Sunday, 29 September 2013

Terima Kasih, Ma....


“Ma, dulu Mama juga ada di dalam perut Nenek, bersama Ayah?”
“Ya enggak, dong. Dulu Mama ada di perut nenek yang lain.”
“Nenek yang mana lagi?”
“Neneknya udah meninggal.”
“Meninggal itu apa? Terus, sekarang neneknya ada di mana?”
“Meninggal itu…. Ehmmm…. Mati. Sekarang ada di dalam kubur.”
“Mati kenapa? Kubur itu apa?”


Aku tak langsung bisa menjawab pertanyaan Ismail. Dengarlah itu, Ma. Cucu pertamamu sudah bisa menanyakan keberadaanmu. Dia belum pernah melihatmu sejak dilahirkan. Tak ada seorang cucu pun yang pernah melihatmu, karena kau memang meninggal dua bulan sebelum aku menikah. Sampai hari ini aku berharap kau masih ada. Melihatku mengasuh ketiga cucu laki-laki yang kaudambakan. Ya, bukankah kau dulu sangat menginginkan anak laki-laki? Lihatlah, sekarang ketiga cucumu ini laki-laki semua. 

Ini ketiga cucu lelakimu, Ma....
Di usia 42 tahun, kau mengandung lagi, anak keempat. Kau tak ingin memeriksakan jenis kelamin adikku itu karena tak mau mendengar vonis dokter bila disebutkan bayinya perempuan. Kau sangat berharap mendapatkan bayi laki-laki. Ketiga anakmu perempuan semua. Saat itu usiaku 17 tahun, sudah duduk di bangku kelas 3 SMA, dan aku akan mendapatkan adik bayi! 

Perempuan lagi.
Ternyata, adik bayiku itu terlahir sebagai perempuan. Kucari raut kecewa di wajahmu, dan tak ada. Kau tetap mensyukuri kelahiran putri keempatmu, bahkan cenderung memanjakannya. Lihatlah sekarang, Ma, anak keempatmu itu sudah duduk di bangku kelas 1 SMA. Dia sudah besar. Kau sempat mengkhawatirkannya dulu, kan? Ketika kanker lidah itu menyerangmu, kautitipkan Echa kepadaku. Echa, adik bungsuku, yang dulu baru berusia 5 tahun. 

Aku bisa memahamimu, Ma. Betapa sedihnya kau saat memikirkan tak akan bisa merawat Echa yang masih balita. Kanker lidah itu menggerogotimu dengan ganas selama dua tahun. Dua tahun, Ma! Aku tak sanggup membayangkan betapa menderitanya engkau menahan rasa sakit. Penyakit itu menggerogoti tubuhmu hingga kurus kering.

Maafkan aku, Ma, karena aku meminta Tuhan agar mencabut nyawamu saja daripada melihatmu kesakitan. Aku tak tahu apakah masih ada harapan sembuh untukmu. Aku sudah berdoa untuk kesembuhanmu, tetapi keajaiban itu tidak datang juga. Tak sanggup aku melihatmu kesakitan terus menerus, dan bahkan kau meminta agar mati saja. Jika kematian itu adalah yang terbaik bagimu, maka aku ikhlas, Ma. Walau aku mencintaimu dan ingin melihatmu tetap bersamaku, tetapi jika Tuhan menghendaki kau bersama-Nya, aku ikhlas. 

Keikhlasan itu kembali diuji ketika aku mengandung dan melahirkan cucu pertamaku.  Aku sangat ingin kau ada di sisiku, sampai aku memimpikanmu. Rasanya begitu nyata melihatmu ada di hadapanku. Kau berpesan segala hal tentang kehamilan dan melahirkan. Dan ketika aku melahirkan, kubayangkan penderitaanmu dulu saat melahirkanku. Sesakit itukah rasanya, Ma? Maafkan aku yang pernah membantah dan tak mendengarkan ucapanmu. Aku ingat dulu pernah menutup telinga saat kau mengomeliku panjang lebar karena kenakalanku. 

Aku sering bertanya, “Ma, kenapa kau pergi begitu cepat?”  Seandainya kau masih ada, kau pasti bahagia sekali melihat ketiga cucumu. Kau juga akan memiliki cucu keempat yang sedang dikandung Irma, anakmu yang kedua. Menurut hasil USG, cucu keempatmu itu juga laki-laki! Wow! Lihat, Ma… kau memang memiliki empat anak perempuan, tapi keempat cucumu itu laki-laki!

Sebentar lagi, Tria, anak ketigamu akan menikah. Lagi-lagi tanpa pendampinganmu. Tapi, jangan khawatir, Ma. Alhamdulillah, Allah selalu memberikan kemudahan bagi keluarga kita, walaupun kau tiada. Semua lelaki yang datang melamar anak-anakmu adalah laki-laki yang baik. Mereka tahu kondisi keluarga kita sepeninggalmu. Keluarga besar mereka membantu penuh dalam urusan pernikahan,  walaupun dalam adat kita, pihak perempuan yang menjadi pemangku hajat.   Biaya pernikahan, nyaris 100 persen ditanggung pihak laki-laki. Kami hanya mengurus acaranya saja. 

(berhenti sejenak karena gak sanggup nahan tangis)
(ternyata berhentinya lama juga. Gak  tau mau nulis apa lagi).
(ke kamar mandi dulu deh. Ngilangin air mata dulu).

Sudah tujuh tahun kau meninggalkan kami. Rasanya seperti kau masih ada di sini. Aku meminta anak-anakku memanggilku, “Mama,” dan bukan Ummi, Bunda, Ibu, semata karena mengikutimu dan agar selalu ingat kepadamu. Kau akan selalu menjadi inspirasiku, Ma. Kau dengan semangat kerja kerasmu demi agar anak-anakmu menjadi sarjana. Terima kasih atas perjuanganmu membesarkan kami. Kutahu itu tak mudah, Ma. Dengan semua kesabaranmu, yang saking sabarnya, tak kuingat kau pernah memukulku. Terima kasih, Ma. Aku yakin kau sudah tenang di sisi Allah swt. 

satu-satunya foto Mama yang tersimpan di laptopku


2 comments:

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^