Monday, 1 April 2013

Anak Aktif dan Mandiri dengan Empat Formula Tepat

Saking aktifnya, bisa naik tembok tinggi

Ranjang tempat tidur kami bergerak naik turun karena Sidiq melompat-lompat di atasnya. Dengan penuh semangat, dia melompat-lompat sambil bercerita. Energinya seakan tak habis meski sudah seharian bermain. Kalaupun sudah habis, dia akan mengisinya kembali dengan segelas susu atau makanan. Senang sih punya anak yang aktif, tapi memang cukup menguras tenaga mamanya. Bayangkan saja, kalau mau dipakaikan baju, aku mesti mengejar-ngejarnya dulu yang selalu berkelit dipakaikan baju. Oh, ternyata dia mau memakai baju sendiri.


Ahmad Sidiq Aghniya, putra keduaku adalah anak aktif dan mandiri. Di usianya yang keempat ini, dia sudah bisa melakukan beberapa hal sendiri. Semuanya sungguh tak terduga. Sering aku dibuat terperangah oleh kemandiriannya.


Bisa Pakai Baju Sendiri
Di usia 2 tahun, Sidiq sudah menunjukkan kemampuan memakai baju sendiri. Mulanya dia memilih sendiri baju yang ingin dikenakannya.   Hmm… awalnya aku terganggu dengan hobinya ini, karena dia akan mengacak-acak lemari baju. Iya, aku sampai pusing dibuatnya. Beberapa kali kontainer empat susun yang dijadikan tempat menyimpan pakaian anak-anak, kupindahkan posisinya. Antara kamar yang satu dengan kamar yang lain, tetap saja Sidiq akan mengacak-acak baju yang ada di dalamnya. Dia akan memilih baju kesukaannya, bergambarkan karakter kartun favoritnya. Misalnya saja, baju bergambar Spongebob, Angry Bird, dan Kereta Thomas. Saat membeli baju pun, dia akan memilih sendiri. Agak was-was juga mengajaknya ke Swalayan, karena dia bisa rewel kalau menginginkan barang, termasuk pakaian.

“Dede aja yang pake bajunya!” teriaknya, saat aku hendak memakaikannya baju. Mula-mula dia memakai celana. Kalau celananya pendek, dia bisa cepat memakainya. Kalau celana panjang, dia agak kesulitan dan minta bantuanku. Saking percayanya aku kepadanya, sering sekali saat sedang berjalan-jalan, orang-orang memperhatikan Sidiq. “Itu pakai bajunya terbalik, ya?” tanya mereka, sambil tertawa. Aku baru sadar, ya ampuun… ternyata bajunya terbalik dan aku tak memperhatikan! Tapi, tak apa-apa. Namanya juga baru belajar.

Nah, kalau pakai baju bagian atas, Sidiq agak kesulitan sehingga masih butuh bantuanku. Kalau bajunya kaus, dia sering salah masuk lubang untuk tangan dan kepala. Sekarang dia sudah bisa, yang masih agak sulit memakai baju berkancing. Biasanya dia kurang sabar mengancingkan seluruh kancingnya sehingga masih butuh bantuanku. Aku terbantu dengan kemandiriannya memakai baju sendiri, meski kadang-kadang dia masih ingin dipakaikan. Wajarlah, anak-anak masih ingin dimanja. Buatku tak masalah sesekali memakaikan bajunya untuk menunjukkan bahwa aku masih peduli kepadanya. Lebih seringnya dia bisa pakai baju sendiri, terutama yang atasnya kaus dan bawahnya celana pendek.

Bisa Mandi Sendiri
Sejak bayi, agaknya Sidiq sudah menyukai air. Dia tak menangis saat dimandikan, sampai kukira dia sakit karena jarang menangis. Biasanya bayi kan sesekali menangis saat pertama kali dimasukkan ke dalam air atau terlalu lama di dalam air, tapi Sidiq tidak. Semakin besar, semakin terlihat bahwa dia suka main air. Itulah yang membuatnya suka mandi sendiri. Baru jam dua siang, dia sudah masuk ke bak mandi, katanya mau mandi. Kubiarkan saja dia main air, kusuruh mengusapkan sabun ke tubuhnya, dan dia menurut. Memang sih jadi boros sabun, soalnya dia bukan hanya memandikan dirinya sendiri, tapi juga semua mainannya.  Kalau mandi, Sidiq memang membawa beberapa mainannya untuk ikut dimandikan, hehehe…..

Mandi sendiri

Bisa Makan Sendiri
Nah, yang satu ini juga tidak kuajarkan, tapi sepertinya Sidiq belajar dari apa yang dia lihat sehari-hari.  Sejak umur setahun, dia sudah ingin makan sendiri. Memang belepotan, tapi Sidiq tak bisa dilarang-larang. Bukannya itu bagus, ya? Jadi aku tak repot mesti menyuapinya terus. Apalagi setelah aku punya anak ketiga yang sekarang berumur 6 bulan, semakin terbantulah aku dengan kemandiriannya. Sidiq sudah bisa mengambil makan sendiri, kalau tempatnya terjangkau, lalu makan sendiri.

Makan sendiri

Bisa Bikin Susu Sendiri
Punya tiga anak dengan rentang usia berdekatan (5 tahun, 4 tahun, dan 6 bukan), tanpa asisten rumah tangga, sungguh membuatku sangat lelah. Saking lelahnya, aku sering membiarkan anak-anak bermain sendiri, dan tertidur bersama bayi. Kaget, waktu tahu Sidiq bikin susu sendiri karena aku tak bisa dibangunkan. Susu yang pertama kali dibuatnya hanya menggunakan air dingin, karena Sidiq sudah tahu bahwa tombol merah di dispenser itu untuk air panas. Sidiq pernah terkena air panas saat mencoba mengambil minum dengan menekan tombol merah (untungnya tidak terluka parah dan langsung kuoleskan obat untuk luka bakar, sehingga tak menimbulkan bekas), jadi dia tak mau lagi menekan tombol merah. Setelah kuajarkan cara membuat susu yang benar, dia sudah bisa menekan tombol merah tanpa terkena percikan air panas, lalu membuat susu dengan komposisi air yang pas (panas dan dingin jadi hangat).

Yah, kadang-kadang dia masih ingin dibuatkan, tapi sering lho dia maunya bikin susu sendiri.

“Sini Mah, Dede aja yang nuang susunya…” katanya, merebut toples berisi susu, lalu menuang sendiri susunya ke dalam gelas. Susunya sudah tentu banyak yang tumpah ke lantai, tapi lama-lama bisa juga tidak tumpah. Namanya juga belajar, wajar kalau di awalnya banyak salah.

Bisa ke Toilet Sendiri
Sejak bayi, Sidiq jarang dipakaikan diapers, untuk penghematan. Maklum, punya dua anak yang hanya berselisih umur setahun, dengan kondisi keuangan yang masih mepet, jadi aku memilih untuk tidak bergantung pada diapers. Ternyata hal itu sangat positif untuk Sidiq, lho. Dia jarang mengompol di malam hari dan mudah diajari buang air kecil di toilet. Dia tahu sinyal-sinyal akan buang air kecil atau besar, dan memberitahukannya kepadaku. Memang sih ada juga saat-saat di mana dia baru bilang mau pipis kalau sudah pipis.  Sekarang adik bayinya juga jarang kupakaikan diapers, supaya nanti lebih mudah diajari buang air kecil dan besarnya.

Mula-mula, dia akan berlari ke toilet saat merasa akan pipis dan pipis di celana. Sebenarnya dia mau membuka celananya, tapi tak sempat saking sudah kebelet. Dia memang suka menunda pipis dan baru berlari ke toilet kalau sudah tak tahan. Sekarang, dia sudah lebih disiplin. Membuka celana dulu, baru pipis. Lega rasanya anak-anakku sudah tak ada yang mengompol sembarangan, jadi aku tak perlu mengepel-ngepel lantai. Sidiq juga sudah bisa menyiram pipisnya, meski masih harus kusiram lagi supaya tak bau pesing.

Bisa Membereskan mainan sendiri
Urusan mainan anak-anak ini bisa bikin pusing kalau anak-anak tak diajarkan membereskan mainannya sendiri. Dulu sewaktu masih ada asisten rumah tangga, sering kudengar keluhannya saat sedang membereskan mainan anak-anak yang bertebaran di mana-mana. Untuk urusan membereskan mainan ini, kami (aku dan suamiku) benar-benar harus ekstra mengingatkan anak-anak, karena mereka masih suka tidak mau membereskan mainannya. Paling tidak, sekarang kalau disuruh membereskan mainannya sendiri, mereka sudah mau melakukannya. Pekerjaanku kan jadi berkurang lagi.

Membereskan mainan bersama kakaknya


Agar anak aktif dan mandiri, aku punya empat formula tepat:

  1. ASI (Air Susu Ibu). ASI memiliki kandungan DHA tinggi yang dipercaya dapat meningkatkan kecerdasan anak. DHA dan ARA adalah asam lemak yang sangat penting untuk perkembangan otak dan ketajaman penglihatan. Otak akan tumbuh secara maksimal pada 3 bulan terakhir bayi di dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Pada periode tersebut, bayi sangat membutuhkan DHA dan ARA untuk perkembangan otaknya, yang didapatkan dari ASI. Maka benarlah bila seorang ibu dianjurkan untuk memberikan ASI kepada anaknya sampai usia 2 tahun. Akan tetapi, untuk dapat menghasilkan ASI dengan kandungan DHA dan ARA yang tinggi, seorang ibu harus mengkonsumsi makanan yang mengandung DHA dan ARA, diantaranya ikan laut, minyak ikan, susu, telur, dan daging-dagingan. Sidiq mendapatkan ASI Eksklusif 6 bulan, dan dilanjutkan sampai 2 tahun lebih. Selama menyusui, aku memakan makanan yang disebutkan di atas, karena memang aku menyukainya. Aku bisa melihat betapa cepatnya Sidiq menirukan perbuatan orang di sekitarnya, sehingga dia mudah diajari. Bahkan tanpa diajari pun, dia bisa melakukannya dengan melihat. Misalnya saja saat belajar memakai baju sendiri, makan sendiri, dan bikin susu sendiri.
  2. Makanan Bergizi. Untuk urusan makanan anak-anak, aku tak mau seadanya. Di masa pertumbuhan, mereka harus mendapatkan asupan gizi yang cukup. Untunglah Sidiq tidak sulit makan, bahkan suka ngemil. Aku bisa memberikan makanan apa saja yang bergizi, terutama yang memiliki kandungan DHA tinggi sebagai makanan untuk otaknya, seperti ikan dan telur.
  3. Stimulasi. Stimulasi orang tua berpengaruh besar terhadap kemandirian anak. Kini kusadari mengapa kita tak boleh sembarangan melarang anak, sebab kalimat larangan itu bisa menciutkan nyali anak untuk melakukan sesuatu. Akibatnya, anak-anak akan bergantung terus kepada orang tuanya, terutama ibunya. Kalimat larangan sebaiknya hanya untuk aktivitas yang berbahaya seperti bermain api, bermain di tempat-tempat berbahaya, dan lain-lain. Mengapa ada anak yang sudah besar, tapi masih disuapi makannya? Itu karena  orang tua tidak mau makanan berceceran, sehingga anak-anak tidak diajari makan sendiri sejak kecil. Jujur saja, aku juga pernah terjebak pada pemikiran itu. Pernah melarang Sidiq makan sendiri karena khawatir lantainya kotor. Untunglah karakter Sidiq cukup kuat, sehingga bersikeras mau makan sendiri, yang ternyata itu baik untuk kemandiriannya. Jadi, orang tua mesti memberikan stimulasi yang tepat untuk mendorong kemandirian anak. Tak mengapalah sekarang makanan berceceran, lemari baju berantakan, susu bertebaran, namanya juga proses belajar, tentu butuh pengorbanan. Agar kelak anak bisa mandiri dan tidak bergantung terus kepada orang tua.
  4. Suplemen Makanan. Terkadang makanan yang kita masak kehilangan beberapa zat gizi penting dalam proses memasak, atau makanan itu memang tak memiliki kandungan gizi yang penting. Untuk itu, pemberian suplemen makanan juga dianjurkan, misalnya saja Vitamin Seven Seas yang memiliki kandungan DHA tinggi, karena dibuat dari minyak hati ikan Kod di Perairan Atlantik yang bebas pencemaran. Vitamin Seven Seas memiliki kandungan DHA sebanyak 224 mg/ 10 ml. Juga mengandung Omega 3 untuk pertumbuhan otak, Vitamin A untuk mencegah infeksi dan kesehatan mata, dan vitamin D yang membantu penyerapan kalsium dan fosfor.

Bahagia rasanya melihat anakku aktif dan mandiri. 

Vitamin Seven Seas

1 comment:

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^