Mbak Uniek Kaswarganti di usia 10 tahun pernikahannya, semoga pernikahannya selalu dalam keberkahan Allah Swt, setiap ujian dapat dilewati dengan mulus, dan semakin mendekatkan hubungan suami-istri. Anak-anak pun bahagia.

Kisah Pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary  by Heart of Mine


21 comments:

  1. Selau kagum sama tulisan mbak Leyla :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, jadi ge-er sayah, mba :-D

      Delete
  2. he he,,iya mba,,setuju ama 4 tips nya,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mba, semoga bisa mempengaruhi penilaian juri :D

      Delete
  3. terharu bacanya....
    barokumullah..... semoga samara senantiasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, mba Sarah pasti punya banyak cerita romantis sama suaminya :D

      Delete
  4. ahahahaaa...yg kulihat koq langsung yg ini ya : gak mau kalah sama mb Uniek :D I like your style bund ;)
    terima kasih utk partisipasinya bunda Leyla, good luck ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihihihi... iya dunk... gak mau kalah..
      aamiin :D

      Delete
  5. Hahaha... jadi ngakak juga nih baca obrolan Ismail dg neneknya... :D
    Kok tiba2 dia ngomong spt itu, ya? Maksudku... sama neneknya sebelumnya ngobrol soal apa kok jadinya berbelok bahas itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Obrolan sebelumnya gak nyambung, tiba2 aja ganti tema :D

      Delete
  6. Sedaappp... habis berantem dapat hadiah hehehe
    Moga2 gak keseringan berantem hanya agar dapat hadiah ya? hahaha
    BTW gudlak tuk kontesnya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. iya sih :*
      aamiin, makasih mba reni :D

      Delete
  7. Perasaan asing itu memang terasa kalo lagi ribut, sampai kapan pun :)
    Btw moga menang ya mbak ...

    ReplyDelete
  8. Heuheu.. pingin juga dapet hadiah kaya gituu... Bener banget mak, api ketemu api ya kebakaran, salah satu harus minta maaf untuk terus mempertahankan hubungan :)

    ReplyDelete
  9. so sweeetttt.....baarakallah mbk ^^

    ReplyDelete
  10. semoga bahagia selaluuuuu...mbaaa...sampai kakek nenek ...dan nular ke kita semuaaa...Mail jagoan juga yaaa, ceplas ceplos sekali :D...dan saya setuju dengan 4 tips...saya masih berjuang juga mba, menyesuaikan diri dan rajin-rajin ingat untuk lebih toleran dan put myself on his shoes...cheers et good luck yooo...

    ReplyDelete
  11. ih trenyuh baca ini. jadi makin kangen ama suamiku tercintahhhh.... pengen nyusul ke nizwa. tapi jalan2 doang trus balik ke depok lagi. hehehe

    ReplyDelete
  12. huah abis berantem dkasih laptop.. so sweeeeett :D

    ReplyDelete
  13. Aaa...manisnyaa :)
    Semoga menang ya, Mbak ^_^

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^